Sabtu, 19 Juli 2014

Andini - Andana

Kisah ini menceritakan Sri Padukaraja Mahadewa Buda atau Batara Guru mengutuk Lembu Andini menjadi pelangi, dan kemudian memperoleh kendaraan baru bernama Lembu Andana yang berkelamin jantan. Kisah dilanjutkan dengan kepergian Batara Guru meninggalkan Pulau Jawa karena berbuat tidak adil kepada para penduduk.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 19 Juli 2014

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


KERAJAAN MEDANG KAMULAN KEMBAR DUA


Sri Padukaraja Mahadewa Buda di Kerajaan Medang Kamulan dihadap Patih Narada serta para resi dan punggawa yang disebut kaum jawata. Mereka membicarakan adanya berita bahwa bekas Kerajaan Medang Kamulan yang lama di Gunung Kamula telah diduduki seorang raja dari Tanah Hindustan bernama Prabu Sri Rajadurga.

Tidak lama kemudian datang utusan Prabu Sri Rajadurga yang bernama Patih Rajasatya menyampaikan surat tantangan dari rajanya. Surat tantangan itu menyebutkan bahwa, apabila Sri Padukaraja Mahadewa Buda kalah perang, maka Kerajaan Medang Kamulan di Gunung Mahendra harus diserahkan untuk menjadi satu dengan Medang Kamulan di Gunung Kamula. Setelah menyampaikan surat tersebut, Patih Rajasatya lalu mundur dan kembali ke perkemahan rajanya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Sri Padukaraja Mahadewa Buda segera memerintahkan Patih Narada mempersiapkan pasukan jawata Gunung Mahendra. Setelah dirasa cukup, pertemuan pun dibubarkan.

SRI PADUKARAJA MAHADEWA BUDA MENGALAHKAN PRABU SRI RAJADURGA

Pertempuran pun terjadi antara pasukan Medang Kamulan Gunung Mahendra melawan pasukan Medang Kamulan Gunung Kamula. Setelah kedua pihak kalah dan menang silih berganti, akhirnya Sri Padukaraja Mahadewa Buda turun sendiri ke medan perang menghadapi Prabu Sri Rajadurga. Terjadilah pertarungan sengit yang cukup lama, di mana akhirnya Prabu Sri Rajadurga dapat ditaklukkan dan menyerah kalah.

Ternyata Prabu Sri Rajadurga dan Patih Rajasatya tidak lain adalah penjelmaan kedua istri Batara Guru sendiri, yaitu Batari Umaranti dan Batari Parwati. Sri Padukaraja Mahadewa Buda bertanya mengapa mereka menyamar sebagai laki-laki dan menantang perang seperti ini. Batari Umaranti menjawab bahwa dirinya telah dihasut oleh Lembu Andini supaya memberontak kepada Sri Padukaraja Mahadewa Buda alias Batara Guru yang kini bertakhta di Pulau Jawa.

LEMBU ANDINI DIKUTUK MENJADI PELANGI

Sri Padukaraja Mahadewa Buda sebenarnya sudah lama curiga bahwa Lembu Andini masih menyimpan dendam atas kekalahannya dulu dan selama ini terpaksa bersedia menjadi kendaraan baginya. Selain itu, Lembu Andini juga memendam perasaan kesal karena Batara Guru telah mengutuk Batari Umayi menjadi raksasi.

Itulah sebabnya, dalam penjelmaan sebagai Sri Padukaraja Mahadewa Buda kali ini, Batara Guru sengaja tidak mengajak serta Lembu Andini, tetapi meninggalkannya di Kahyangan Jonggringsalaka. Batara Guru ingin melihat apakah Lembu Andini akan terbongkar sifat aslinya atau tidak. Ternyata kecurigaannya itu kini telah terbukti nyata.

Sri Padukaraja Mahadewa Buda kemudian mengerahkan Aji Pameling membuat Lembu Andini seketika hadir di hadapannya. Lembu Andini ketakutan dan serbasalah melihat Sri Padukaraja Mahadewa Buda telah mengetahui bahwa dirinya yang menghasut Batari Umaranti dan Batari Parwati untuk melakukan pemberontakan. Namun bagaimanapun juga, ia harus rela menerima hukuman dari sang raja dewa.

Meskipun Lembu Andini mengakui kesalahannya, namun Sri Padukaraja Mahadewa Buda tetap tidak lupa atas semua jasa-jasanya. Maka, sebagai hukuman, Lembu Andini pun dipecat sebagai kendaraan dan dikutuk menjadi pelangi supaya tetap bisa bermanfaat bagi kahyangan, yaitu sebagai tangga bagi para bidadari apabila turun ke bumi.

Sri Padukaraja Mahadewa Buda kemudian mengampuni kesalahan Batari Umaranti dan Batari Parwati serta menerima mereka sebagai permaisuri di Medang Kamulan Gunung Mahendra. Batari Umaranti lalu diberi nama gelar menjadi Dewi Maheswari, sedangkan Batari Parwati menjadi Dewi Sati.

SRI PADUKARAJA MAHADEWA BUDA MENAKLUKKAN LEMBU ANDANA


Sri Padukaraja Mahadewa Buda memerintahkan para jawata untuk mencari sapi yang mirip dengan Lembu Andini sebagai kendaraan pengganti. Sepasang raksasa penjaga gerbang, yaitu Batara Cingkarabala dan Batara Balaupata melaporkan bahwa mereka memiliki saudara tiri berwujud sapi jantan bernama Lembu Andana yang juga sakti seperti Lembu Andini. Lembu Andana tersebut adalah putra Ditya Gopatana yang lahir dari Dewi Sungkawa, sedangkan Batara Cingkarabala dan Batara Balaupata lahir dari Dewi Amatri.

Sri Padukaraja Mahadewa Buda lalu mengirim pasukan Medang Kamulan untuk menjemput Lembu Andana yang saat ini sedang bertapa di Gunung Kampud. Begitu mengetahui dirinya akan dijadikan sebagai kendaraan, Lembu Andana pun bangun dari tapa dan mengamuk menghadapi para prajurit jawata tersebut. Dalam waktu singkat pasukan Medang Kamulan dibuat kocar-kacir dan berlarian kembali ke Gunung Mahendra.

Setelah menerima laporan, Sri Padukaraja Mahadewa Buda memutuskan berangkat sendiri ke Gunung Kampud untuk menangkap Lembu Andana. Maka, terjadilah pertarungan sengit antara mereka berdua. Setelah bertempur cukup lama, Lembu Andana akhirnya menyerah kalah dan tunduk menjadi kendaraan Sri Padukaraja Mahadewa Buda.

Sri Padukaraja Mahadewa Buda melihat wujud Lembu Andana sangat mirip dengan Lembu Andini, hanya berbeda jenis kelamin saja. Jika Lembu Andini berkelamin betina, maka Lembu Andana berkelamin jantan. Oleh karena itu, Lembu Andana pun diganti namanya menjadi Lembu Nandini, dan sejak itu resmi menjadi kendaraan Sri Padukaraja Mahadewa Buda jika kelak kembali ke kahyangan.

SRI PADUKARAJA MAHADEWA BUDA MEMAKSAKAN MIMPI

Pada suatu malam, Sri Padukaraja Mahadewa Buda bermimpi menemukan sebongkah permata di puncak Gunung Mahendra, dan esok harinya ternyata ia benar-benar menemukan permata tersebut. Maka, ia lalu mengumumkan barangsiapa mimpi melakukan sesuatu, maka esok harinya harus mewujudkan mimpi tersebut. Misalnya, jika ada orang yang bermimpi mandi, maka esoknya ia harus mandi seperti pada mimpinya itu.

Peraturan baru ini membuat rakyat menjadi gembira sekaligus resah. Mereka yang bermimpi bagus tentu akan merasa senang, sedangkan yang bermimpi buruk pasti akan merasa susah. Misalnya, ada kijang bermimpi dimangsa harimau, maka esok harinya ia harus merelakan diri untuk diterkam harimau.

Namun, Sri Padukaraja Mahadewa Buda ternyata melakukan perbuatan tidak adil. Pada suatu hari ada seorang raksasa bernama Ditya Atmira yang memiliki anak perempuan bernama Ken Waktri. Mereka menghadap ke Medang Kamulan karena Ken Waktri semalam bermimpi menjadi istri Sri Padukaraja Mahadewa Buda. Sri Padukaraja Mahadewa Buda bersedia melaksanakan mimpi tersebut, namun ia juga mengaku telah bermimpi hanya sebentar saja menjadi suami Ken Waktri karena untuk selanjutnya Ken Waktri menjadi istri Batara Cingkarabala.

Mau tidak mau Ditya Atmira dan Ken Waktri pun melaksanakan keputusan tersebut. Maka dilaksakanlah pernikahan antara Sri Padukaraja Mahadewa Buda dengan Ken Waktri, yang kemudian disusul dengan pernikahan Ken Waktri dengan Batara Cingkarabala saat itu juga.

SRI PADUKARAJA MAHADEWA BUDA KEMBALI MENJADI BATARA GURU


Tersebutlah seekor bunglon bijaksana yang merasa prihatin mendengar keluh kesah penduduk Medang Kamulan yang terdiri dari berbagai jenis makhluk hidup itu. Para penduduk manusia, raksasa, gandarwa, siluman, dan binatang banyak yang kecewa terhadap kewajiban melaksakan mimpi yang telah ditetapkan Sri Padukaraja Mahadewa Buda.

Si bunglon dapat merasakan bahwa kebijaksanaan Sri Padukaraja Mahadewa Buda jauh menurun setelah kedatangan Dewi Maheswari dan Dewi Sati. Sang raja yang lama tidak berjumpa kedua istrinya itu kini lebih banyak bersenang-senang untuk memuaskan kerinduan sehingga tidak lagi memimpin Kerajaan Medang Kamulan dengan baik.

Maka, setelah membulatkan tekad, si bunglon memberanikan diri datang ke Gunung Mahendra menghadap Sri Padukaraja Mahadewa Buda. Ia menyampaikan keluhan para penduduk bahwa kewajiban melaksanakan mimpi adalah keputusan yang sangat memberatkan dan tidak masuk akal. Bagaimanapun juga tidak semua mimpi adalah petunjuk Tuhan, bahkan banyak di antaranya hanyalah bunga tidur belaka.

Sri Padukaraja Mahadewa Buda merasa sangat malu melihat ada seekor bunglon telah menegur kebijaksaannya yang dirasa memang tidak masuk akal. Maka, ia pun memutuskan kembali menjadi Batara Guru dan pergi meninggalkan Pulau Jawa. Batara Narada, Batari Umaranti, Batari Parwati, Batara Cingkarabala, Batara Balaupata, dan para jawata lainnya juga ikut serta meninggalkan Kerajaan Medang Kamulan sehingga Gunung Mahendra menjadi sepi seketika.

LIMA DEWA BERSIAP MELANJUTKAN TUGAS BATARA GURU

Batara Guru dan rombongannya telah kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka di Tanah Hindustan. Tidak lama kemudian Sanghyang Padawenang datang dan menegur kegagalan Batara Guru dalam memakmurkan Pulau Jawa karena terlena oleh peraturan melaksanakan mimpi yang tidak masuk akal. Batara Guru mohon ampun dan berniat memerintahkan kelima putranya untuk melanjutkan tugas memakmurkan Pulau Jawa tersebut.

Setelah Sanghyang Padawenang menerima usulan itu, Batara Guru pun memerintahkan Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, dan Batara Wisnu supaya mempersiapkan diri menjadi lima raja yang mengatur Pulau Jawa. Kelima dewa itu menyatakan bersedia dan berjanji melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi





1 komentar: