Selasa, 13 Agustus 2019

Sesaji Rajasuya



Kisah ini menceritakan tentang upacara Sesaji Rajasuya yang diadakan oleh para Pandawa, serta kematian Prabu Jarasanda, musuh bebuyutan Prabu Kresna.

Kisah ini saya olah dari sumber kitab Mahabhrata jilid Sabhaparwa, yang dipadukan dengan buku tuntunan pedalangan lakon Sesaji Rajasuya karya Ki Sarwanto, dengan perubahan seperlunya.

Kediri, 13 Agustus 2019

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, silakan klik di sini

Prabu Jarasanda.
------------------------------ ooo ------------------------------

ADANYA BERITA TENTANG PENANGKAPAN PARA RAJA

Di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa dihadap Raden Setyaka, Arya Setyaki, dan Patih Udawa. Dalam pertemuan itu hadir pula sang kakak, yaitu Prabu Baladewa dari Kerajaan Mandura bersama Patih Pragota dan Arya Prabawa.

Prabu Baladewa datang membawa kabar bahwa kedua paman, yaitu Prabu Bismaka raja Kumbina dan Prabu Setyajit raja Lesanpura telah ditangkap oleh dua orang raja dari tanah seberang, bernama Prabu Hamsa dan Prabu Dimbaka. Prabu Baladewa mendapat berita ini dari laporan Raden Rukmaka (putra Prabu Bismaka) yang juga meminta bantuan untuk membebaskan mereka berdua. Prabu Baladewa berangkat mengejar, tetapi ia kehilangan jejak dan terpaksa berbelok menuju Kerajaan Dwarawati untuk merundingkan masalah ini dengan Prabu Kresna.

Arya Setyaki terkejut mendengar berita bahwa ayahnya (Prabu Setyajit) telah ditangkap orang tak dikenal. Ia pun mohon izin kepada Prabu Kresna untuk mengejar kedua musuh bernama Prabu Hamsa dan Prabu Dimbaka tersebut. Prabu Kresna melarang Arya Setyaki berangkat karena ia mendapat firasat bahwa sebentar lagi kedua musuh itu akan datang menyerang Kerajaan Dwarawati.

Prabu Baladewa bertanya siapa sebenarnya dua raja itu dan mengapa mereka menangkap Prabu Bismaka dan Prabu Setyajit? Prabu Kresna mengatakan bahwa kedua raja itu hanyalah suruhan belaka. Saat ini ada dua orang raja lain yang hendak mengadakan upacara agung, yaitu Prabu Puntadewa yang berniat mengadakan Sesaji Rajasuya, serta Prabu Jarasanda yang hendak mengadakan Sesaji Kalalodra. Bedanya, Sesaji Rajasuya harus dihadiri paling sedikit seratus orang raja, sedangkan Sesaji Kalalodra harus menyembelih seratus orang raja sebagai kurban.

Prabu Jarasanda adalah raja Kerajaan Magada yang beribukota di Giribajra. Menurut penerawangan Prabu Kresna, saat ini Prabu Jarasanda telah menyekap 97 orang raja, termasuk Prabu Bismaka dan Prabu Setyajit. Untuk menggenapi seratus, Prabu Jarasanda berniat menangkap Prabu Baladewa, Prabu Kresna, dan Prabu Puntadewa. Adapun dua raja bernama Prabu Hamsa dan Prabu Dimbaka adalah bawahan Prabu Jarasanda yang ditugaskan untuk menangkapi para raja calon kurban.

Prabu Baladewa terkejut dirinya menjadi sasaran. Prabu Kresna menjelaskan bahwa Prabu Jarasanda menyimpan dendam kepada keluarga Mandura. Prabu Jarasanda adalah menantu Prabu Gorawangsa raja Guargra, yaitu raja raksasa yang pernah menyamar sebagai Prabu Basudewa (ayah Prabu Baladewa dan Prabu Kresna) dan menghamili Dewi Mahira. Dari hubungan tersebut lahir Prabu Kangsa yang bersahabat dengan Prabu Jarasanda. Ketika dulu Prabu Kangsa tewas dibunuh Prabu Kresna dan Prabu Baladewa semasa muda, hal ini tentu saja membuat Prabu Jarasanda sakit hati. Itu sebabnya Prabu Jarasanda ingin menjadikan Prabu Kresna dan Prabu Baladewa sebagai kurban sesaji, serta digenapi pula dengan Prabu Puntadewa. Adapun dendam kepada para Pandawa adalah karena mereka putra Prabu Pandu, yang mana Prabu Pandu dulu pernah mengalahkan Prabu Jarasanda di masa muda.

Prabu Baladewa lega mendengar bahwa Prabu Hamsa dan Prabu Dimbaka selaku utusan Prabu Jarasanda akan datang untuk menangkap dirinya. Itu artinya ia tidak perlu susah payah mencari mereka berdua. Prabu Kresna justru menyerahkan masalah ini kepada Prabu Baladewa karena dirinya akan berangkat menuju Kerajaan Amarta, membantu para Pandawa mempersiapkan Sesaji Rajasuya. Apabila Prabu Hamsa dan Prabu Dimbaka bisa dikalahkan, maka Prabu Baladewa diminta untuk segera menyusul ke Kerajaan Amarta.

Prabu Baladewa heran dirinya datang untuk merundingkan masalah ini bersama Prabu Kresna, tapi sekarang justru hendak ditinggal pergi ke Kerajaan Amarta. Namun, ia paham watak adiknya sehingga tidak perlu berdebat lagi. Prabu Kresna pun membubarkan pertemuan, dan ia memerintahkan Arya Setyaki serta Patih Udawa untuk membantu Prabu Baladewa menghadapi musuh.

PRABU BALADEWA MENUMPAS PRABU HAMSA DAN PRABU DIMBAKA

Prabu Baladewa mempersiapkan pasukan Dwarawati dan Mandura. Sesuai dugaan Prabu Kresna, ternyata benar pasukan Magada datang menyerang di bawah pimpinan Prabu Hamsa dan Prabu Dimbaka. Kedua raja ini datang untuk menangkap Prabu Kresna.

Namun, Prabu Baladewa sudah bersiaga didampingi Arya Setyaki dan Patih Udawa. Pertempuran sengit pun terjadi. Prabu Hamsa dan Prabu Dimbaka ternyata sulit dibunuh. Apabila Prabu Hamsa mati, maka ia akan hidup kembali setelah mayatnya dilangkahi oleh Prabu Dimbaka. Sebaliknya, Prabu Dimbaka apabila mati juga hidup kembali setelah mayatnya dilangkahi Prabu Hamsa.

Prabu Baladewa tidak kekurangan akal. Ia pun menghunus dua pusaka sekaligus, yaitu Nanggala di tangan kanan dan Alugora di tangan kiri. Kedua pusaka ini masing-masing dihantamkan ke kepala Prabu Hamsa dan Prabu Dimbaka yang menyerang bersama-sama. Kedua raja itu pun tewas untuk selamanya.

PRABU KRESNA MENINJAU PERSIAPAN SESAJI RAJASUYA

Sementara itu, Prabu Kresna telah tiba di Kerajaan Amarta, disambut Prabu Puntadewa dan para Pandawa lainnya. Setelah saling bertanya kabar, Prabu Kresna pun menanyakan bagaimana persiapan Sesaji Rajasuya. Prabu Puntadewa balik bertanya, apa saja yang harus disediakan para Pandawa dalam mengadakan upacara tersebut.

Prabu Kresna menjelaskan bahwa Sesaji Rajasuya adalah upacara yang dilakukan oleh seorang raja dalam rangka mensyukuri berkah atas negaranya yang telah berdiri. Dalam hal ini, Prabu Puntadewa sangat berhak mengadakan upacara tersebut, karena ia menjadi raja atas usahanya sendiri membuka negara Amarta mulai dari awal. Adapun raja lainnya seperti Prabu Baladewa dan Prabu Duryudana tidak bisa mengadakan Sesaji Rajasuya karena mereka menjadi raja karena warisan dari orang tua. Sementara itu, Prabu Kresna yang menjadi raja setelah mengalahkan Prabu Yudakala Kresna juga tidak bisa mengadakan upacara ini karena Kerajaan Dwarawati sudah lebih dulu ada dan tinggal meneruskan saja.

Syarat lainnya adalah, Sesaji Rajasuya harus dipimpin oleh tujuh orang brahmana agung berilmu tinggi, serta disaksikan paling sedikit seratus orang raja dari berbagai negeri. Selain itu, Prabu Puntadewa harus menghilangkan nyawa seorang raja angkara murka. Prabu Puntadewa menyimak dengan seksama. Untuk syarat yang pertama ia telah mengutus para putra Pandawa untuk menjemput para brahmana agung, terutama Bagawan Abyasa dan Resiwara Bisma. Adapun syarat terakhir yang membuat Prabu Puntadewa agak keberatan. Menurutnya, upacara Sesaji Rajasuya lebih baik dibatalkan daripada harus mengorbankan nyawa orang lain.

Prabu Kresna pun bercerita bahwa saat ini Prabu Jarasanda raja Magada telah menyekap 97 orang raja untuk ia sembelih dalam upacara Sesaji Kalalodra. Namun, upacara tersebut tidak bisa diadakan apabila jumlah raja yang dikumpulkan belum mencapai angka seratus. Rencananya, tiga raja yang akan digunakan sebagai penutup adalah Prabu Baladewa, Prabu Kresna, dan Prabu Puntadewa.

Prabu Puntadewa tidak takut apabila dirinya ditangkap dan disembelih Prabu Jarasanda. Namun, yang ia khawatirkan adalah nasib 97 orang raja yang saat ini menjadi tawanan. Bagaimanapun juga mereka harus dibebaskan. Prabu Kresna menjelaskan bahwa paman mereka, yaitu Prabu Bismaka dan Prabu Setyajit termasuk yang berada dalam tawanan tersebut. Arya Wrekodara dan Raden Arjuna marah mendengarnya. Mereka pun memohon izin kepada Prabu Puntadewa untuk membunuh Prabu Jarasanda dan membebaskan semua raja yang saat ini ditawan.

Prabu Puntadewa menimbang-nimbang. Akhirnya, ia pun setuju membunuh Prabu Jarasanda demi untuk membebaskan 97 orang raja yang menjadi tawanan. Namun, ia memerintahkan Arya Wrekodara dan Raden Arjuna agar membunuh Prabu Jarasanda saja, tidak perlu menumpahkan darah orang lain. Mereka lalu bertanya kepada Prabu Kresna bagaimana cara yang harus ditempuh. Prabu Kresna berkata bahwa Prabu Jarasanda meskipun kejam dan bengis, namun ia sangat alim dalam beragama dan menghormati kaum pendeta. Oleh sebab itu, Prabu Kresna mengajak Arya Wrekodara dan Raden Arjuna untuk menyamar sebagai pendeta saat mendatangi Kerajaan Magada nanti.

Setelah dirasa cukup, Prabu Kresna, Arya Wrekodara, Raden Arjuna pun mohon pamit berangkat. Prabu Puntadewa merestui kedua adiknya, dan meminta Prabu Kresna untuk melindungi mereka.         

RADEN ABIMANYU MENGHADAP BAGAWAN ABYASA

Sementara itu di Gunung Saptaarga, Raden Abimanyu disertai para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong menghadap sang kakek buyut, yaitu Bagawan Abyasa. Kedatangannya ialah untuk menjalankan perintah Prabu Puntadewa memohon bantuan memimpin upacara Sesaji Rajasuya. Bagawan Abyasa menyatakan bersedia dan mereka lalu berangkat bersama-sama.

Di tengah perjalanan, Raden Abimanyu dan rombongannya berpapasan dengan para raksasa pengikut Prabu Hamsa dan Prabu Dimbaka yang kocar-kacir setelah raja mereka tewas. Para raksasa itu pun menyerang Raden Abimanyu sebagai pelampiasan. Raden Abimanyu dengan tangkas menghadapi mereka semua. Satu persatu raksasa pun berguguran. Namun demikian, jumlah raksasa yang menyerangnya terlalu banyak.

Pada saat itulah muncul Arya Gatutkaca bersama Resiwara Bisma di tempat itu. Arya Gatutkaca segera membantu Raden Abimanyu menumpas habis semua raksasa tersebut tanpa sisa.

Resiwara Bisma yang melihat Bagawan Abyasa segera menghampirinya adiknya tersebut (ayah Resiwara Bisma semasa hidupnya menikah dengan ibu Bagawan Abyasa). Kedua brahmana tua itu pun berpelukan karena lama tidak bertemu. Arya Gatutkaca ditugasi pergi ke Padepokan Talkanda untuk menjemput Resiwara Bisma agar membantu pelaksanaan upacara Sesaji Rajasuya. Resiwara Bisma bersedia, namun ia merasa ilmu Bagawan Abyasa lebih tinggi daripada dirinya, maka ia menyatakan hanya bertindak sebagai pembantu saja. Bagawan Abyasa menyebut Resiwara Bisma terlalu merendahkan diri. Mereka saling tertawa dan kemudian berangkat melanjutkan perjalanan.

MENYUSUP MASUK KE DALAM KOTA GIRIBAJRA

Giribajra adalah ibu kota Kerajaan Magada. Kota tersebut memiliki nama demikian karena terlindung oleh Gunung Cetiyaka. Di puncak gunung terdapat sebuah genderang (tambur) yang bisa berbunyi sendiri apabila ada orang asing datang. Untuk itu, Prabu Kresna pun memerintahkan Raden Arjuna agar menghancurkan genderang tersebut.

Raden Arjuna melaksanakan perintah. Sebelum tambur itu berbunyi, ia lebih dulu melepaskan panah menuju ke puncak Gunung Cetiyaka. Anak panah itu melesat dan menghancurkan genderang tersebut, musnah tanpa sisa.

Arya Wrekodara bertanya mengapa ada genderang yang bisa berbunyi sendiri. Prabu Kresna pun bercerita bahwa raja Magada terdahulu bernama Prabu Wrehadrata. Meskipun memiliki dua istri, namun tidak ada seorang pun yang memberinya keturunan. Prabu Wrehadrata semakin tua dan pergi bertapa, memohon kepada dewata agar bisa memiliki anak. Dewata mengabulkan permohonannya. Prabu Wrehadrata pun mendapatkan sebutir buah mangga pertanggajiwa yang jatuh dari langit.

Karena menyayangi kedua istrinya tanpa pilih kasih, Prabu Wrehadrata membelah dua mangga kahyangan tersebut dan masing-masing diberikan kepada dua istrinya. Setelah memakan potongan buah mangga itu, kedua istri pun mengandung dan melahirkan pada hari yang sama. Namun, masing-masing melahirkan bayi yang hanya sebelah saja.

Prabu Wrehadrata merasa sedih dan membuang kedua potongan bayi itu ke hutan. Di hutan ada raksasi bernama Nyai Jara yang menemukan potongan kedua bayi tersebut. Ketika keduanya diangkat dan didekatkan, ternyata bersatu menjadi bayi utuh yang memiliki nyawa. Nyai Jara merasa sayang dan menjadikannya sebagai anak angkat.

Bayi tersebut tumbuh menjadi pemuda bernama Jaka Slewah, karena tubuhnya tercipta dari dua belahan bayi. Ia menjadi murid Nyai Jara, dan setelah dewasa pergi ke Kerajaan Magada untuk menuntut hak sebagai putra mahkota. Prabu Wrehadrata tidak percaya bahwa Jaka Slewah adalah putranya. Mereka pun berperang. Prabu Wrehadrata gugur di tangan anaknya sendiri, lalu kulitnya dikupas dan dijadikan sebagai genderang. Genderang tersebut bisa berbunyi sendiri karena meminta ingin disempurnakan rohnya. Jaka Slewah mendapat akal. Ia pun menaruh genderang tersebut di puncak Gunung Cetiyaka sebagai pertanda apabila ada orang asing yang datang.

Setelah membunuh ayahnya sendiri, Jaka Slewah lalu menjadi raja Magada bergelar Prabu Jarasanda, artinya “yang disatukan oleh Jara”. Kini Prabu Jarasanda berniat mengadakan Sesaji Kalalodra, yang mana ia mengumpulkan seratus orang raja untuk dikurbankan.

Arya Wrekodara dan Raden Arjuna sangat geram mendengar kekejaman Prabu Jarasanda. Namun, Prabu Kresna melarang mereka gegabah. Apabila masuk ke istana Giribajra hendaknya mereka menyamar terlebih dulu menjadi pendeta, karena Prabu Jarasanda meskipun kejam tetapi sangat menghormati kaum brahmana. Apabila tidak menyamar, maka mereka akan mudah dicurigai dan dikepung oleh pasukan Kerajaan Magada.

Arya Wrekodara mengaku tidak takut menghadapi para prajurit Magada. Prabu Kresna setuju, namun itu artinya membuang-buang waktu dan tenaga. Lagipula, pesan Prabu Puntadewa hanya Prabu Jarasanda saja yang boleh dibunuh, yang lainnya tidak boleh. Arya Wrekodara mematuhi dan mereka bertiga pun segera bertukar busana, menyamar sebagai pendeta.

PRABU JARASANDA MEMARAHI ANAKNYA

Sementara itu di istana Giribajra, Prabu Jarasanda dihadap putranya yang bernama Raden Jayatsena. Dalam pertemuan itu, Raden Jayatsena mengajukan permohonan kepada ayahnya supaya para raja yang berjumlah 97 orang dalam tahanan dibebaskan saja. Raden Jayatsena merasa kasihan apabila mereka disembelih sebagai kurban dalam Sesaji Kalalodra kelak. Jika mereka masih ditawan, maka negera mereka masing-masing akan mengalami kekosongan pemerintahan, dan yang menderita adalah rakyat jelata karena tidak ada kepastian hukum.

Prabu Jarasanda marah-marah mendengar ucapan anaknya. Ia menyebut Raden Jayatsena anak kecil tahu apa. Kalau para raja itu disembelih, tinggal tunjuk saja ahli waris mereka sebagai raja maka negara tidak akan mengalami kekosongan. Hal semudah ini tidak perlu dipikirkan. Justru dengan adanya Sesaji Kalalodra maka Kerajaan Magada akan semakin dilindungi oleh Batara Kala. Adapun Batara Kala adalah dewa penguasa marabahaya. Apabila sang dewa sudah berkenan dengan upacara yang dilakukan oleh Prabu Jarasanda, maka Kerajaan Magada tidak akan dilanda marabahaya lagi.

Raden Jayatsena masih saja mempertahankan pendapatnya. Mengangkat ahli waris sebagai pengganti tidak semudah itu. Apabila ahli warisnya banyak, maka akan terjadi perebutan takhta dan kekacauan negara. Lagi-lagi rakyat kecil yang menjadi korban. Prabu Jarasanda tidak peduli. Jika Raden Jayatsena tetap saja membela para raja tawanan, maka lebih baik pergi saja dari Kerajaan Magada. Raden Jayatsena tidak berani membantah. Ia pun pamit mengundurkan diri ke luar istana, takut melihat kemarahan sang ayah.

PRABU KRESNA MENANTANG PRABU JARASANDA PERANG TANDING

Tidak lama kemudian Prabu Jarasanda mendapat kabar dari patihnya bahwa ada tiga orang brahmana ingin bertemu. Prabu Jarasanda selama hidupnya selalu menghormati brahmana. Ia pun bergegas menyambut mereka dengan penuh tata krama. Ketiga brahmana tersebut mengaku bernama Resi Kesawa, Resi Balawa, dan Resi Parta.

Resi Kesawa selaku pemimpin rombongan langsung berterus terang bahwa kedatangan mereka bertiga adalah meminta Prabu Jarasanda untuk membebaskan para raja yang menjadi tawanan. Untuk apa menambah dosa, lebih baik hidup rukun dalam persahabatan. Bayangkan apabila kelak keluarga 97 raja itu bersatu menggempur Prabu Jarasanda, bukankah ini berbahaya? Prabu Jarasanda tidak peduli, karena jika mereka dikurbankan, maka Batara Kala akan selalu melindungi Kerajaan Magada. Jangankan diserang seratus negara, bahkan diserang seribu negara pun Prabu Jarasanda tetap merasa aman dalam perlindungan Batara Kala.

Resi Kesawa berkata bahwa Batara Kala adalah dewa juga, dan di atas dewa masih ada Tuhan Yang Mahakuasa. Apabila Tuhan berkehendak lain, Batara Kala bisa apa? Prabu Jarasanda tersinggung dewa sesembahannya dihina. Ia mulai curiga pendeta di depannya adalah Prabu Kresna, musuh bebuyutannya. Resi Kesawa merasa tidak perlu menutupi lagi. Ia pun berterus terang bahwa dirinya memang Prabu Kresna, sedangkan Resi Balawa adalah Arya Wrekodara, dan Resi Parta adalah Raden Arjuna.

Prabu Jarasanda senang sekali karena hari ini ia bisa membunuh Prabu Kresna untuk membalaskan kematian sahabatnya, yaitu Prabu Kangsa dua puluh tahun yang lalu. Selama ini Prabu Jarasanda tidak menyerang Kerajaan Dwarawati karena takut pada sekutu Prabu Kresna, yaitu para Pandawa, mengingat dulu dirinya pernah dikalahkan Prabu Pandu. Namun, kini Prabu Kresna dan dua Pandawa datang mengantarkan nyawa, maka Prabu Jarasanda merasa tidak perlu segan-segan lagi.

Prabu Kresna menjelaskan bahwa kedatangannya bukan untuk bertempur besar-besaran, tetapi cukup perang tanding membunuh satu orang saja, yaitu Prabu Jarasanda. Apabila Prabu Jarasanda mati, maka 97 raja yang ditawan harus dibebaskan. Sebaliknya, jika Prabu Jarasanda bisa membunuh salah satu dari Prabu Kresna, Arya Wrekodara, atau Raden Arjuna dalam perang tanding nanti, maka Sesaji Kalalodra boleh dilanjutkan, bahkan Prabu Puntadewa dan Prabu Baladewa akan menyerahkan diri sebagai penggenap jumlah raja yang akan disembelih.

Prabu Jarasanda seorang raja yang pandai bergulat. Ia merasa terhina jika harus bergulat melawan Prabu Kresna dan Raden Arjuna yang berbadan kecil. Maka, ia pun memilih Arya Wrekodara sebagai lawan bertanding. Arya Wrekodara menerima tantangan dengan senang hati, karena sejak tadi ia berharap dirinya yang dipilih.

PERTANDINGAN ANTARA PRABU JARASANDA MELAWAN ARYA WREKODARA

Pertandingan antara Prabu Jarasanda dan Arya Wrekodara pun dimulai. Mereka bertanding di sebuah gelanggang disaksikan segenap prajurit Magada. Dalam pertandingan itu, tampak bahwa keduanya sama-sama kuat dan perkasa. Mereka saling menangkap, saling membanting, saling tendang, dan saling pukul. Tidak bisa dipastikan siapa yang lebih unggul dan siapa yang akan kalah.

Ketika senja tiba, Prabu Jarasanda menghentikan pertandingan untuk beristirahat. Ia sudah menyediakan kamar tamu untuk Prabu Kresna dan rombongannya. Meskipun bermusuhan, tetapi Prabu Jarasanda tetap menjunjung tinggi tata krama. Ia mengirimkan para pelayannya untuk memenuhi segala kebutuhan Prabu Kresna, Arya Wrekodara, dan Raden Arjuna.

Arya Wrekodara makan dengan lahap. Ia tidak takut makanan diracuni karena semasa muda pernah meminum air ajaib Tirtamanik Rasakunda, sehingga dirinya kebal terhadap segala jenis racun. Hanya Raden Arjuna yang diam tidak mau makan karena takut terkena racun. Prabu Kresna menjelaskan bahwa Prabu Jarasanda memang seorang raja angkara murka, tetapi sangat menjaga harga diri. Prabu Kresna yakin Prabu Jarasanda tidak mungkin melakukan tindakan rendah layaknya seorang pengecut, misalnya menaruh racun dalam hidangan. Lagipula, Prabu Kresna memiliki Kembang Wijayakusuma, sehingga Raden Arjuna tidak perlu merasa khawatir. Setelah mendengar penjelasan demikian, Raden Arjuna baru berani makan.

CARA MEMBUNUH PRABU JARASANDA

Pagi harinya pertandingan antara Prabu Jarasanda dan Arya Wrekodara kembali dilanjutkan. Kali ini mereka bertanding dengan penuh semangat karena badan sama-sama segar. Pertandingan tetap berjalan alot, hingga senja tiba belum ada yang terlihat siapa pemenangnya.

Malam itu kedua pihak kembali beristirahat. Esok harinya pertandingan dilanjutkan, dan pada sore harinya dihentikan. Begitulah yang terjadi hingga beberapa hari. Pada hari ketujuh Prabu Kresna teringat pada kisah kelahiran Prabu Jarasanda. Ia pun berbisik kepada Arya Wrekodara bahwa Prabu Jarasanda dulu berasal dari dua belahan bayi, maka sekarang harus dikembalikan lagi menjadi dua belahan.

Arya Wrekodara paham. Dalam pertandingan hari itu, ia berusaha menangkap kedua kaki Prabu Jarasanda. Ketika bisa ditangkap, ia pun menarik kedua kaki tersebut ke dua arah yang berbeda. Prabu Jarasanda menjerit dan tubuhnya pun terbelah menjadi dua. Namun, sungguh ajaib kedua tubuh itu bersatu kembali seperti sedia kala.

Arya Wrekodara menoleh ke arah Prabu Kresna. Prabu Kresna pun mencabut ilalang dan membelahnya menjadi dua, lalu melemparkannya ke kiri dan ke kanan. Arya Wrekodara paham. Kali ini ia kembali menangkap kaki Prabu Jarasanda dan membelah tubuhnya menjadi dua. Kedua potongan itu lalu dilempar jauh-jauh ke kiri dan ke kanan. Namun, sungguh ajaib keduanya bergerak mendekat dan bersatu lagi, bagaikan tertarik oleh besi sembrani.

Arya Wrekodara bingung dan kembali menoleh kepada Prabu Kresna. Kali ini Prabu Kresna mencoba cara lain. Ia melemparkan potongan ilalang di tangan kiri ke arah kanan, dan melemparkan yang di tangan kanan ke arah kiri. Arya Wrekodara paham. Ia kembali menangkap kedua kaki Prabu Jarasanda dan membelah tubuhnya menjadi dua. Kedua potongan itu lalu dilemparkan menyilang. Belahan tubuh sebelah kiri dilemparkan ke kanan, sedangkan belahan tubuh kanan dilemparkan ke kiri. Kali ini Prabu Jarasanda tidak lagi hidup kembali, tetapi mati untuk selamanya.

PRABU KRESNA MEMBEBASKAN PARA RAJA YANG DITAWAN

Para prajurit Magada takut bercampur marah melihat raja mereka tewas mengerikan. Raden Jayatsena berduka, tetapi ia teringat pesan ayahnya untuk menjaga keamanan tiga musuhnya apabila tewas. Prabu Kresna terkesan pada sikap kesatria Prabu Jarasanda. Ia pun membantu Raden Jayatsena menyelenggarakan upacara jenazah. Jasad Prabu Jarasanda yang sudah terbelah hari itu dibakar dalam dua tempat yang terpisah.

Setelah upacara jenazah Prabu Jarasanda selesai, Raden Jayatsena pun membebaskan 97 orang raja yang ditawan ayahnya. Mereka semua berterima kasih kepada Prabu Kresna dan kedua Pandawa. Selama dalam penjara, makan dan minum mereka selalu diperhatikan oleh Prabu Jarasanda. Itu sebabnya tidak ada raja yang menderita kelaparan, kecuali beberapa orang yang menolak untuk makan, misalnya Prabu Bismaka dan Prabu Setyajit.

Prabu Kresna kemudian melantik Raden Jayatsena sebagai raja Magada yang baru. Setelah itu, mereka bersama-sama berangkat ke Kerajaan Amarta untuk menghadiri Sesaji Rajasuya.

PELAKSANAAN UPACARA SESAJI RAJASUYA

Prabu Puntadewa merasa bahagia karena semua persyaratan upacara telah terpenuhi. Para raja dari segala penjuru berdatangan memenuhi undangannya. Jumlahnya lebih dari seratus orang. Prabu Kresna dan Prabu Baladewa sudah pasti hadir. Prabu Salya, Prabu Drupada, Prabu Bismaka, Prabu Setyajit, serta para raja mertua Raden Arjuna juga berdatangan. Hanya Prabu Matsyapati yang tidak hadir mengingat usianya yang sudah tua, melainkan diwakili oleh para putranya, yaitu Arya Seta, Arya Utara, dan Arya Wratsangka.

Prabu Duryudana datang paling akhir bersama Patih Sangkuni dan Adipati Karna. Para pendeta pun membaca puja mantra dipimpin tujuh pendeta agung, yaitu Bagawan Abyasa, Resiwara Bisma, Danghyang Druna, Resi Krepa, Resi Sindupramana, Resi Jayawilapa, dan Resi Sidiwacana. Dalam upacara tersebut para raja yang telah ditawan Prabu Jarasanda berterima kasih karena berkat pertolongan Prabu Puntadewa melalui saudara-saudaranya, mereka bisa terbebas dari maut. Oleh sebab itu, mereka pun sepakat menyebut Prabu Puntadewa sebagai raja agung bergelar Maharaja Yudistira.

Maharaja Yudistira berkata bahwa semua ini berkat bantuan dan nasihat dari Prabu Kresna Wasudewa. Baginya, Prabu Kresna bukan hanya sekadar saudara sepupu, tetapi sudah menjadi dewa pelindung bagi para Pandawa. Prabu Kresna tidak lain adalah titisan Batara Wisnu yang turun ke dunia untuk memelihara ketertiban dunia. Oleh sebab itu, Prabu Kresna sangat layak untuk mendapatkan penghormatan agung dalam upacara ini, dan mulai sekarang Maharaja Yudistira akan menyebut Prabu Kresna dengan panggilan Sri Batara Kresna. Para hadirin pun bertepuk tangan setuju. Mereka sepakat ikut memanggil demikian.

PRABU SISUPALA MEMBUAT KEKACAUAN

Tidak semua raja yang hadir bertepuk tangan. Ada satu orang yang maju ke depan mengajukan keberatan. Orang itu adalah Prabu Sisupala raja Cedi. Ia berkata bahwa Prabu Kresna tidak layak mendapat penghormatan. Menurutnya, Prabu Kresna adalah manusia hina yang semasa muda pernah menjadi gembala, berteman dengan sapi, pernah jadi begal pula, merampok, berjudi, menghisap candu, mabuk-mabukan, dan main perempuan. Prabu Kresna adalah manusia licik penuh tipu daya. Orang seperti dia tidak pantas mendapat penghormatan, bahkan tidak pantas berada dalam acara ini.

Prabu Baladewa marah-marah mendengar adiknya dihina. Begitu pula Arya Wrekodara dan Raden Arjuna ingin melabrak Prabu Sisupala. Namun, mereka dicegah Prabu Kresna. Prabu Baladewa bertanya mengapa Batara Kresna diam saja. Batara Kresna menjawab, dirinya tidak diam tetapi sedang menghitung.

Prabu Sisupala tidak takut dan terus menghina. Ia mengatakan bahwa harusnya Prabu Duryudana raja Hastina yang mendapat penghormatan mulia, karena ia adalah raja paling kaya di antara para raja semuanya. Tiba-tiba Batara Kresna menyatakan cukup, karena Prabu Sisupala sudah berdosa kepadanya lebih dari seratus kali. Prabu Sisupala tidak peduli dan terus-menerus menghinanya. Batara Kresna mengeluarkan senjata Cakra Sudarsana dan menerbangkannya ke arah Prabu Sisupala. Raja Cedi itu pun tewas seketika dengan leher putus.

Prabu Baladewa bertanya mengapa Batara Kresna harus bertindak menunggu seratus hitungan. Batara Kresna pun bercerita bahwa Prabu Sisupala adalah bekas muridnya. Dahulu kala ketika masih menjadi begal, Batara Kresna pernah berkelana hingga ke Kerajaan Cedi. Di sana sang raja yang bernama Prabu Darmagosa sedang bersedih, karena putranya yang bernama Raden Sisupala lahir cacat, yaitu memiliki tiga mata, tiga lengan, dan tiga kaki. Ia mendapatkan ramalan, bahwa orang yang bisa meruwat Raden Sisupala adalah kelak yang akan mengambil nyawa putranya tersebut. Batara Kresna yang saat itu bernama Begal Guwenda datang ke istana Cedi dan menggendong bayi Raden Sisupala. Sungguh ajaib, satu mata, lengan, dan kaki bayi itu lepas sehingga menjadi bayi normal. Prabu Darmagosa berterima kasih, namun juga memohon agar anaknya jangan dibunuh. Begal Guwenda mengaku tidak dapat melawan takdir. Namun, ia berjanji asalkan Raden Sisupala tidak berbuat dosa kepadanya sampai seratus kali, maka tidak akan dibunuh. Prabu Darmagosa berterima kasih dan menyerahkan Raden Sisupala agar menjadi murid Begal Guwenda.

Setelah dewasa Prabu Sisupala justru bersahabat dengan Prabu Jarasanda dan beberapa kali melakukan dosa terhadap Batara Kresna. Hari ini Batara Kresna menghitung sudah genap seratus kali bahkan lebih, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak membunuh Prabu Sisupala.

PRABU DURYUDANA DIPERMALUKAN DEWI DRUPADI

Upacara Sesaji Rajasuya telah berakhir. Para tamu satu persatu pamit pulang ke negara masing-masing. Hanya Prabu Duryudana yang penasaran ingin melihat seperti apa indahnya istana Indraprasta milik para Pandawa. Konon istana Indraprasta dulu pernah ditambahi bangunan oleh Batara Wiswakarma dan Ditya Mayasura, yang dilengkapi tipuan ilusi.

Ketika Prabu Duryudana berjalan seorang diri, ia bertemu panakawan Petruk yang mengingatkannya agar berhati-hati karena di depan ada kolam air. Prabu Duryudana tidak percaya dan menuduh Petruk hendak mempermainkannya. Ternyata benar, karpet yang diinjak Prabu Duryudana adalah kolam. Prabu Duryudana pun tercebur ke dalamnya.

Kebetulan Dewi Drupadi sedang lewat di tempat itu. Ia pun menyebut Prabu Duryudana buta seperti ayahnya. Prabu Duryudana sangat marah mendengar cacat ayahnya disinggung. Ia buru-buru merangkak naik dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

Patih Sangkuni datang menyambut Prabu Duryudana yang basah kuyup. Prabu Duryudana marah dan dendam atas penghinaan ini. Ia bersumpah harus bisa ganti mempermalukan Dewi Drupadi di depan umum. Patih Sangkuni menghibur rajanya. Ia pun berjanji akan membantu membalaskan sakit hati Prabu Duryudana.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------
 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya

Catatan : Saya mengikuti alur Mahabharata bahwa Prabu Boma Narakasura mati terlebih dulu dibanding Prabu Jarasanda. Karena Raden Samba sudah saya kisahkan tewas dalam kisah kematian Prabu Boma, maka dalam jejer Dwarawati di atas, saya kisahkan yang tampil adalah Raden Setyaka.


Untuk kisah Prabu Jarasanda membunuh ayahnya bisa dibaca di sini.

Untuk kisah Prabu Kresna membunuh Prabu Kangsa bisa dibaca di sini.

Untuk kisah Prabu Kresna meruwat Prabu Sisupala bisa dibaca di sini.