Selasa, 30 September 2014

Sintawaka Bersih Desa

Kisah ini menceritakan perjalanan Dewi Basundari mencari Jaka Wudug yang kabur dari rumah. Atas izin dewata, Dewi Basundari pun berubah menjadi laki-laki bernama Raden Sintawaka. Selanjutnya, Raden Sintawaka diambil sebagai anak angkat oleh Prabu Heryanarudra dan menjadi ahli waris Kerajaan Gilingaya dan melakukan Bersih Desa untuk membersihkan segala wabah penyakit.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustaka Raja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.
 

Kediri, 30 September 2014

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

KELAHIRAN ANAK-ANAK PRABU PALINDRIYA

Prabu Palindriya di Kerajaan Medang Kamulan sedang menunggu kelahiran anak-anaknya. Sungguh suatu kebetulan, sang permaisuri Dewi Landep dan para selir yang berjumlah dua puluh enam itu semuanya sedang mengandung bersamaan.

Ketika waktunya tiba, Dewi Landep pun melahirkan sepasang bayi perempuan dan laki-laki. Yang perempuan diberi nama Dewi Sriyuwati, sedangkan yang laki-laki diberi nama Raden Wukir.

Selang tujuh hari kemudian seorang selir melahirkan bayi laki-laki, disusul kemudian selir yang lain melahirkan bayi laki-laki pula pada tujuh hari berikutnya. Demikianlah, setiap tujuh hari sekali seorang selir Prabu Palindriya melahirkan seorang anak, sehingga tuntas kedua puluh enam putra pun lahir ke dunia dalam waktu dua puluh enam pekan setelah Dewi Landep melahirkan.

Kedua puluh enam putra Prabu Palindriya yang lahir daris selir itu masing-masing diberi nama Raden Kurantil, Raden Tolu, Raden Gumbreg, Raden Warigalit, Raden Warigagung, Raden Julungwangi, Raden Julungsungsang, Raden Galungan, Raden Kuningan, Raden Langkir, Raden Mandasiya, Raden Julungpujud, Raden Pahang, Raden Kuruwelut, Raden Marakeh, Raden Tambir, Raden Medangkungan, Raden Maktal, Raden Wuye, Raden Manahil, Raden Prangbakat, Raden Bala, Raden Wugu, Raden Wayang, Raden Kulawu, dan Raden Dukut.

Prabu Palindriya mendadak teringat pada permaisuri pertama, yaitu Dewi Sinta yang telah kabur entah ke mana. Saat meninggalkan Kerajaan Medang Kamulan dulu, Dewi Sinta sedang dalam keadaan hamil tua dan tentunya saat ini ia sudah melahirkan.

DEWI BASUNDARI MENGUSIR JAKA WUDUG

Di Desa Cangkring, Dewi Sinta yang telah memakai nama Dewi Basundari hidup sebagai rakyat jelata. Putranya yang bernama Jaka Wudug sudah berusia dua tahun dan diasuhnya seorang diri. Pada suatu hari Jaka Wudug menangis keras-keras minta makan. Saat itu Dewi Basundari masih sibuk menanak nasi. Karena kehilangan kesabarannya, Dewi Basundari pun memukul kepala Jaka Wudug menggunakan centong. Jaka Wudug ketakutan dan lari meninggalkan ibunya dengan kepala terluka di bagian belakang.

Dewi Basundari meneruskan memasak makanan. Ketika semuanya telah matang, ternyata Jaka Wudug sudah hilang entah ke mana. Dewi Basundari mencari putranya itu ke mana-mana namun tidak juga bertemu. Ia merasa sangat menyesal mengapa tadi kehilangan kesabaran dan memukul putra satu-satunya itu. Rupanya sifatnya yang suka kabur kini telah menurun kepada Jaka Wudug. Barulah sekarang ia dapat membayangkan betapa sedih perasaan ayahnya dulu ketika ia kabur dari Kahyangan Saptapratala.

DEWI BASUNDARI DIUBAH MENJADI LAKI-LAKI

Karena tidak berhasil menemukan anaknya, Dewi Basundari lalu bertapa memohon bantuan dewata. Ia merasa kesulitan jika harus berkelana dalam wujud wanita dan ingin berganti kelamin menjadi laki-laki supaya lebih leluasa dalam mencari Jaka Wudug.

Setelah beberapa hari bertapa tekun tanpa makan, tanpa tidur, akhirnya permohonan Dewi Basundari dikabulkan dewata. Ia didatangi Batara Narada yang membawa anugerah Batara Guru untuk mengubah wujudnya menjadi laki-laki. Secara ajaib, Dewi Basundari pun seketika berubah menjadi seorang laki-laki dan diberi nama baru, yaitu Raden Sintawaka.

Batara Narada lalu memberikan pelajaran ilmu kesaktian kepada Raden Sintawaka sebagai bekal menempuh perjalanan. Setelah itu, Batara Narada pun berpesan supaya Raden Sintawaka pergi ke Kerajaan Gilingaya dan mengabdi kepada Prabu Heryanarudra. Kelak, Raden Sintawaka akan kembali menjadi wanita jika sudah bertemu dengan Jaka Wudug di negeri tersebut.

Raden Sintawaka berterima kasih atas anugerah dewata, dan ia pun mohon restu berangkat menuju Kerajaan Gilingaya yang terletak di arah barat.

JAKA WUDUG MENJADI ANAK ANGKAT RESI BAGASPATI


Sementara itu, Jaka Wudug yang kabur meninggalkan rumah ternyata berlari ke arah Sungai Serayu. Karena kurang berhati-hati, kakinya pun terpeleset sehingga tubuhnya tercebur dan hanyut dibawa arus sungai tersebut. Itulah sebabnya mengapa sang ibu sama sekali tidak dapat menemukan keberadaannya.

Setelah beberapa hari hanyut terapung-apung dibawa aliran sungai, Jaka Wudug akhirnya ditemukan oleh seorang pendeta bernama Resi Bagaspati yang bertapa di tepi Sungai Serayu. Resi Bagaspati sangat heran melihat ada anak kecil berusia dua tahun hanyut di sungai tapi masih tetap hidup. Ketika Jaka Wudug siuman dari pingsan, Resi Bagaspati pun menanyai asal-usulnya. Namun, Jaka Wudug hanya bisa menyebutkan namanya tapi tidak dapat menceritakan dari mana ia berasal.

Resi Bagaspati sangat prihatin melihat keadaan anak kecil tersebut, sekaligus kagum dan heran pula melihat kemampuannya bertahan hidup. Karena tidak tahu harus diantar pulang ke mana, Resi Bagaspati pun memutuskan untuk merawat Jaka Wudug dan menjadikannya sebagai anak angkat.

RADEN SINTAWAKA BERTEMU PRABU HERYANARUDRA


Prabu Heryanarudra di Kerajaan Gilingaya suka bertani dan gemar memelihara binatang, yaitu sifat yang mirip dengan mendiang Sri Maharaja Kanwa. Pada suatu hari ia pergi ke hutan untuk memikat burung. Dilihatnya banyak burung bertengger pada dahan pohon aren. Prabu Heryanarudra lalu memerintahkan para prajurit untuk menebang dahan tersebut. Ketika ditebang, ternyata dari pohon aren itu memancar air nira yang manis rasanya.

Prabu Heryanarudra merasa senang ketika mencicipi air nira tersebut. Ia lalu memerintahkan para prajurit untuk mengumpulkan air nira sebanyak-banyaknya untuk dibawa pulang dan dimasak menjadi gula. Itulah awal mula masyarakat Jawa mengenal pembuatan gula aren.

Dalam perjalanan pulang ke istana Gilingaya, rombongan Prabu Heryanarudra diserang sekelompok harimau. Para prajurit banyak yang terluka karena diterkam dan dicakar binatang buas tersebut. Tiba-tiba muncul Raden Sintawaka membantu mengalahkan dan mengusir kawanan harimau tersebut, sehingga kembali masuk ke dalam hutan.

Prabu Heryanarudra sangat senang menerima bantuan pemuda berwajah tampan itu yang bisa mengusir kawanan harimau tanpa melukai mereka sedikit pun. Ketika Raden Sintawaka menyampaikan niatnya ingin mengabdi pada Kerajaan Gilingaya, Prabu Heryanarudra langsung menerimanya.

PRABU HERYANARUDRA MENINGGAL KARENA WABAH


Sudah bertahun-tahun lamanya Raden Sintawaka mengabdi kepada Prabu Heryanarudra namun belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Jaka Wudug, putranya. Justru yang terjadi adalah hubungannya dengan Prabu Heryanarudra yang semakin akrab bagaikan anak dan ayah. Prabu Heryanarudra memang tidak memiliki putra dan ia telah menunjuk Raden Sintawaka menjadi ahli warisnya jika meninggal kelak.

Pada suatu ketika, Kerajaan Gilingaya terserang wabah penyakit. Banyak penduduk yang mati menjadi korban. Prabu Heryanarudra turun tangan secara langsung untuk memberikan bantuan kepada para penduduk yang menderita. Akibatnya, ia pun ikut tertular wabah penyakit tersebut dan meninggal pula beberapa hari kemudian.

Sesuai wasiat Prabu Heryanarudra sebelum meninggal, takhta Kerajaan Gilingaya pun diwariskan kepada Raden Sintawaka sebagai raja selanjutnya. Patih Anindyamantri dan para menteri semua tunduk dan menyatakan dukungan mereka.

PRABU SINTAWAKA MENGADAKAN BERSIH DESA

Prabu Sintawaka lalu mengajak Patih Anindyamantri dan para menteri berunding mencari cara untuk menghentikan wabah penyakit tersebut. Patih Anindyamantri bercerita bahwa semasa muda Prabu Heryanarudra bernama Raden Jakapuring pernah berguru bersama kakaknya yang bernama Raden Pakukuhan kepada seorang brahmana di Gunung Tasik. Brahmana itu bernama Begawan Radi yang saat ini tinggal di Padepokan Andongdadapan. Mungkin Begawan Radi bisa dimintai bantuan untuk menanggulangi wabah penyakit yang saat ini melanda Kerajaan Gilingaya.

Padepokan Andongdadapan berada di luar kekuasaan Kerajaan Gilingaya ataupun Kerajaan Medang Kamulan, karena dulunya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Purwacarita yang saat ini sudah runtuh. Maka, Prabu Sintawaka pun bisa dengan leluasa pergi ke padepokan tersebut untuk menghadap Begawan Radi dan meminta petunjuk kepadanya. Begawan Radi yang tidak lain adalah penjelmaan Batara Surya segera menyanggupi permohonan tersebut. Ia lalu berangkat menuju Kerajaan Gilingaya menyertai Prabu Sintawaka.

Sesampainya di Gilingaya, Begawan Radi segera menyebarkan perintah supaya para penduduk baik di kota maupun di desa mengadakan selamatan yang disebut Sesaji Gramaweda. Perintah tersebut dalam waktu singkat segera tersebar luas ke segenap penjuru negeri untuk dilaksanakan.

Perintah Begawan Radi ternyata membuahkan hasil. Setelah diadakan selamatan secara merata, Kerajaan Gilingaya pun terbebas dari wabah penyakit. Begawan Radi menyarankan supaya selamatan seperti ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Para penduduk pun mematuhinya. Inilah awal mula terciptanya perkumpulan selamatan di Tanah Jawa. Karena masyarakat desa kesulitan menyebut istilah Sesaji Gramaweda, mereka pun lebih suka menyebutnya dengan istilah Bersih Desa.

RADEN RADITYA BERGURU KEPADA BEGAWAN RADI

Setelah tugasnya di Kerajaan Glingaya selesai, Begawan Radi kembali ke Padepokan Andongdadapan. Tidak lama kemudian datang seorang remaja bernama Jaka Wudug yang mengaku sebagai anak angkat Resi Bagaspati yang tinggal di tepi Sungai Serayu. Jaka Wudug menceritakan bahwa ayah angkatnya itu telah meninggal dan sempat menyampaikan wasiat supaya ia pergi berguru kepada Begawan Radi di Padepokan Andongdadapan.

Begawan Radi yang sudah lama mengenal Begawan Bagaspati merasa prihatin mendengar kabar kematian tersebut. Maka, ia pun menerima Jaka Wudug sebagai muridnya. Melihat wajah pemuda itu sangat tampan dan bercahaya seperti matahari, Begawan Radi pun mengganti nama Jaka Wudug menjadi Raden Raditya. Ia yakin kalau remaja ini bukanlah pemuda desa biasa, tetapi keturunan seorang raja besar.

Maka, sejak itu Jaka Wudug yang telah berganti nama menjadi Raden Raditya pun berguru kepada Begawan Radi alias Batara Surya dan tinggal di Padepokan Andongdadapan untuk mendapatkan berbagai pelajaran ilmu kesaktian.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi






Tidak ada komentar:

Posting Komentar