Minggu, 01 Februari 2015

Parikenan Krida

Kisah ini menceritakan tentang masa remaja Raden Parikenan, leluhur para Pandawa dan Kurawa, yang menjadi jago dewa untuk menumpas cucu Batara Kala yang bernama Prabu Siwalata. Ia dan saudari kembarnya, yaitu Dewi Srini, lalu mengetahui asal-usul mereka dan akhirnya bisa bersatu lagi dengan Prabu Brahmasatapa di Kerajaan Gilingwesi.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 01 Februari 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


KERAJAAN GILINGWESI MENDAPAT TANTANGAN DARI MUSUH RAKSASA

Prabu Brahmasatapa di Kerajaan Gilingwesi dihadap Patih Brahmasadana, Arya Brahmastuti, Arya Brahmayana, Arya Brahmanasidi, Arya Brahmanaweda, Arya Brahmanaradya, Arya Brahmanajati, dan Arya Brahmanakestu. Mereka sedang membicarakan berita duka dari Kerajaan Wirata, yaitu Dewi Indradi permaisuri Prabu Basupati yang musnah kembali ke kahyangan setelah melahirkan seorang putra bernama Raden Basumurti. Peristiwa ini membuat Prabu Brahmasatapa terkenang pada pengalamannya sendiri lima belas tahun yang lalu saat ia ditinggalkan istri pertamanya, yaitu Dewi Widati yang musnah kembali ke kahyangan setelah melahirkan dua ekor bayi kambing. Prabu Brahmasatapa masih penasaran sampai sekarang dan tidak dapat melupakan peristiwa tersebut, meskipun pernikahannya dengan Dewi Rajatadi telah dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Dewi Satapi.

Ketika Prabu Brahmasatapa hendak berangkat mengunjungi Kerajaan Wirata, tiba-tiba datang seorang raksasa bernama Patih Swalacala yang berasal dari Kerajaan Medang Sindula. Patih Swalacala ini datang untuk menyampaikan surat dari rajanya, yaitu Prabu Siwalata yang ingin membalaskan dendam turun-temurun antara keturunan Batara Kala terhadap keturunan Batara Brahma dan Batara Wisnu. Adapun Prabu Siwalata merupakan putra Batara Siwahoya, atau cucu Batara Kala.

Prabu Brahmasatapa menerima tantangan itu. Maka, Patih Swalacala pun undur diri kembali ke perkemahan untuk melapor kepada rajanya.

PRABU BRAHMASATAPA MENGUNGSI KE MEDANG KAMULAN

Prabu Siwalata di perkemahan dihadap Resi Swaladara dan para punggawa raksasa. Tidak lama kemudian Patih Swalacala datang melapor bahwa Prabu Brahmasatapa menerima tantangan tersebut. Prabu Siwalata sangat senang dan ia pun memimpin pasukan Medang Sindula berangkat menggempur istana Gilingwesi.

Di lain pihak, Prabu Brahmasatapa juga memimpin langsung pasukan Gilingwesi menghadapi serangan itu. Perang besar pun terjadi. Setelah bertempur beberapa hari, pihak Gilingwesi akhirnya terdesak dan tidak mampu lagi menghadapi kekuatan musuh yang begitu besar. Prabu Brahmasatapa sekeluarga terpaksa mengungsi ke Kerajaan Medang Kamulan untuk meminta pertolongan Sri Maharaja Purwacandra.

PRABU SIWALATA INGIN MENYERANG KAHYANGAN SURALAYA

Prabu Siwalata kini telah menduduki takhta Kerajaan Gilingwesi. Ia kemudian berunding dengan Patih Swalacala dan Resi Swaladara untuk melanjutkan rencana membalaskan dendam leluhurnya. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Batara Indra di Kahyangan Suralaya. Prabu Siwalata dan Patih Swalacala lalu berangkat memimpin bala tentara menuju ke sana, sedangkan Resi Swaladara dan sebagian pasukan sisanya tetap berjaga di Kerajaan Gilingwesi.

Sesampainya di kaki Gunung Jamurdipa, Prabu Siwalata mengutus Patih Swalacala untuk menyampaikan surat kepada Batara Indra yang saat itu sedang memimpin pertemuan para dewa. Batara Indra menerima surat itu dan membaca isinya yang berisi permintaan Prabu Siwalata untuk dapat menikahi salah satu bidadari unggulan, yaitu Batari Wilotama. Batara Indra sangat marah dan langsung menolak lamaran tersebut. Karena keputusan sudah jelas, Patih Swalacala pun undur diri kembali ke perkemahan untuk melapor kepada rajanya.

Prabu Siwalata sendiri sangat senang mendengar lamarannya ditolak, karena hal ini bisa menjadi alasan baginya untuk menggempur Kahyangan Suralaya. Maka, ia pun mengerahkan pasukan raksasa yang langsung berhadapan dengan pasukan dewata yang dipimpin putra-putra Batara Indra, yaitu Batara Citranggada, Batara Citrasena, Batara Citrarata, dan Batara Arjunawangsa.

Dalam pertempuran itu, pihak raksasa berhasil membuat para dewa terdesak mundur hingga berlindung ke dalam kahyangan dan mengunci rapat-rapat Kori Selamatangkep. Batara Indra kemudian mengheningkan cipta memohon petunjuk Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka. Tidak lama kemudian datanglah Batara Narada yang diutus Batara Guru untuk mencarikan jago bagi Kahyangan Suralaya. Adapun jago tersebut adalah cicit Batara Brahma yang terlahir dampit dan saat ini menjadi murid Begawan Rukmawati di Gunung Mahendra.

DESA BANASRI MENGADAKAN SESAJI MEMINTA HUJAN

Begawan Rukmawati di Gunung Mahendra saat itu sedang menerima kedatangan para pemuka Desa Banasri yang meminta petunjuk bagaimana caranya mendatangkan hujan. Sudah beberapa bulan ini sawah dan ladang Desa Banasri dilanda kekeringan dan gagal panen. Begawan Rukmawati pun menyarankan mereka untuk mengadakan sesaji yang harus dipimpin oleh dua orang anak kembar dampit, yaitu kembar laki-laki dan perempuan. Kebetulan Begawan Rukmawati memiliki dua orang murid kembar dampit, yaitu Raden Dukutoya dan Dewi Srini yang bisa membantu memimpin sesaji tersebut. Para pemuka Desa Banasri sangat gembira dan segera mohon pamit sambil mengajak serta kedua muda-mudi itu pergi bersama mereka.

Sesampainya di Desa Banasri, Raden Dukutoya dan Dewi Srini segera memimpin sesaji sebagaimana yang telah diajarkan Begawan Rukmawati. Dewi Srini memasak bubur berbentuk butiran lonjong seperti lumut dan diberi nama Bubur Dawet, kemudian diserahkan kepada Raden Dukutoya untuk disebarkan ke tanah persawahan dan perkebunan. Setelah membaca beberapa mantra, tidak lama kemudian hujan deras pun turun mengguyur Desa Banasri, membuat seluruh penduduk merasa sangat senang dan bersuka cita.

BATARA NARADA MEMBAWA RADEN DUKUTOYA DAN DEWI SRINI KE KAHYANGAN

Setelah hujan reda, tiba-tiba Batara Narada muncul dan langsung menyambar Raden Dukutoya dan Dewi Srini. Melihat kedua muda-mudi itu hilang diculik, para pemuka Desa Banasri sangat ketakutan dan segera naik ke Gunung Mahendra untuk melapor kepada Begawan Rukmawati. Begitu menerima laporan tersebut, Begawan Rukmawati segera mengheningkan cipta untuk mengetahui duduk permasalahannya. Setelah mendapatkan kejelasan, ia pun terbang menyusul kedua muridnya itu pergi ke Kahyangan Suralaya.

Batara Narada yang telah sampai segera menghadapkan Raden Dukutoya dan Dewi Srini kepada Batara Indra. Tidak lama kemudian Begawan Rukmawati datang pula. Batara Indra menjelaskan kepada bidadari pertapa itu bahwa para dewata sangat membutuhkan bantuan Raden Dukutoya untuk menghadapi musuh kahyangan yang bernama Prabu Siwalata. Begawan Rukmawati pun mempersilakannya karena ia yakin pada kemampuan muridnya tersebut.

RADEN DUKUTOYA MENUMPAS PRABU SIWALATA

Raden Dukutoya kemudian maju ke medan pertempuran memimpin pasukan dewata menghadapi pasukan raksasa Kerajaan Medang Sindula. Pertempuran pun berlangsung sengit. Dengan cekatan Raden Dukutoya berhasil memukul mundur para raksasa tersebut dengan panah-panahnya.

Mengetahui para prajuritnya terdesak, Prabu Siwalata pun terjun ke pertempuran menghadapi Raden Dukutoya. Pertempuran seru kembali terjadi. Lagi-lagi Raden Dukutoya mendapatkan kemenangan, di mana ia berhasil membuat Prabu Siwalata tewas kehilangan nyawa.

Melihat rajanya terbunuh, Patih Swalacala ketakutan dan melarikan diri dengan sisa-sisa prajurit raksasa yang masih hidup meninggalkan Kahyangan Suralaya.

RADEN DUKUTOYA BERGANTI NAMA MENJADI BAMBANG PARIKENAN

Batara Indra sangat gembira menyambut kemenangan Raden Dukutoya. Begawan Rukmawati sendiri merasa sudah tiba saatnya untuk menceritakan jati diri Raden Dukutoya dan Dewi Srini kepada kedua muda-mudi itu. Ia pun menjelaskan bahwa mereka berdua sesungguhnya adalah putra-putri Prabu Brahmasatapa raja Gilingwesi yang lahir dari permaisuri Dewi Widati. Sejak bayi mereka dibuang ke hutan oleh Dewi Rajatadi sang istri kedua Prabu Brahmasatapa yang dilanda iri hati dan cemburu, serta menggantikan mereka dengan dua ekor anak kambing. Begawan Rukmawati lalu menemukan dan mengasuh mereka berdua hingga akhirnya sampai pada hari ini.

Batara Indra dan Batara Narada menyarankan agar Raden Dukutoya dan Dewi Srini menemui ayah mereka di Kerajaan Gilingwesi. Akan tetapi, sebaiknya mereka menggunakan nama samaran terlebih dulu, dan jangan langsung mengaku sebagai putra-putri Prabu Brahmasatapa untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman. Raden Dukutoya hendaknya mengganti nama menjadi Bambang Parikenan, sedangkan Dewi Srini mengganti nama menjadi Endang Srini. Keduanya lalu mohon pamit menuju Kerajaan Gilingwesi. Mereka merasa sangat terharu saat berpisah dengan Begawan Rukmawati yang selama ini telah merawat dan membesarkan mereka bagaikan ibu sendiri.

PRABU BRAHMASATAPA MENERIMA KEDUA ANAKNYA

Sementara itu, Prabu Brahmasatapa telah kembali ke Kerajaan Gilingwesi dengan membawa bala bantuan dari Kerajaan Medang Kamulan, yang dipimpin Raja Capala. Menghadapi serangan balasan itu, Resi Swaladara dan para prajurit raksasa yang tidak ikut menyerang Kahyangan Suralaya merasa terdesak kewalahan. Prabu Brahmasatapa akhirnya berhasil mengusir mereka pergi meninggalkan istana Gilingwesi.

Tidak lama kemudian, datanglah Bambang Parikenan dan Endang Srini menghadap Prabu Brahmasatapa dan memohon supaya diterima mengabdi di Kerajaan Gilingwesi. Prabu Brahmasatapa tertarik melihat kecantikan Endang Srini yang membuatnya terkenang kepada Dewi Widati. Ia pun bertanya apakah gadis remaja itu istri ataukah saudara Bambang Parikenan. Bambang Parikenan menjawab bahwa Endang Srini adalah saudari kembarnya. Prabu Brahmasatapa sangat senang dan menerima pengabdian Bambang Parikenan, namun dengan syarat Endang Srini harus diserahkan kepadanya untuk dijadikan sebagai istri.

Pada saat itulah Batara Narada turun dari angkasa dan melarang Prabu Brahmasatapa melanjutkan niatnya, karena Endang Srini tidak lain adalah anak kandungnya sendiri. Batara Narada menjelaskan bahwa Bambang Parikenan dan Endang Srini adalah anak kembar dampit yang dilahirkan Dewi Widati, namun dibuang ke hutan oleh Dewi Rajatadi karena cemburu. Kedua bayi itu kemudian ditukar Dewi Rajatadi dengan dua ekor bayi kambing. Setelah menceritakan semua kejadian dengan rinci, Batara Narada lalu undur diri kembali ke kahyangan.

Prabu Brahmasatapa sangat bahagia bercampur malu. Ia bahagia karena bisa berkumpul kembali dengan kedua anaknya yang lama hilang, sekaligus malu karena kurang waspada dan hampir saja menikahi putrinya sendiri. Selain itu, ia juga sangat marah kepada Dewi Rajatadi yang telah memfitnah Dewi Widati. Namun, Bambang Parikenan dan Endang Srini memohon supaya sang ayah mengampuni kesalahan ibu tiri mereka itu. Prabu Brahmasatapa mengabulkannya, tapi sejak saat itu ia menjadi enggan menyentuh Dewi Rajatadi.

Prabu Brahmasatapa lalu mengganti gelar Bambang Parikenan dan Endang Srini menjadi Raden Parikenan dan Dewi Srini. Adapun gelar Bambang dan Endang kemudian disebarluaskan untuk dipakai sebagai nama depan pemuda dan pemudi yang berasal dari pertapaan.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi




6 komentar:

  1. waduh iki cerita luuuaaawaassss nemen yo Ki??? hehehehe

    BalasHapus
  2. Lha sing laris biasane lakon Pandawa. Lakon-lakon lawas kados niki jarang payu.

    BalasHapus
  3. Ini baru aku suka min....

    BalasHapus
  4. Ini baru aku suka min....

    BalasHapus
  5. Jonggring Saloko iku ndek semeru kan ya ? Wihh Batara Guru ternyata Leluhur Arek Malang & Arek Lumajang 😊

    BalasHapus