Jumat, 11 Juli 2014

Mahadewa Buda

Kisah ini menceritakan tentang Batara Guru yang menjelma sebagai seorang pertapa bernama Resi Mahadewa Buda untuk mengajarkan agama dan tata cara kehidupan kepada para penduduk Pulau Jawa. Ia kemudian mendirikan Kerajaan Medang Kamulan dan menjadi raja bergelar Sri Padukaraja Mahadewa Buda.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 11 Juli 2013

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

BATARA GURU MENDAPAT TUGAS KE PULAU JAWA

Di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru dihadap Batara Narada dan para putra, yaitu Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, dan Batara Wisnu. Mereka membicarakan tentang orang-orang Keling, Benggala, dan Siam yang telah berkembang biak di Pulau Jawa selama seratus tahun. Pada mulanya mereka yang datang bersama Empu Sengkala masih tekun beribadah sesuai ajaran Agama Dewa. Namun kini, anak keturunan mereka banyak yang tidak beriman dan hanya sibuk mencari makan atau berkembang biak saja.

Tidak lama kemudian Sanghyang Padawenang datang dari Kahyangan Awang-Awang Kumitir. Batara Guru menghaturkan sembah dan menceritakan keadaan Pulau Jawa yang penduduknya saat ini sudah jauh dari agama dan hidup seperti hewan saja. Sanghyang Padawenang merasa sangat prihatin mendengarnya. Maka, ia pun memerintahkan Batara Guru supaya pergi ke Pulau jawa untuk mengajarkan ilmu agama kepada para penduduk di sana. Batara Guru mematuhi perintah tersebut dan menyerahkan kepemimpinan Kahyangan Jonggringsalaka untuk sementara waktu kepada Batara Sambu dengan didampingi Batara Narada.

BATARA GURU MENJELMA MENJADI RESI MAHADEWA BUDA

Sebelum berangkat ke Pulau Jawa, Batara Guru lebih dulu berpamitan kepada sang istri, yaitu Batari Umaranti. Ia juga meninggalkan Lembu Andini di Kahyangan Jonggringsalaka untuk menemani Batari Umaranti. Setelah dirasa cukup, Batara Guru lalu menjelma menjadi seorang resi dengan menyembunyikan segala bentuk cacat tubuhnya, seperti berlengan empat, bertaring, berkaki pincang, dan berleher belang. Nama gelar yang ia pakai adalah Resi Mahadewa Buda.

Resi Mahadewa Buda pun berangkat ke Pulau Jawa dan mulai mengajarkan Agama Dewa. Para penduduk yang berusia tua menyambut gembira kedatangan Sang Resi, karena mereka samar-samar masih teringat tentang agama yang pernah dianut para leluhur yang dulu datang ke Pulau Jawa bersama Empu Sengkala. Sementara itu, para penduduk yang berusia muda pun belajar agama mulai dari awal.

Tidak hanya itu, selain bangsa manusia juga banyak pula jenis makhluk lain yang ikut belajar Agama Dewa kepada Resi Mahadewa Buda. Mereka adalah kaum raksasa, siluman, bahkan segala jenis binatang pun banyak pula yang berguru kepadanya.

Setelah berkelana menjelajahi Pulau Jawa untuk mengajarkan agama, Resi Mahadewa Buda lalu membangun sebuah padepokan di Gunung Kamula sebagai tempat tinggalnya. Di padepokan tersebut ia menerima murid dan pengikut yang semakin banyak jumlahnya dan juga beraneka ragam jenisnya.

RESI MAHADEWA BUDA MENDIRIKAN KERAJAAN MEDANG KAMULAN

Setelah mengajarkan ilmu agama selama empat puluh tahun, Resi Mahadewa Buda menerima kedatangan Batara Narada dari Tanah Hindustan, yang menyampaikan perintah Sanghyang Padawenang supaya mengajarkan pula tata cara pemerintahan kepada masyarakat Jawa yang sudah semakin berkembang kehidupannya itu.

Maka, Batara Guru pun mengubah padepokan di Gunung Kamula menjadi sebuah pusat pemerintahan, yang diberi nama Kerajaan Medang Kamulan. Ia menjadi raja di sana dengan bergelar Sri Padukaraja Mahadewa Buda, sedangkan Batara Narada menjadi menteri utama bergelar Patih Narada.

KISAH SENA SI TUNANETRA MEMOHON KEADILAN

Pada suatu hari Sri Padukaraja Mahadewa Buda menerima kedatangan seorang penduduk bernama Sena yang menghadap memohon keadilan. Ia mengeluh mengapa Tuhan Yang Mahakuasa menciptakan dirinya tidak sempurna, yaitu menderita tunanetra sejak lahir.

Sri Padukaraja Mahadewa Buda menasihati agar Sena tidak mencela ciptaan Tuhan. Namun, Sena terus-menerus memohon supaya diberi mata yang lebar agar bisa melihat pemandangan dunia. Sri Padukaraja Mahadewa Buda pun mengabulkannya. Sena berterima kasih dan meninggalkan pertemuan.

Tidak lama kemudian, Sena kembali lagi datang menghadap Sri Padukaraja Mahadewa Buda dan mengeluh ternyata memiliki mata lebar tidaklah enak, karena mudah kemasukan debu. Ia memohon agar diberi mata yang sempit saja. Sri Padukaraja Mahadewa Buda mengabulkannya. Sena pun berterima kasih dan mohon pamit keluar ruangan.

Namun, baru saja berada di luar istana, Sena terjatuh karena matanya silau melihat halilintar menyambar di angkasa. Ia pun kembali menghadap dan memohon kepada Sri Padukaraja Mahadewa Buda supaya matanya dikembalikan buta saja. Sri Padukaraja Mahadewa Buda mengabulkannya dan memberikan nasihat bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah menciptakan setiap makhluk hidup dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apa yang sangat diinginkan oleh seseorang belum tentu menjadi sumber kebahagiaannya, dan apa yang tidak disukai seseorang belum tentu menjadi sumber penderitannya. Jika ada bagian tubuh yang memiliki kekurangan, tentu ada bagian tubuh lain yang memiliki kelebihan.

Sena merenungkan nasihat tersebut dan ia pun mendapatkan pencerahan. Setelah meninggalkan istana Medang Kamulan, ia banyak belajar ilmu pengobatan dan akhirnya menjadi seorang dukun yang memberikan pengobatan kepada masyarakat luas.

SRI PADUKARAJA MAHADEWA BUDA MEMINDAHKAN MEDANG KAMULAN

Setelah lima tahun bertakhta di Gunung Kamula, Sri Padukaraja Mahadewa Buda teringat dulu ia pernah dikejar-kejar burung dara berbisa ciptaan Nabi Isa sehingga pindah ke Pulau Jawa dan membangun sebuah kahyangan baru di Gunung Mahendra. Kahyangan tersebut diberi nama Kahyangan Argadumilah, dan kini menjadi tempat kosong setelah lama ditinggalkan. Teringat pada kenangan tersebut, Sri Padukaraja Mahadewa Buda ingin sekali memindahkan pusat kerajaan Medang Kamulan dari Gunung Kamula ke Gunung Mahendra tersebut.

Demikianlah, Sri Padukaraja Mahadewa Buda dengan dibantu Patih Narada dan para menteri pun membangun kembali bekas Kahyangan Argadumilah di puncak Gunung Mahendra menjadi sebuah istana, yaitu pusat Kerajaan Medang Kamulan yang baru. Istana yang baru ini tentu saja jauh lebih indah dan lebih megah daripada istana lama di Gunung Kamula.

MEDANG KAMULAN DISERANG KERAJAAN GUA GOBAJRA

Pada suatu hari Sri Padukaraja Mahadewa Buda melihat cahaya kemilau dari arah Laut Selatan. Patih Narada pun dikirim untuk pergi menyelidiki. Ternyata cahaya itu berasal dari seorang pertapa raksasa bernama Begawan Danu. Ketika ditanya apa tujuannya bertapa, ia menjawab ingin dijadikan maharesi pujangga Kerajaan Medang Kamulan. Patih Narada lalu membawanya pergi menemui Sri Padukaraja Mahadewa Buda.

Sri Padukaraja Mahadewa Buda menerima Patih Narada yang datang membawa Begawan Danu. Setelah memberikan beberapa ujian kecerdasan, Sri Padukaraja tertarik dan menyukai ilmu pengetahuan yang dimiliki Begawan Danu. Maka, pertapa raksasa itu pun dikabulkan keinginannya, yaitu diangkat menjadi maharesi pujangga Kerajaan Medang Kamulan.

Tidak lama kemudian tiba-tiba datang serangan dari Kerajaan Gua Gobajra yang dipimpin raja raksasa bernama Prabu Danuka, anak Begawan Danu. Rupanya telah terjadi salah paham, di mana Prabu Danuka mengira ayahnya ditangkap Patih Narada untuk dimasukkan penjara.

Ketika pertempuran ramai tersebut berlangsung, Begawan Danu muncul dan langsung melerai. Setelah segala kesalahpahaman dijelaskan, Prabu Danuka sangat malu dan memohon ampun kepada Sri Padukaraja Mahadewa Buda.

SRI PADUKARAJA MAHADEWA BUDA MENDAPATKAN SEPASANG RAKSASA KEMBAR

Di antara pasukan Prabu Danuka ada dua orang raksasa kembar bernama Ditya Cingkarabala dan Ditya Balaupata yang menarik perhatian Sri Padukaraja Mahadewa Buda. Kedua raksasa kembar itu adalah putra Patih Gopatana, menteri utama pengikut Prabu Danuka. Rupanya Sri Padukaraja Mahadewa Buda sangat terkesan melihat kekuatan dan kesaktian sepasang raksasa kembar tersebut saat bertempur melawan pasukannya tadi. Ia pun meminta mereka supaya tetap tinggal di Gunung Mahendra sebagai penjaga pintu gerbang Kerajaan Medang Kamulan.

Patih Gopatana sangat senang dan mengizinkan jika kedua putranya diterima menjadi abdi Sri Padukaraja Mahadewa Buda. Kedua raksasa kembar itu pun menurut dan patuh terhadap perintah tersebut. Maka, sejak saat itu mereka pun menjadi sepasang abdi penjaga pintu gerbang Kerajaan Medang Kamulan.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi





3 komentar:

  1. Ow... Jadi inilah kenapa di gunungan wayang kulit ada gambar dua raksasa kembar penjaga pintu gerbang... 👍

    BalasHapus
  2. Wahhh,,,, kerren... Kerenn,,, trimakasih mas Heri telah tuliskan artikel ini.

    BalasHapus
  3. Memang kalo di serat Mahabarata Cingkarabala & Balaupata itu penjaga kori Selamatangkep ... yaitu pintu gerrbang kayangan Sralaya atau Jong Giri Saloka. Dan oleh Kitab Paramayoga diganti penjaga Kori Kerajaan Medang Kamulan bukan kayangan Suralaya (modifikasi pujangga Jawa R. Ng. Ronggowarsito yang bercorak Islam)

    BalasHapus