Jumat, 13 Oktober 2017

Irawan Maling



Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antareja. Karena ulah mereka, Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca pun menjadi tersangka akibat fitnah para Kurawa.

Kisah ini saya olah dari keterangan Ki Rudy Wiratama, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, Oktober 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini
 
Bambang Irawan.

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU DURYUDANA MEMBAHAS TENTANG PENCURIAN DI KERAJAAN HASTINA

Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina memimpin pertemuan dihadap Danghyang Druna dari Sokalima, Adipati Karna dari Awangga, Patih Sangkuni dari Plasajenar, dan Raden Kartawarma dari Tirtatinalang. Mereka membahas tentang adanya peristwa pencurian yang beberapa kali melanda ibu kota Kerajaan Hastina. Si pencuri berani mendatangi tempat tinggal para Kurawa dan juga para pejabat kerajaan untuk diambil harta bendanya. Pencuri ini sangat lihai dan sulit ditangkap. Ia bahkan berani meninggalkan tulisan di dinding rumah yang dicurinya, di mana tulisan itu berbunyi: Bambang Jaganala.

Patih Sangkuni berkata bahwa selama lima belas hari ini ada belasan rumah dan kesatrian yang didatangi pencuri tersebut. Para Kurawa yang melapor telah kehilangan harta benda, antara lain Raden Citraksa, Raden Citraksi, Raden Surtayu, Raden Durjaya, Raden Durmuka, dan Raden Durmagati, semuanya sudah didatangi Bambang Jaganala yang meninggalkan tulisan di dinding.

Prabu Duryudana marah-marah atas kejadian ini. Ia kecewa pada para pejabat yang dianggap tidak becus menjaga keamanan ibu kota. Patih Sangkuni melimpahkan kesalahan pada Adipati Karna selaku panglima angkatan perang, yang bertanggung jawab membawahi para prajurit Kerajaan Hastina. Maka, urusan keamanan negara menjadi tugas Adipati Karna. Adipati Karna tidak terima dan menyanggah tuduhan Patih Sangkuni. Dirinya memang panglima angkatan perang, tetapi tugasnya adalah mempertahankan negara dari ancaman musuh. Pasukan yang ia bawahi hanyalah tentara angkatan darat dan angkatan laut saja. Adapun urusan keamanan adalah tanggung jawab pasukan bayangkara, dan itu berada di bawah kendali Patih Sangkuni.

Prabu Duryudana semakin marah. Bukannya mau mengakui kesalahan, tetapi para pejabatnya justru saling menyalahkan satu dengan yang lain. Jika terus-terusan seperti ini, maka masalah tidak akan selesai bahkan bertambah rumit. Adipati Karna teringat dirinya telah bersumpah setia kepada Prabu Duryudana, maka ia akhirnya menyanggupi untuk menangkap pencuri tersebut. Prabu Duryudana senang mendengarnya dan ia pun menugasi kakak iparnya itu untuk meringkus Bambang Jaganala hidup atau mati.

Prabu Duryudana.

PRABU DURYUDANA MENERIMA KUNJUNGAN RAJA NGRANCANGKENCANA

Tidak lama kemudian, datang seorang raja yang mengaku bernama Prabu Jayasentika dari Kerajaan Ngrancangkencana. Ia datang ke Kerajaan Hastina karena mendengar berita bahwa Prabu Duryudana mempunyai seorang putri yang cantik, bernama Dewi Lesmanawati. Prabu Jayasentika pun tertarik dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri.

Prabu Duryudana menjawab dirinya memang memiliki dua orang anak. Yang pertama laki-laki, bernama Raden Lesmana Mandrakumara, sedangkan yang bungsu perempuan bernama Dewi Lesmanawati. Menurut Prabu Duryudana, Dewi Lesmanawati baru saja menginjak usia remaja. Tentunya belum pantas jika menikah sekarang. Oleh sebab itu, Prabu Duryudana belum dapat menerima pinangan Prabu Jayasentika.

Patih Sangkuni menyela ikut bicara. Alangkah baiknya Prabu Jayasentika diberi kesempatan untuk membuktikan kesungguhan hatinya. Beberapa hari ini ibu kota Kerajaan Hastina didatangi pencuri bernama Bambang Jaganala. Jika Prabu Jayasentika benar-benar ingin menjadi anggota keluarga Kerajaan Hastina, maka ia harus bisa menangkap pencuri bernama Bambang Jaganala itu, hidup atau mati.

Prabu Duryudana tertarik pada usulan Patih Sangkuni. Ia pun berjanji akan menerima Prabu Jayasentika sebagai menantu asalkan bisa meringkus pencuri bernama Bambang Jaganala tersebut. Mendengar itu, Adipati Karna merasa tidak dihargai. Bukankah tadi Prabu Duryudana sudah setuju menugasi dirinya yang menangkap Bambang Jaganala, lalu mengapa sekarang dialihkan kepada orang lain? Merasa disisihkan, Adipati Karna pun mohon pamit pulang ke Kadipaten Awangga.

Prabu Duryudana hafal watak Adipati Karna yang mudah tersinggung tetapi tidak mungkin mengkhianati dirinya. Maka, ia tetap menugasi Prabu Jayasentika untuk mulai memburu si pencuri lihai bernama Bambang Jaganala tersebut. Setelah dirasa cukup, pertemuan hari itu pun dibubarkan.

Adipati Karna.

BAMBANG JAGANALA DAN PUTUT JAYABADRA MERENCANAKAN PENCURIAN DI ISTANA HASTINA

Si pencuri yang bernama Bambang Jaganala ternyata masih muda belia dan berwajah tampan. Ia memiliki kakak angkat bernama Putut Jayabadra yang berbadan gagah perkasa. Malam ini Bambang Jaganala berniat melakukan pencurian langsung di istana tempat tinggal Prabu Duryudana, bukan lagi di tempat para pangeran Kurawa seperti kemarin-kemarin.

Putut Jayabadra bertanya apakah tidak sebaiknya Bambang Jaganala berhenti mencuri saja, karena melakukan pencurian di istana Prabu Duryudana tentu sangat berbahaya. Penjagaan di istana sudah pasti lebih ketat daripada di kesatrian. Namun, Bambang Jaganala tidak peduli. Prabu Duryudana sudah sering bertindak jahat menindas rakyat, menarik pajak dengan sewenang-wenang, menjebloskan orang ke dalam penjara sesuka hati, maka kini saatnya untuk membalaskan dendam mereka. Bambang Jaganala merasa belum puas jika belum merampok harta kekayaan raja Kurawa tersebut untuk dibagi-bagikan kepada rakyat jelata yang selama ini sudah banyak menderita. Kerajaan Hastina adalah negeri besar, tetapi yang kaya raya adalah para bangsawan dan pejabatnya saja, sedangkan rakyat jelata di pedesaan hidup melarat.

Putut Jayabadra tidak dapat membantah keinginan Bambang Jaganala. Sejak berangkat meninggalkan padepokan, ia sudah berjanji kepada gurunya yang juga kakek Bambang Jaganala, bahwa ia akan selalu menjaga keselamatan adik angkatnya tersebut. Maka, setelah keduanya sepakat, mereka pun berangkat menyusup ke dalam istana Kerajaan Hastina malam itu juga.

BAMBANG JAGANALA MERAYU DEWI LESMANAWATI

Putut Jayabadra memiliki kesaktian mampu amblas ke dalam bumi dan membuat lubang bawah tanah. Begitu muncul di permukaan, ia dan Bambang Jaganala sudah berada di dalam kaputren. Tampak Dewi Lesmanawati sedang duduk sendiri. Gadis yang baru saja beranjak remaja tersebut berwajah cantik seperti ibunya, yaitu Dewi Banuwati. Bambang Jaganala tertarik melihatnya. Ia lalu mendekat dan merayu gadis itu.

Dewi Lesmanawati yang tidak mempunyai pengalaman soal asmara seketika jatuh cinta melihat Bambang Jaganala yang tampan rupawan. Bambang Jaganala pun semakin gencar dalam merayu, membuat Putut Jayabadra kesal karena adik angkatnya itu melupakan tujuan awal.

Bambang Jaganala meminta Putut Jayabadra pergi lebih dulu untuk mengambil harta kekayaan Kerajaan Hastina, dan nanti ia akan menyusul setelah urusan dengan Dewi Lesmanawati selesai. Putut Jayabadra pun kembali membuat lubang bawah tanah dan meninggalkan kaputren melalui lubang tersebut.

Setelah kakaknya pergi, Bambang Jaganala kembali menggoda Dewi Lesmanawati dengan segala bujuk rayunya. Dewi Lesmanawati semakin terlena dan ia pun menyerahkan jiwa raganya kepada pemuda tampan yang baru saja dikenalnya tersebut. Keduanya lalu masuk ke dalam kamar melampiaskan hasrat masing-masing.

PARA KURAWA MENGEPUNG DUA PENYUSUP

Sementara itu, Putut Jayabadra telah memasuki ruang penyimpanan harta benda milik Prabu Duryudana. Ia pun mengambil perhiasan dan emas permata untuk kemudian dimasukkan ke dalam kantong yang sudah dipersiapkan. Tiba-tiba ia dipergoki Raden Kartawarma yang sedang meronda bersama Bambang Aswatama. Putut Jayabadra pun membela diri saat hendak ditangkap. Maka, terjadilah pertempuran di depan ruang penyimpanan harta tersebut. Meskipun hanya sendiri namun Putut Jayabadra dengan tangkas mampu menghadapi mereka semua.

Para Kurawa lainnya berdatangan ikut mengeroyok Putut Jayabadra. Lama-lama Putut Jayabadra terdesak kewalahan. Namun, tiba-tiba Bambang Jaganala datang membantu. Ia melepas hewan-hewan peliharaan Prabu Duryudana, termasuk Gajah Murdaningkung untuk mengacau para Kurawa.

Dengan adanya gajah, kuda, macan, dan sebagainya yang berlarian ke sana kemari, membuat para Kurawa berhamburan ke segala arah. Putut Jayabadra dan Bambang Jaganala kemudian melompat ke atas punggung Gajah Murdaningkung dan mengendarai hewan tersebut untuk kabur meninggalkan istana Kerajaan Hastina sambil membawa harta curian mereka.

Raden Kartawarma.

PATIH SANGKUNI MEMBUAT LAPORAN PALSU

Prabu Duryudana datang ke tempat kejadian dan marah-marah melihat penjagaan di istana begitu kendor sehingga Bambang Jaganala dapat menyusup dan kabur sesuka hati. Prabu Jayasentika juga ikut datang dan bertanya apa yang baru saja terjadi. Prabu Duryudana marah kepadanya yang tadi menyatakan sanggup menangkap Bambang Jaganala. Prabu Jayasentika merasa malu dan segera mohon pamit mengejar pencuri tersebut.

Prabu Duryudana lalu menanyai para Kurawa tentang ciri-ciri Bambang Jaganala. Raden Kartawarma menjawab, pencurinya ada dua orang. Bambang Jaganala berwajah tampan dan agak kurus, sedangkan temannya berbadan gagah, bernama Putut Jayabadra. Patih Sangkuni yang juga hadir merasa malu karena dimarahi Prabu Duryudana. Ia pun mengarang laporan palsu dengan mengatakan bahwa tadi ia sempat melihat sosok kedua maling tersebut. Ia yakin, Bambang Jaganala adalah Raden Abimanyu yang sedang menyamar, sedangkan Putut Jayabadra adalah penyamaran Raden Gatutkaca.

Prabu Duryudana semakin marah karena yang berani mencuri di istananya ternyata para putra Pandawa. Ia lalu memerintahkan Patih Sangkuni untuk melaporkan hal ini kepada Prabu Puntadewa, agar kedua pemuda itu dihukum berat oleh orang tuanya sendiri.

Patih Sangkuni senang menerima perintah tersebut. Ia pun bergegas pergi menuju Kerajaan Amarta dengan ditemani para Kurawa.

Patih Sangkuni.

PATIH SANGKUNI MELAPOR KEPADA PRABU PUNTADEWA

Di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa dihadap adik-adiknya, yaitu Arya Wrekodara, Raden Nakula, dan Raden Sadewa. Hadir pula Prabu Kresna Wasudewa yang berkunjung dari Kerajaan Dwarawati. Tiba-tiba Patih Sangkuni datang dengan tergesa-gesa. Setelah saling memberi salam, Patih Sangkuni pun bercerita bahwa Kerajaan Hastina baru saja didatangi dua orang pencuri. Kedua pencuri ini telah membawa kabur emas permata dan juga Gajah Murdaningkung milik Prabu Duryudana. Menurut keterangan para Kurawa yang memergoki kejadian tersebut, kedua pencuri ini yang satu berwajah mirip Raden Abimanyu, dan yang satu lagi berwajah mirip Raden Gatutkaca.

Arya Wrekodara terkejut mendengarnya. Ia segera mohon diri keluar istana, lalu kembali lagi dengan membawa serta Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca. Kedua pemuda itu pun dihadapkan kepada Prabu Puntadewa agar mengakui perbuatan mereka. Raden Arjuna juga ikut hadir di belakang mereka.

Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca tidak tahu-menahu ada masalah apa yang sedang menimpa diri mereka. Prabu Puntadewa pun bertanya apakah benar mereka berdua baru saja mencuri di Kerajaan Hastina. Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca serentak menjawab tidak. Raden Arjuna membenarkan hal itu karena sejak tadi mereka berdua mengunjungi dirinya di Kesatrian Madukara.

Patih Sangkuni menyindir di dunia ini mana ada maling yang mengaku. Semua pelaku kejahatan yang tertangkap rata-rata mengarang cerita untuk menutupi perbuatan mereka. Lagipula Raden Arjuna sudah pasti melindungi kesalahan putra dan menantunya. Boleh dikatakan Raden Arjuna telah bersekongkol dengan kedua pencuri tersebut. Patih Sangkuni meminta Prabu Puntadewa untuk tidak mudah percaya begitu saja pada ucapan mereka bertiga.

Arya Wrekodara marah dan berkata Patih Sangkuni tidak perlu ikut campur memengaruhi keputusan kakaknya. Jika memang benar Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca bersalah, maka Arya Wrekodara sendiri yang akan menghukum mereka dengan berat. Tapi jika tidak terbukti, maka Kerajaan Hastina harus meminta maaf atas fitnah ini.

Prabu Puntadewa lalu meminta pertimbangan Prabu Kresna. Prabu Kresna menjawab, Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca harus bisa membuktikan bahwa diri mereka tidak bersalah. Jika mereka dapat menangkap kedua pencuri tersebut, maka keduanya akan terbebas dari jerat hukum. Selama tidak mampu menangkap kedua pencuri itu, maka mereka berdua tidak boleh pulang ke Kerajaan Amarta. Prabu Puntadewa setuju dan menetapkan keputusan demikian supaya dijalankan oleh kedua keponakannya tersebut.

Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca terkejut mendengar keputusan ini. Mereka yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba saja harus membersihkan diri dari tuduhan fitnah. Arya Wrekodara menasihati keduanya agar jangan mengeluh. Sebagai kesatria, mereka harus siap menjalankan tugas apa pun itu. Segala peristiwa yang terjadi jangan dianggap sebagai kesulitan, tetapi hendaknya dianggap sebagai sarana untuk mendewasakan diri dan menambah pengalaman hidup.

Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca menerima nasihat tersebut dengan sukacita. Raden Arjuna juga menambahkan, bahwa kedua pencuri tersebut pasti orang sakti karena bisa menyusup ke dalam istana Kerajaan Hastina dengan mudah. Oleh sebab itu, Raden Arjuna berniat meminjamkan panah pusaka Sarotama kepada Raden Abimanyu sebagi senjata untuk meringkus Bambang Jaganala dan Putut Jayabadra.

Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca berterima kasih. Mereka lalu mohon pamit untuk berangkat menangkap kedua pencuri itu. Setelah mereka pergi, Patih Sangkuni mohon pamit pula kembali ke Kerajaan Hastina, sedangkan Prabu Kresna mengajak Arya Wrekodara dan Raden Arjuna mengawasi kedua putra mereka dari kejauhan.

Prabu Puntadewa.

BAMBANG JAGANALA DAN PUTUT JAYABADRA MEMBAGI-BAGIKAN HARTA CURIAN

Sementara itu, Bambang Jaganala dan Putut Jayabadra telah melarikan diri meninggalkan Kerajaan Hastina dengan mengendarai Gajah Murdaningkung. Mereka melewati desa-desa miskin dan membagi-bagikan emas permata yang telah mereka curi. Para penduduk pun berterima kasih dan banyak memuju-muji kedua pemuda tersebut.

Setelah harta benda mereka bagi-bagikan, Putut Jayabadra lalu mengajak Bambang Jaganala untuk pergi ke Kerajaan Amarta mencari ayah mereka. Namun, Bambang Jaganala masih belum puas. Ia masih ingin berbuat lebih banyak jasa sebagai bekal untuk bertemu sang ayah. Oleh sebab itu, ia mengajak kakak angkatnya itu untuk kembali mencuri. Namun, Putut Jayabadra tidak setuju atas usulan ini.

Raden Antareja.

PRABU JAYASENTIKA BERTARUNG MENGHADAPI BAMBANG JAGANALA

Ketika Putut Jayabadra dan Bambang Jaganala sedang sibuk berdebat apakah harus mencuri lagi atau tidak, tiba-tiba muncul Prabu Jayasentika dan pasukannya mengepung mereka. Prabu Jayasentika mengatakan dirinya telah mendapat mandat dari Prabu Duryudana untuk meringkus kedua pencuri dan membawa pulang Gajah Murdaningkung. Apabila berhasil, maka ia bisa menikahi Dewi Lesmanawati, putri Prabu Duryudana.

Bambang Jaganala tertawa mengatakan bahwa Dewi Lesmanawati sudah tidur dengannya sehingga Prabu Jayasentika hanya tinggal mendapat sisa belaka. Prabu Jayasentika marah dan menyerang Bambang Jaganala. Keduanya lalu bertarung sengit satu lawan satu. Sementara itu, Putut Jayabadra seorang diri bertempur melawan pasukan Kerajaan Ngrancangkencana.

Prabu Jayasentika dan Bambang Jaganala saling mengadu kesaktian. Selang agak lama, mereka baru sadar kalau ilmu kesaktian yang mereka gunakan ternyata sama persis. Prabu Jayasentika mengerahkan ilmu apa, dapat diimbangi Bambang Jaganala dengan ilmu yang sama pula.

Prabu Jayasentika lalu bertanya ada hubungan apa antara Bambang Jaganala dengan Resi Jayawilapa di Padepokan Yasarata. Bambang Jaganala menjawab, Resi Jayawilapa adalah kakeknya. Prabu Jayasentika lalu bertanya lagi, ada hubungan apa antara Bambang Jaganala dengan Endang Ulupi. Bambang Jaganala menjawab, Endang Ulupi adalah ibu kandungnya.

Mendengar jawaban tersebut, Prabu Jayasentika langsung luluh dan membuang senjatanya. Ia berkata bahwa Bambang Jaganala adalah keponakannya sendiri, karena ia adalah adik kandung Endang Ulupi. Bambang Jaganala agak bimbang. Ia berkata bahwa ibunya memang pernah bercerita memiliki adik yang sudah lama pergi meninggalkan padepokan, tetapi nama adiknya itu adalah Bambang Ratnasentika, bukan Prabu Jayasentika.

Prabu Jayasentika menjawab nama aslinya memang Bambang Ratnasentika. Dahulu kala ia pernah berselisih paham dengan ayahnya sendiri, yaitu Resi Jayawilapa sehingga memutuskan kabur meninggalkan Padepokan Yasarata. Saat itu kakaknya, yaitu Endang Ulupi masih belum menikah. Bambang Ratnasentika pun pergi berkelana sendiri. Berkat usaha dan kerja kerasnya, ia berhasil mendirikan negara kecil bernama Kerajaan Ngrancangkencana. Bambang Ratnasentika sebenarnya rindu pada ayah dan kakaknya itu, namun ia malu untuk pulang ke Padepokan Yasarata. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengganti nama menjadi Prabu Jayasentika, agar mirip dengan nama Resi Jayawilapa.

Mendengar itu, Bambang Jaganala pun maju dan memeluk Prabu Jayasentika. Putut Jayabadra dan para prajurit Ngrancangkencana heran dan seketika berhenti bertempur untuk kemudian mendekati mereka. Bambang Jaganala pun menjelaskan kepada Putut Jayabadra bahwa Prabu Jayasentika ternyata adalah pamannya sendiri yang sudah lama meninggalkan padepokan.

Bambang Jaganala lalu bercerita bahwa nama aslinya adalah Bambang Irawan, sedangkan ayahnya bernama Raden Arjuna dari keluarga Pandawa. Ia lalu memperkenalkan kakak angkatnya, yaitu Putut Jayabadra, murid Resi Jayawilapa yang mempunyai nama asli Raden Antareja. Kakak angkatnya ini adalah putra kesatria Pandawa yang nomor dua, yaitu Arya Wekodara. Bambang Irawan dan Raden Antareja berniat membuat jasa sebelum menemui ayah-ayah mereka, yaitu dengan cara mencuri harta benda Kerajaan Hastina dan membagi-bagikannya kepada rakyat miskin.

Prabu Jayasentika merestui keponakannya semoga berhasil dan diterima menjadi bagian dari keluarga Pandawa. Ia lalu berkata soal Dewi Lesmanawati tidak perlu dibahas lagi. Ia tidak mungkin bersaing dengan keponakan sendiri. Prabu Jayasentika pun memilih pulang ke Kerajaan Ngrancangkencana dan membatalkan pinangannya terhadap putri Kerajaan Hastina tersebut. Ia mengundang Bambang Irawan dan Raden Antareja agar ikut dengannya pergi ke Ngrancangkencana.

Bambang Irawan berterima kasih atas keputusan pamannya. Ia berjanji kelak akan pergi berkunjung ke Ngrancangkencana setelah bisa bertemu ayahnya. Usai berkata demikian, mereka pun berpisah. Prabu Jayasentika dan pasukannya kembali ke negeri mereka, sedangkan Bambang Irawan dan Raden Antareja melanjutkan perjalanan.

Prabu Jayasentika.

PERTEMPURAN PARA PUTRA PANDAWA

Tiba-tiba muncul Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca menghadang Bambang Irawan dan Raden Antareja. Antara Raden Gatutkaca dan Raden Antareja sudah saling kenal sejak peristiwa Dewi Sumbadra dilarung dulu. Raden Gatutkaca pun memperkenalkan kakak sulungnya itu kepada Raden Abimanyu.

Raden Abimanyu lalu bertanya apa benar yang bernama Bambang Jaganala adalah Raden Antareja. Jika benar, maka sungguh terpaksa ia harus menangkap kakak sepupunya itu untuk membersihkan nama baiknya yang tercemar. Bambang Irawan menyahut, yang bernama Bambang Jaganala adalah dirinya. Jika Raden Abimanyu ingin menangkap, maka silakan saja maju, ia sama sekali tidak takut.

Raden Abimanyu tersinggung melihat sikap angkuh Bambang Irawan. Ia pun berkata, perbuatan Bambang Irawan telah mencemarkan nama baiknya dan juga Raden Gatutkaca. Ia pun bertekad untuk meringkus Bambang Irawan dan menyerahkannya kepada Prabu Duryudana, sehingga nama baiknya dan juga Raden Gatutkaca dapat dipulihkan.

Raden Antareja maju memasang badan. Jika Raden Abimanyu berniat menangkap Bambang Irawan, maka lebih dulu harus berhadapan dengannya. Raden Gatutkaca bertanya mengapa kakaknya melindungi pencuri? Raden Antareja menjawab, dirinya sudah bersumpah untuk selalu melindungi Bambang Irawan yang sudah seperti adiknya sendiri. Raden Gatutkaca berkata, jika Bambang Irawan dianggap adik, berarti Raden Antareja sudah tidak menganggapnya sebagai adik.

Raden Antareja serbasalah. Namun, sebagai laki-laki ia pantang mengingkari janji. Dirinya siap sedia memasang badan melindungi Bambang Irawan dan tidak segan-segan berkelahi apabila Raden Gatutkaca membantu Raden Abimanyu. Peristiwa saat mereka pertama bertemu dulu kiranya dapat terulang kembali.

Karena kedua pihak tidak ada yang saling mengalah, maka mereka pun serentak maju saling menyerang. Bambang Irawan bertarung menghadapi Raden Abimanyu, sedangkan Raden Antareja menghadapi Raden Gatutkaca. Sungguh pertarungan yang seimbang, di mana masing-masing saling mengerahkan kesaktian untuk menjatuhkan lawan.

Raden Abimanyu.

BAMBANG IRAWAN DAN RADEN ANTAREJA MENINGGALKAN AYAH-AYAH MEREKA

Prabu Kresna bersama Arya Wrekodara dan Raden Arjuna tiba di tempat itu. Mereka melihat Raden Gatutkaca dan Raden Antareja bertarung seimbang, tidak ada yang menang, juga tidak ada yang kalah. Terkadang Raden Gatutkaca membawa tubuh Raden Antareja terbang di udara, terkadang Raden Antareja yang menarik tubuh Raden Gatutkaca amblas ke dalam tanah.

Di sisi lain, Raden Abimanyu bertarung melawan seorang pemuda yang wajahnya mirip Raden Arjuna. Prabu Kresna yakin pemuda inilah yang menamakan dirinya Bambang Jaganala. Tiba-tiba pemuda itu melepaskan panah pusaka Ardadedali ke arah Raden Abimanyu. Sebaliknya, Raden Abimanyu pun melepaskan panah Sarotama untuk mengimbanginya. Prabu Kresna terkejut dan khawatir keduanya sama-sama terluka. Maka, dengan kecepatan tinggi, ia pun melesat terbang dan menangkap kedua panah pusaka tersebut dengan kedua tangannya.

Prabu Kresna lalu memanggil Raden Arjuna dan menyerahkan kedua panah itu kepadanya. Sementara itu, Arya Wrekodara telah melerai pertarungan Raden Gatutkaca dan Raden Antareja. Prabu Kresna lalu menanyai Raden Arjuna perihal kedua panah pusaka tersebut. Kalau panah Sarotama jelas tadi dipinjamkan kepada Raden Abimanyu untuk menangkap pencuri. Namun, panah Ardadedali mengapa bisa berada di tangan Bambang Jaganala? Apakah pemuda itu telah mencuri di Kesatrian Madukara?

Raden Arjuna menjawab panah Ardadedali memang salah satu pusakanya, yaitu pemberian sang kakek Bagawan Abyasa. Ia masih ingat, panah Ardadedali dulu ia titipkan kepada istrinya yang bernama Endang Ulupi di Padepokan Yasarata. Saat itu Endang Ulupi melahirkan seorang putra yang diberi nama Bambang Irawan. Raden Antareja menjadi saksi atas peristiwa itu. Selama beberapa hari Raden Arjuna tinggal di padepokan menunggui anak dan istrinya. Hingga akhirnya ia pun memutuskan kembali ke Kerajaan Amarta. Sebelum berangkat, Raden Arjuna sempat menitipkan panah Ardadedali kepada Endang Ulupi. Kelak jika Bambang Irawan sudah dewasa dan ingin bertemu dengannya, panah itu hendaknya dibawa sebagai tanda pengenal.

Prabu Kresna lalu bertanya kepada pemuda yang menjadi lawan Raden Abimanyu apa benar ia bernama Bambang Irawan. Pemuda itu menjawab dirinya memang Bambang Irawan, putra Raden Arjuna dan Endang Ulupi. Prabu Kresna lalu bertanya, mengapa ia menyamar sebagai pencuri bernama Bambang Jaganala dan membuat onar di Kerajaan Hastina.

Bambang Irawan menjawab dirinya ingin berbuat jasa. Ia kasihan melihat rakyat jelata menderita karena ditarik pajak tinggi, sedangkan harta negara dihambur-hamburkan para Kurawa untuk berfoya-foya. Itulah sebabnya, ia pun mencuri harta benda dari rumah para Kurawa dan membagi-bagikannya kepada rakyat miskin di pelosok negeri.

Prabu Kresna berkata apa yang menjadi niat Bambang Irawan baik, namun caranya yang salah. Mencuri untuk bersedekah adalah dua kegiatan yang saling bertolak belakang. Bisa diibaratkan mandi menggunakan air kencing, apa mungkin itu bisa terjadi? Arya Wrekodara menyela ikut bicara, bukankah dulu semasa muda Prabu Kresna juga pernah menjadi begal yang meresahkan masyarakat? Prabu Kresna mengiyakan dirinya memang pernah menjadi begal. Namun, itu dulu saat ia masih muda dan belum tahu mana yang baik, mana yang buruk. Kini ia menyadari hal itu adalah keliru, sehingga tidak sebaiknya ditiru oleh para putra ataupun keponakannya.

Raden Arjuna merasa malu atas perbuatan Bambang Irawan. Ia menjawab dirinya tidak butuh jasa semacam itu. Bambang Irawan pun dipersilakan pulang saja ke Padepokan Yasarata, tidak perlu lagi datang ke Kesatrian Madukara. Cukup begini saja pertemuan mereka.

Bambang Irawan merasa sedih niat baiknya ternyata tidak diterima sang ayah. Ia pun bergegas pergi dengan hati kecewa. Raden Antareja ikut sedih melihat saudaranya seperti itu. Arya Wrekodara bertanya apakah putra sulungnya itu ikut pergi dengannya ataukah ikut Bambang Irawan. Raden Antareja menjawab dirinya sudah berjanji, susah-senang akan selalu melindungi adik angkatnya tersebut. Mendengar jawaban itu, Arya Wrekodara pun mempersilakan jika Raden Antareja ikut pergi bersama Bambang Irawan.

Arya Wrekodara.

RADEN ARJUNA MENGEMBALIKAN GAJAH MURDANINGKUNG KEPADA PATIH SANGKUNI

Tidak lama kemudian, Patih Sangkuni bersama para Kurawa datang mengepung Prabu Kresna, Arya Wrekodara, Raden Arjuna, Raden Gatutkaca, dan Raden Abimanyu. Mereka melihat Gajah Murdaningkung ada bersama orang-orang itu, maka jelas sudah Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca adalah dua pencuri yang selama ini mengacau Kerajaan Hastina. Para Kurawa pun berniat menyeret mereka ke hadapan Prabu Duryudana agar dijatuhi hukuman berat.

Arya Wrekodara tidak terima atas tuduhan para Kurawa tersebut. Ia lalu maju menerjang mereka sebagai pelampiasan atas kekesalannya terhadap ulah Raden Antareja. Dalam waktu singkat, para Kurawa pun berhamburan dan babak belur ditendang serta dipukuli Arya Wrekodara.

Patih Sangkuni ketakutan hendak kabur, namun dihadang Raden Arjuna. Raden Arjuna berkata, Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca bukanlah pencuri. Soal Gajah Murdaningkung, ia sendiri yang akan mengembalikannya kepada Prabu Duryudana. Patih Sangkuni ketakutan dan menjawab itu tidak perlu. Biarlah dirinya saja yang membawa pulang Gajah Murdaningkung dan urusan ini dianggap beres. Raden Arjuna pun berkata, jika demikian, maka Patih Sangkuni dan para Kurawa tidak boleh lagi mengungkit-ungkit soal Bambang Jaganala.

Patih Sangkuni berjanji mulai sekarang urusan pencurian Bambang Jaganala dianggap beres. Ia dan para Kurawa kemudian mohon pamit pulang ke Kerajaan Hastina dengan tertatih-tatih sambil menuntun Gajah Murdaningkung.

Raden Arjuna.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya



Untuk kisah perkawinan Raden Arjuna dan Endang Ulupi dapat dibaca di sini

Untuk kisah pertemuan pertama Raden Antareja dan Raden Gatutkaca dapat dibaca di sini

Untuk kisah kelahiran Bambang Irawan dapat dibaca di sini