Rabu, 07 Mei 2014

Pulau Dewa Lebur

Kisah ini menceritakan tentang peperangan antara Sanghyang Wenang melawan Nabi Suleman yang berakhir dengan kehancuran Pulau Dewa, dan disambung dengan berdirinya Kahyangan Tengguru.

Sumber dari penyusunan kisah ini adalah Serat Paramayoga karya Ngabehi Ranggawarsita, dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 07 Mei 2014

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


NAGA ANANTAWASESA MEMINTA PERLINDUNGAN

Di Kahyangan Pulau Dewa, Sanghyang Wenang menerima kedatangan sang mertua, yaitu Prabu Hari, beserta Patih Sangadik. Yang dibicarakan adalah rencana Prabu Hari untuk turun takhta dan menyerahkan Kerajaan Keling kepada cucunya, yaitu Sanghyang Tunggal. Namun, Sanghyang Wenang menjelaskan bahwa saat ini putra pertamanya itu sedang pergi berkelana. Rupanya Sanghyang Tunggal mewarisi sifat turun-temurun dari para leluhur yang suka mengembara dan melakukan tapa brata.

Sanghyang Wenang juga menceritakan bahwa Dewi Sahoti saat ini sedang mengandung untuk yang kedua kalinya dan mungkin sebentar lagi akan melahirkan. Prabu Hari sangat senang mendengar berita gembira ini dan tidak sabar menunggu kelahiran cucunya.

Tiba-tiba datang seorang raja jin berwujud ular besar bernama Naga Anantawasesa dari Kerajaan Saptapratala yang mengaku ingin menjadi pengikut Sanghyang Wenang. Tadinya ia adalah penganut agama Nabi yang diajarkan oleh Nabi Suleman di Kerajaan Bani Israil, namun kemudian tertarik untuk berpindah menjadi penganut agama Dewa. Hal ini didengar oleh pemuka bangsa jin yang mengabdi kepada Nabi Suleman, bernama Jin Sakar. Terjadilah perselisihan di mana Jin Sakar memaksa Naga Anantawasesa supaya kembali memeluk agama Nabi. Naga Anantawasesa menolak dan terjadilah pertempuran. Karena jumlah pasukan Jin Sakar lebih banyak, ia pun terdesak dan melarikan diri menuju Kahyangan Pulau Dewa untuk meminta perlindungan.

Tidak lama kemudian, Jin Sakar datang menyusul dan meminta supaya Naga Anantawasesa diserahkan kepadanya. Jin Sakar juga memperingatkan Sanghyang Wenang agar meninggalkan agama Dewa dan kembali kepada agama yang benar, yaitu yang sudah turun-temurun sejak zaman Nabi Adam. Apalagi saat ini yang menjadi pemuka agama adalah Nabi Suleman, yang juga merajai bangsa manusia, jin, dan segala jenis binatang di wilayah Bani Israil.

Sanghyang Wenang mengatakan bahwa masalah agama adalah masalah keyakinan yang tidak bisa dipaksakan. Prabu Hari kesal melihat ulah Jin Sakar dan menantangnya keluar. Pertemuan pun dibubarkan.

KELAHIRAN SANGHYANG HENING DAN DEWI SUYATI

Sanghyang Wenang menemui istrinya, Dewi Sahoti yang hendak melahirkan. Tidak lama kemudian lahirlah sepasang Akyan, laki-laki dan perempuan, yang masing-masing memancarkan cahaya. Sanghyang Wenang memandikan keduanya dengan Tirtamarta Kamandanu, sehingga memiliki wujud bayi dan dalam waktu singkat berubah pula menjadi dewasa.

Sanghyang Wenang lalu memberi nama untuk mereka berdua. Yang laki-laki diberi nama Sanghyang Hening, sedangkan yang perempuan diberi nama Dewi Suyati.

JIN SAKAR MENJADI PENGIKUT SANGHYANG WENANG

Prabu Hari berhadap-hadapan dengan Jin Sakar. Terjadilah pertempuran antara pasukan jin Kahyangan Pulau Dewa melawan pasukan jin Kerajaan Bani Israil. Pada mulanya pihak Pulau Dewa terdesak kewalahan. Namun kemudian Sanghyang Wenang turun ke medan laga dan mengeluarkan Aji Pangabaran, membuat Jin Sakar dan para prajuritnya terkulai lemas tanpa daya dan menyerah kalah.

Jin Sakar mohon ampun dan menyatakan diri tunduk kepada Kahyangan Pulau Dewa. Sanghyang Wenang lalu bertanya mengapa Nabi Suleman bisa begitu berkuasa terhadap segala jenis makhluk hidup, mulai dari manusia, jin, serta binatang. Jin Sakar menceritakan bahwa Nabi Suleman memiliki cincin pusaka pemberian Tuhan bernama Cincin Maklukatgaib yang menjadi daya kesaktiannya.

Sanghyang Wenang tertarik dan ingin memiliki cincin pusaka tersebut. Prabu Hari menasihati bahwa menginginkan benda milik orang lain adalah perbuatan yang tidak baik. Namun Sanghyang Wenang mengabaikan nasihat mertuanya dan tetap memerintahkan Jin Sakar untuk pergi mencurinya.

Jin Sakar menyatakan sanggup dan segera berangkat meninggalkan Kahyangan Pulau Dewa menuju ke Negeri Bani Israil. Sementara itu, Prabu Hari menjenguk Dewi Sahoti yang baru saja melahirkan dan menemui kedua cucu barunya dengan penuh suka cita. Setelah itu, ia dan Patih Sangadik mohon pamit pulang ke Kerajaan Keling.

Sanghyang Wenang

JIN SAKAR MENCURI CINCIN MAKLUKATGAIB

Jin Sakar tiba di tempat tujuan dan diam-diam menyusup ke dalam kamar tidur Nabi Suleman. Ketika Sang Nabi sedang mandi, Cincin Maklukatgaib ditinggal di dalam kamar tidurnya. Jin Sakar yang sudah hafal kegiatan sehari-hari Nabi Suleman pun dapat mencuri cincin tersebut dan memakainya di jari. Ketika Nabi Suleman selesai mandi dan hendak mengambil cincin itu, Jin Sakar lebih dulu menyerangnya sampai pingsan dan kemudian melemparkan tubuhnya ke laut.

Setelah memakai cincin pusaka tersebut, Jin Sakar menjadi lupa diri. Ia pun menyamar sebagai Nabi Suleman dan duduk di atas takhta memimpin segenap rakyat Bani Israil. Setelah empat puluh hari bersenang-senang, Jin Sakar akhirnya teringat pada Sanghyang Wenang. Ia lalu meninggalkan Kerajaan Bani Israil dan kembali menuju Kahyangan Pulau Dewa.

NABI SULEMAN MENDAPATKAN KEMBALI CINCIN MAKLUKATGAIB

Rupanya perbuatan Jin Sakar mencuri Cincin Maklukatgaib dan menyamar menjadi Nabi Suleman telah diketahui oleh para jin lainnya. Mereka pun mengejar Jin Sakar dan berhasil menyusulnya. Terjadilah pertempuran di atas laut. Jin Sakar terdesak kewalahan dan Cincin Maklukatgaib pun jatuh ke dalam laut. Ia kemudian melarikan diri kembali ke Kahyangan Pulau Dewa.

Sementara itu, nasib Nabi Suleman yang telah dibuang ke laut oleh Jin Sakar ternyata dapat diselamatkan oleh para pencari ikan dalam keadaan sakit parah. Ia pun dirawat di desa nelayan dan setiap hari berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa supaya diberi kesembuhan.

Doa tersebut akhirnya dikabulkan. Cincin Maklukatgaib yang jatuh ke laut telah digigit oleh seekor ikan, dan ikan itu kemudian ditangkap para nelayan. Mengetahui ada yang aneh pada mulut ikan tersebut, para nalayan pun mempersembahkannya kepada Nabi Suleman.

Nabi Suleman sangat gembira bisa menemukan kembali Cincin Maklukatgaib dan langsung mendapat kesembuhan. Ia pun berterima kasih kepada para nelayan dan segera kembali ke Kerajaan Bani Israil.

SANGHYANG TUNGGAL BERKELUARGA

Di Kahyangan Selongkandi, Sanghyang Darmajaka telah memiliki lima orang anak, bernama Dewi Darmani, Sanghyang Darmana, Sanghyang Triyarta, Sanghyang Caturkaneka, dan Sanghyang Pancaresi. Adapun Dewi Darmani telah dinikahkan dengan Sanghyang Tunggal, putra sulung Sanghyang Wenang. Dari perkawinan itu telah lahir tiga orang putra, yaitu Sanghyang Rudra, Sanghyang Darmastuti, dan Sanghyang Dewanjali.

Telah cukup lama Sanghyang Tunggal tinggal di Kahyangan Selongkandi. Pada suatu hari ia bermimpi melihat Kahyangan Pulau Dewa hancur lebur karena bencana alam besar-besaran. Seketika ia pun merasa cemas terhadap keselamatan orang tuanya. Maka, ia lantas mohon pamit kepada Sanghyang Darmajaka untuk pulang ke Pulau Dewa. Sanghyang Darmajaka pun memberikan izin, serta berharap Sanghyang Wenang sekeluarga selalu mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Mahakuasa.

NABI SULEMAN MENGHANCURKAN PULAU DEWA

Di Kahyangan Pulau Dewa, Sanghyang Wenang menerima kedatangan Jin Sakar yang baru kembali dari menjalankan tugas di Kerajaan Bani Israil. Jin Sakar memohon ampun karena dirinya telah lupa diri sehingga pada akhirnya gagal mendapatkan Cincin Maklukatgaib. Sanghyang Wenang menerima laporan tersebut dengan perasaan pasrah kepada takdir Tuhan. Ia juga merasa bersalah karena tidak sepantasnya menginginkan benda milik orang lain yang bukan menjadi haknya.

Sanghyang Wenang kemudian menyambut kedatangan Sanghyang Tunggal, putra sulungnya. Mereka lalu saling becerita tentang keadaan masing-masing. Sampai akhirnya, Sanghyang Tunggal menceritakan mimpi buruk yang telah dialaminya. Baru saja Sanghyang Tunggal mengakhiri cerita, tiba-tiba terjadi bencana alam besar-besaran melanda Pulau Dewa. Ternyata Nabi Suleman telah datang secara diam-diam untuk menghukum Jin Sakar dan para pengikutnya yang telah berkhianat. Ia memasang pusaka Kasang Tumbal, sehingga menyebabkan Pulau Dewa diguncang gempa bumi dan banjir besar, serta Gunung Tunggal pun meletus hebat.

Para jin pengikut Pulau Dewa menjadi kocar-kacir dan berteriak-teriak mohon ampun. Sanghyang Wenang merasa tidak mampu menghadapi tumbal yang dipasang Nabi Suleman dan memutuskan untuk pergi mengungsi. Selain itu ia juga mengetahui cerita zaman dulu, bahwa Sayidina Anwas pernah bersumpah akan ada keturunannya yang bisa mengalahkan keturunan Sayidina Anwar, dan inilah saatnya sumpah itu menjadi kenyataan.

Dalam keadaan gawat itu, Naga Anantawasesa mengusulkan supaya Sanghyang Wenang sekeluarga mengungsi saja ke tempat tinggalnya di Kerajaan Saptapratala yang terletak di dalam perut bumi. Sanghyang Wenang akhirnya menerima usulan tersebut dan segera berangkat dengan dipandu raja jin berwujud ular besar itu.

SANGHYANG WENANG MEMBANGUN KAHYANGAN TENGGURU

Beberapa tahun kemudian Prabu Hari datang menemui Sanghyang Wenang di Kerajaan Saptapratala dan menyampaikan berita bahwa Nabi Suleman telah meninggal dunia karena usia tua. Sanghyang Wenang sekeluarga pun muncul kembali ke permukaan bumi, namun saat itu Pulau Dewa sudah hancur berkeping-keping menjadi pulau-pulau kecil.

Sanghyang Wenang kemudian pindah ke Pegunungan Himalaya dan mendirikan kahyangan baru yang tidak kalah indahnya di puncak Gunung Tengguru. Sementara itu, Prabu Hari menyatakan turun takhta dan menyerahkan Kerajaan Keling kepada Sanghyang Tunggal. Sanghyang Tunggal lalu memboyong Dewi Darmani dan ketiga putra mereka untuk tinggal di sana.

Sementara itu, Naga Anantawasesa yang telah berjasa besar dengan menyediakan Kerajaan Saptapratala sebagai tempat pengungsian Sanghyang Wenang sekeluarga juga mendapatkan anugerah. Ia pun menjadi menantu Sanghyang Wenang, yaitu dinikahkan dengan Dewi Suyati.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------





1 komentar: