Jumat, 21 November 2014

Bremana - Bremani

Kisah ini menceritakan perkawinan Resi Bremana putra Prabu Brahmaraja (Batara Brahma) dengan Dewi Srihuna putri Prabu Wisnupati (Batara Wisnu). Perkawinan ini kelak akan menurunkan raja-raja Tanah Jawa, dan di antaranya ialah keluarga Pandawa dan Kurawa.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pedalangan Mangkunegaran, dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 21 Novermber 2014

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


PRABU WISNUPATI MENGUBAH MEDANG PENATARAN MENJADI PURWACARITA

Setelah mengalahkan Prabu Karungkala (Batara Kalakutana) dan Patih Kalawerdati (Resi Pulaha), Prabu Wisnupati pun menduduki bekas istana mereka di Medang Penataran dan menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan yang baru. Maka, sejak saat itu Prabu Wisnupati pun bertakhta di Kerajaan Medang Penataran, dan mengganti namanya menjadi Purwacarita, meniru nama kerajaan yang dipimpin Sri Maharaja Kanwa dahulu.

Pada suatu hari ketika Prabu Wisnupati dihadap Patih Sriyana, Raden Srigati, dan para menteri, tiba-tiba datang seorang raksasa bernama Ditya Parasya yang mengaku diutus rajanya, bernama Prabu Pulagra dari Kerajaan Medangkungwang untuk menyampaikan surat lamaran. Surat itu berisi permintaan Prabu Pulagra untuk memperistri putri Prabu Wisnupati yang bernama Dewi Srihuna.

Raden Srigati sangat marah mendengar isi surat tersebut. Ia tidak rela saudarinya diperistri seorang raja raksasa. Ditya Parasya pun diusir pergi dan lamaran itu ditolak mentah-mentah. Ditya Parasya meninggalkan istana sambil mengancam bahwa pasukan raksasa Kerajaan Medangkungwang telah bersiaga mengepung Purwacarita jika lamaran raja mereka ditolak.

Sepeninggal sang raksasa, Prabu Wisnupati mengungkapkan pendapatnya bahwa ia juga tidak setuju jika Dewi Srihuna diperistri Prabu Pulagra. Namun, ia menyayangkan sikap Raden Srigati yang suka tergesa-gesa dan terburu nafsu. Sebagai calon raja, seharusnya Raden Srigati lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, juga hendaknya mampu mengendalikan amarah dengan lebih baik.

Raden Srigati menyadari kekeliruannya. Namun, ia sudah terlanjur menolak lamaran Prabu Pulagra sehingga mau tidak mau harus bertanggung jawab menghadapi tantangan Kerajaan Medangkungwang tersebut. Raden Srigati lalu mohon pamit memimpin pasukan Purwacarita menghadapi ancaman musuh dengan didampingi punggawa bernama Arya Yadupura.

PASUKAN MEDANGKUNGWANG MENGEPUNG PURWACARITA

Sementara itu, Ditya Parasya telah kembali ke perkemahan di luar kota Purwacarita untuk menghadap Prabu Pulagra dan Patih Pulaswa. Ia melaporkan bahwa lamaran Prabu Pulagra terhadap Dewi Srihuna telah ditolak mentah-mentah oleh Raden Srigati yang mewakili Prabu Wisnupati. Prabu Pulagra justru merasa sangat senang karena dengan demikian ia memiliki alasan untuk menyerang Kerajaan Purwacarita demi membalaskan kematian ayahnya. Adapun Prabu Pulagra dan Patih Pulaswa tidak lain adalah dua orang putra Resi Pulaha (Patih Kalawerdati) yang dulu tewas di tangan Prabu Wisnupati.

Prabu Pulagra lalu memerintahkan empat punggawa, yaitu Ditya Parasya, Ditya Daruka, Ditya Sarana, dan Ditya Puyaksa untuk memimpin pasukan Medangkungwang menggempur ibu kota Purwacarita. Keempat punggawa itu mohon pamit lalu berangkat melaksanakan perintah.

Di lain pihak, Raden Srigati, Arya Yadupura, dan pasukan Purwacarita telah bersiaga menghadapi serangan musuh. Maka, begitu kedua pasukan bertemu terjadilah pertempuran besar. Mula-mula Raden Srigati dan Arya Yadupura berhasil mendesak mundur keempaat punggawa raksasa itu beserta pasukan mereka. Namun, setelah Prabu Pulagra dan Patih Pulaswa terjun ke medan pertempuran, keadaan menjadi berbalik. Pasukan raksasa kini berhasil mendesak mundur pihak Purwacarita hingga masuk ke dalam kota. Raden Srigati dan Arya Yadupura pun menutup rapat-rapat gerbang kota sehingga para raksasa tidak dapat menerobos masuk.

Prabu Pulagra lalu memerintahkan keempat punggawa bersama sebagian prajurit untuk tetap mengepung ibu kota Purwacarita, sedangkan dirinya bersama Patih Pulaswa kembali ke perkemahan.

Sementara itu, Raden Srigati masuk ke istana untuk melaporkan kekalahannya dan memohon kepada sang ayah supaya turun tangan menghadapi musuh. Namun, Prabu Wisnupati meramalkan bahwa Prabu Pulagra hanya bisa dikalahkan oleh orang yang kelak menjadi jodoh Dewi Srihuna, putrinya.

PRABU BRAHMARAJA MENDAPATKAN PERINTAH BERBESAN DENGAN PRABU WISNUPATI

Prabu Brahmaraja (Batara Brahma) di Kerajaan Gilingwesi dihadap Raden Brahmanaresi, Raden Brahmaniskala, Raden Brahmaniyata, Patih Suktina, dan para menteri. Tiba-tiba datang Batara Narada yang diutus Batara Guru untuk menyampaikan perintah supaya Prabu Brahmaraja berbesan dengan Prabu Wisnupati. Kelak perkawinan ini diramalkan akan menurunkan raja-raja Tanah Jawa. Maka, Prabu Brahmaraja pun memerintahkan Raden Brahmanaresi untuk berangkat mempersunting putri Kerajaan Purwacarita sesuai perintah tersebut.

Raden Brahmanaresi selaku pangeran mahkota yang berkedudukan di Kesatrian Gilingeksi telah menikah, sehingga ia mengusulkan supaya adiknya saja yang bernama Raden Brahmanisita atau Raden Brahmaniyama yang dinikahkan dengan putri Prabu Wisnupati. Adapun Raden Brahmaniskala sudah menikah, sedangkan Raden Brahmaniyata masih belum cukup umur untuk membangun rumah tangga.

Prabu Brahmaraja menerima usulan Raden Brahmanaresi itu. Ia lalu memerintahkan Raden Brahmaniskala untuk memanggil Raden Brahmanisita dan Raden Brahmaniyama yang saat ini sedang bertapa di Gunung Saptaharga, sedangkan Patih Suktina diperintahkan pergi ke Kerajaan Purwacarita untuk menyampaikan lamaran kepada Prabu Wisnupati.

PATIH SUKTINA MENYUSUP KE DALAM KOTA PURWACARITA

Patih Suktina dan para pengawal berangkat meninggalkan Kerajaan Gilingwesi. Setelah menempuh perjalanan, mereka akhirnya sampai di dekat ibu kota Purwacarita dan melihat pasukan raksasa Medangkungwang sedang mengepung di sana. Patih Suktina pun menyamar sebagai pedagang makanan untuk mengelabui para raksasa itu.

Melihat rombongan para pedagang datang membawa makanan, para raksasa pun ramai-ramai membeli dagangan mereka. Namun, Patih Suktina telah mencampur makanan dagangannya dengan sari tanaman kecubung sehingga para raksasa itu pun mabuk kepayang dan kehilangan kesadaran mereka.

Setelah para raksasa dapat dilumpuhkan, Patih Suktina dan para pengawal bergegas menuju gerbang ibu kota Purwacarita. Patih Sriyana yang mengenali mereka segera membukakan pintu gerbang dan menyambut kedatangan utusan Kerajaan Gilingwesi itu dengan penuh rasa haru.

Patih Sriyana lalu mengantarkan Patih Suktina menghadap Prabu Wisnupati untuk menyampaikan surat lamaran dari Prabu Brahmaraja. Prabu Wisnupati membaca surat tersebut dan menyatakan bersedia menerima lamaran itu asalkan ada putra Prabu Brahmaraja yang mampu membantunya mengatasi kepungan musuh dari Kerajaan Medangkungwang.

Mendengar keputusan itu, Patih Suktina segera mohon pamit untuk menyampaikannya kepada Prabu Brahmaraja di Kerajaan Gilingwesi. Selagi para raksasa masih pingsan akibat pengaruh makanan beracun tadi, Patih Suktina dan para pengawalnya pun buru-buru pergi meninggalkan Kerajaan Purwacarita.

RESI BREMANA DAN RESI BREMANI MENDAPAT PERINTAH MENIKAH

Sementara itu, Raden Brahmaniskala telah sampai di Gunung Saptaharga untuk membangunkan kedua adiknya yang sedang bertapa. Kedua adiknya itu adalah Raden Brahmanisita dan Raden Brahmaniyama yang masing-masing telah berganti nama menjadi lebih sederhana, yaitu Resi Bremana dan Resi Bremani.

Setelah mendengar perintah dari sang ayah untuk menikah, Resi Bremana merasa belum dapat menyanggupinya. Ia meminta supaya Resi Bremani saja yang berangkat memenuhi perintah tersebut. Resi Bremani tidak berani menolak keputusan sang kakak, dan ia pun berangkat meninggalkan Gunung Saptaharga menuju Kerajaan Gilingwesi.

Raden Brahmaniskala dan Resi Bremani telah tiba di hadapan Prabu Brahmaraja bersamaan dengan datangnya Patih Suktina yang melaporkan keadaan di Purwacarita. Mendengar syarat yang diajukan Prabu Wisnupati tersebut, Prabu Brahmaraja pun memerintahkan Resi Bremani untuk berangkat menghadapi para raksasa itu, dan membekalinya dengan senjata pusaka secukupnya.

RESI BREMANI MENGHADAPI PASUKAN MEDANGKUNGWANG

Resi Bremani bersama pasukannya telah sampai di luar ibu kota Purwacarita dan segera menggempur para raksasa yang mengepung di sana. Perang besar pun terjadi. Dengan kesaktiannya, Resi Bremani dapat menewaskan keempat punggawa Medangkungwang, yaitu Ditya Parasya, Ditya Daruka, Ditya Sarana, dan Ditya Puyaksa.

Mendengar pasukannya tertumpas, Prabu Pulagra dan Patih Pulaswa maju ke medan tempur. Kali ini Resi Bremani terdesak kewalahan dan akhirnya tertangkap oleh kedua bersaudara tersebut.

RESI BREMANA MENGALAHKAN PRABU PULAGRA

Sementara itu, Resi Bremana masih melanjutkan pertapaannya di Gunung Saptaharga. Tiba-tiba datang Batara Narada membangunkannya dan memberi tahu bahwa tapa bratanya telah diterima oleh Batara Guru. Sebagai anugerah, Batara Guru berkenan memberikan pusaka bernama Panah Guruwinda kepada Resi Bremana.

Batara Narada lalu menyerahkan Panah Guruwinda itu kepada Resi Bremana, dan juga menyampaikan kabar bahwa Resi Bremani saat ini telah tertangkap oleh Prabu Pulagra dan Patih Pulaswa. Resi Bremana sangat prihatin atas keselamatan adiknya itu. Ia pun mohon pamit kepada Batara Narada untuk berangkat menuju Kerajaan Purwacarita.

Sesampainya di sana, Resi Bremana melihat adiknya sedang disandera Prabu Pulagra dan Patih Pulaswa di depan pintu gerbang ibu kota Purwacarita. Prabu Pulagra berteriak mengancam akan membunuh Resi Bremani apabila Prabu Wisnupati tidak keluar menyerahkan diri.

Resi Bremana segera menyerang Prabu Pulagra demi menyelamatkan adiknya dari bahaya. Pertempuran pun terjadi. Resi Bremana melepaskan Panah Guruwinda yang membuat Prabu Pulagra tewas kehilangan nyawa. Sementara itu, Patih Pulaswa dapat dilukai dan menyerah kalah kepada Resi Bremana.

PRABU WISNUPATI MENGAMBIL RESI BREMANA DAN RESI BREMANI SEBAGAI MENANTU

Melihat musuh dari Kerajaan Medangkungwang telah ditumpas, Prabu Wisnupati keluar dan menyambut Resi Bremana sebagai pahlawan. Sesuai janjinya, ia pun menjodohkan Resi Bremana dengan Dewi Srihuna. Sementara itu, Resi Bremani yang juga berjasa besar menewaskan keempat punggawa raksasa dijodohkan pula dengan adik Dewi Srihuna yang bernama Dewi Srihuni.

Pada hari yang ditentukan, upacara pernikahan kedua pasangan itu pun dilaksanakan. Prabu Brahmaraja, Patih Suktina, Raden Brahmanaresi, Raden Brahmaniskala, dan Raden Brahmaniyata datang dari Kerajaan Gilingwesi untuk ikut menyaksikan. Kecantikan Dewi Srihuna membuat Raden Brahmanaresi terpesona dan jatuh hati kepadanya. Raden Brahamanaresi sangat menyesal mengapa dulu ia menolak dinikahkan dengan putri Kerajaan Purwacarita itu.

Karena penyesalannya teramat dalam, Raden Brahmanaresi pun pergi meninggalkan Tanah Jawa ke negeri seberang dengan membawa serta istrinya pula. Akhirnya, ia memilih tinggal di Gunung Indragiri dan membangun pertapaan di sana supaya bisa melupakan wajah cantik Dewi Srihuna.

Prabu Brahmaraja sangat prihatin mengetahui putra mahkotanya itu pergi tanpa pamit. Ia lantas menyerahkan Kesatrian Gilingeksi kepada Raden Brahmaniskala.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi




2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Waaao cocok Mpu...iki sesumber Pustakarajapurwa.......

    BalasHapus