Selasa, 17 Juni 2014

Dara Wisa

Kisah ini menceritakan tentang kehancuran Kahyangan Tengguru akibat serangan burung dara berbisa buatan Nabi Isa. Batara Guru terpaksa mengungsi ke sebuah pulau panjang yang kemudian diberi nama Pulau Jawa. Di pulau itu, ia membangun tempat tinggal baru bernama Kahyangan Argadumilah.

Kisah ini disusun berdasarkan Serat Paramayoga yang dipadukan dengan naskah-naskah lainnya, dengan sedikit pengembangan.
Kediri, 17 Juni 2014

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

RENCANA BATARA GURU MENYERANG BANI ISRAIL

Batara Guru di Kahyangan Tengguru bersama para putra, yaitu Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, dan Batara Wisnu sedang membicarakan rencana menyerang Kerajaan Bani Israil dan menyebarluaskan Agama Dewa di sana. Rupanya Batara Guru masih penasaran karena sampai sekarang belum juga bisa menaklukkan negeri para nabi tersebut.

Batara Wisnu memohon supaya sang ayah mengurungkan niat, karena tidak baik memaksakan agama kepada orang lain. Lagipula, Kerajaan Bani Israil saat ini sudah menjadi jajahan Kerajaan Rum, dan bukan lagi sebuah negeri yang merdeka.

Batara Guru marah dan menuduh Batara Wisnu telah bersekongkol dengan kaum Bani Israil. Batara Guru tetap pada pendirian untuk memaksakan Agama Dewa kepada penduduk Bani Israil, sebagai balasan atas perbuatan Nabi Sulaiman yang telah menghancurkan Kahyangan Pulau Dewa dahulu kala. Mengenai Kerajaan Rum yang saat ini berkuasa, itu bisa diatur nanti. Bila perlu, setelah menaklukkan Kerajaan Bani Israil, pasukan dewata akan bergerak menaklukkan Kerajaan Rum sekalian.

Batara Wisnu tidak berani membantah lagi. Batara Guru lalu memerintahkan Batara Sambu untuk mengumpulkan dan memimpin pasukan dewata serta memulai penyerangan.

PASUKAN DEWATA MENYERANG BANI ISRAIL


Batara Sambu dan para adik, yaitu Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, dan Batara Wisnu, serta beberapa sepupu, yaitu Batara Wrehaspati, Batara Kuwera, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Temburu, dan Batara Kamajaya menyusun rencana penyerangan terhadap Kerajaan Bani Israil sesuai perintah Batara Guru. Sebenarnya Batara Sambu juga kurang setuju terhadap rencana ini. Akan tetapi, ia tidak memiliki keberanian seperti Batara Wisnu dalam menentang perintah sang ayah. Ia hanya bisa berharap semoga peperangan kali ini bisa berjalan dengan baik tanpa menjatuhkan banyak korban. Setelah dirasa cukup, mereka pun menyiapkan pasukan dewata dan berangkat menuju ke arah barat.

Sesampainya di wilayah Kerajaan Bani Israil, pasukan dewata mulai mengadakan pengrusakan. Para penduduk dipaksa untuk meninggalkan Agama Nabi dan beralih memeluk Agama Dewa. Hanya Batara Wisnu yang terlihat diam saja dengan perasaan sangat prihatin.

Pasukan Kerajaan Bani Israil dengan dibantu pasukan Kerajaan Rum mengadakan perlawanan, namun mereka semua tidak mampu menghadapi kekuatan para dewa. Pasukan dewata terus-menerus maju menguasai wilayah Bani Israil.

Batara Sambu.

NABI ISA MENCIPTAKAN BURUNG DARA BERBISA

Pada saat itu hidup seorang keturunan Sayidina Anwas yang bernama Nabi Isa. Ia didatangi para murid yang memohon supaya Nabi Isa turun tangan menyelamatkan Kerajaan Bani Israil dari kehancuran. Nabi Isa lantas mengambil tanah liat dan membentuknya menjadi boneka burung dara. Setelah meniupnya, secara ajaib tiba-tiba boneka tanah liat itu hidup menjadi burung dara sungguhan yang dapat terbang di angkasa, tentu saja atas izin Tuhan Yang Mahakuasa.

Burung dara ajaib itu melesat ke angkasa dan menyerang para dewa. Paruhnya mampu menyemburkan bisa panas yang melukai kulit para dewa. Selain itu, burung tersebut juga mampu terbang cepat dan sangat gesit sehingga para dewa tidak mampu menangkapnya. Melihat keadaan telah berbalik, Batara Sambu pun memerintahkan pasukan dewata supaya mundur kembali ke Gunung Tengguru.

BATARA GURU MENGUNGSI KE SEBERANG TIMUR

Batara Sambu dan pasukan dewata telah kembali dan menghadap Batara Guru untuk menyampaikan apa yang telah terjadi. Tak disangka, burung dara ajaib tetap mengejar dan merusak bangunan kahyangan. Para dewa dan bidadari pontang-panting berlarian terkena semburan bisa panas dari paruhnya.

Batara Guru sendiri juga kesulitan untuk menangkap burung dara ciptaan Nabi Isa tersebut. Dalam keadaan terdesak inilah Batara Guru baru menyadari kesalahannya yang telah melanggar pesan Sanghyang Padawenang untuk tidak mengganggu penduduk Bani Israil.

Batara Guru merasa sangat berduka dan segera memerintahkan semua dewa dan bidadari untuk mengungsi meninggalkan Kahyangan Tengguru. Para dewa lalu masuk ke dalam Balai Marcukunda, sedangkan para bidadari masuk ke dalam Balai Marakata. Batara Bayu yang perkasa lalu mengangkat kedua balai tersebut dan membawanya terbang sekencang-kencangnya ke arah timur dengan mengerahkan kekuatan angin.

Setelah menyeberangi Samudra Hindia, Batara Bayu sampai di sebuah pulau yang membentang panjang dari ujung utara-barat dan berbelok ke timur. Pulau tersebut tidak lain adalah gabungan Sumatra, Jawa, dan Bali di masa sekarang yang saat itu masih satu kesatuan. Batara Guru lalu memerintahkan Batara Bayu untuk berhenti di Tanah Padang, di bagian Pulau Sumatra sekarang.

BATARA WISNU MEMUSNAHKAN DARA BERBISA

Setelah Batara Bayu menurunkan kedua balai, tak disangka burung dara ajaib masih mengejar dan kembali menyemburkan bisa panas ke arah para dewa dan bidadari. Batara Guru curiga melihat Batara Wisnu yang tetap segar bugar, sama sekali tidak terluka oleh semburan bisa panas tersebut.

Batara Wisnu terpaksa mengaku, bahwa ia diam-diam menjalin persahabatan dengan Pendeta Usmanaji dari Bani Israil, dan pernah bertukar ilmu dengan orang itu sehingga ia mampu menangkal semburan bisa panas burung dara tersebut. Batara Guru sangat marah dan menuduh putra bungsunya itu telah berkhianat.

Batara Wisnu berduka mendapat tuduhan demikian. Ia lantas mohon izin untuk maju menghadapi si burung dara. Batara Ramayadi melaporkan bahwa dirinya telah menyelesaikan sebuah senjata ampuh bernama Cakra Sudarsana. Senjata tersebut berwujud piringan bergigi tajam, yang kemudian dipinjamkan kepada Batara Wisnu atas izin Batara Guru.

Batara Wisnu maju menerima Cakra Sudarsana, kemudian melemparkannya ke arah burung dara berbisa sambil mengucapkan doa permohonan kepada Tuhan Yang Mahakuasa di dalam hati. Kali ini si burung dara tidak bisa lagi menghindar. Begitu terkena senjata Cakra Sudarsana, burung ajaib itu langsung hancur berkeping-keping menjadi bara api yang jatuh di kaki Gunung Marapi.

Batara Guru sangat senang melihat keberhasilan Batara Wisnu dan meminta maaf atas tuduhan tadi. Ia juga menetapkan bahwa senjata Cakra Sudarsana mulai saat ini resmi menjadi pusaka pribadi Batara Wisnu. Batara Wisnu sangat berterima kasih dan menerimanya dengan suka cita.

PARA DEWA TERKENA RACUN CALAKUTA


Tersebutlah seorang raja siluman bernama Danghyang Calakuta yang menguasai segenap hewan berbisa di Kerajaan Wisabawana yang terletak di kaki Gunung Marapi. Ia sangat terkejut karena tiba-tiba saja ada sejumlah kepingan bara api yang jatuh menimpa tempat tinggalnya. Akibatnya, terjadilah kebakaran hebat yang membuat banyak hewan berbisa anak buahnya tewas menjadi korban.

Danghyang Calakuta sangat marah dan menyelidiki apa yang sebenarnya telah terjadi. Setelah mengetahui kalau bara api tersebut berasal dari bangkai burung dara yang dibunuh dewa, maka ia pun merencanakan pembalasan yang setimpal. Dengan kesaktiannya, Danghyang Calakuta lalu mencampurkan racun ganas ke dalam sebuah telaga jernih di kaki Gunung Marapi.

Sementara itu, para dewa dan bidadari merasa sangat kehausan akibat dikejar-kejar burung dara berbisa tadi. Mereka lalu menemukan telaga jernih di kaki Gunung Marapi dan segera minum sepuas-puasnya dengan riang gembira. Sungguh aneh, begitu meminum air telaga itu, mereka semua langsung roboh tak sadarkan diri.

Batara Guru yang belum sempat meminum air telaga tersebut segera melakukan penyelidikan. Setelah mengetahui kalau air telaga itu mengandung racun, maka ia pun menghirup habis racun dalam telaga tersebut dan menghentikannya di kerongkongan. Akibatnya, sejak saat itu Batara Guru pun memiliki leher belang biru sebagai cacat nomor dua, sehingga ia mendapatkan julukan baru sebagai Sanghyang Nilakanta.

Batara Guru kemudian menyembuhkan para dewa dan bidadari yang keracunan menggunakan Lata Mahosadi. Setelah sembuh dan bangkit dari sekarat, mereka dipersilakan minum kembali karena air telaga saat ini sudah bebas dari racun.

BATARA GURU MENGELILINGI PULAU PANJANG

Batara Guru kemudian bertemu dengan Danghyang Calakuta yang telah menebarkan racun di telaga tadi. Terjadilah pertarungan di antara mereka yang berakhir dengan kemenangan Batara Guru. Danghyang Calakuta mohon ampun dan menceritakan apa yang telah terjadi pada tempat tinggalnya di Wisabawana, sehingga ia nekat melakukan pembalasan dengan meracuni air telaga yang hendak diminum para dewata.

Batara Guru yang saat ini sedang mengalami masa prihatin merasa tidak ada gunanya memperpanjang kesalahpahaman. Ia pun menerima permohonan ampun Danghyang Calakuta, dan memintanya untuk menjadi pemandu jalan. Rupanya Batara Guru tertarik melihat pulau panjang tersebut dan ingin berjalan-jalan mengelilinginya.

Danghyang Calakuta dengan senang hati mengantarkan Batara Guru memeriksa keadaan pulau dari ujung utara-barat menuju selatan-timur. Pulau tersebut sangat indah dan subur, dengan gunung-gunung yang berbaris-baris, namun penghuninya hanya terdiri dari kaum bekasakan dan makhluk halus saja. Setelah selesai berkeliling, Batara Guru pun berterima kasih kepada Danghyang Calakuta dan mengangkatnya sebagai anggota dewata dengan bergelar Batara Calakuta.

Batara Guru kemudian memberi nama pulau panjang tempatnya tingal kini dengan sebutan Pulau Jawa.

BATARA GURU MEMBANGUN KAHYANGAN ARGADUMILAH


Dalam perjalanan mengelilingi Pulau Jawa, Batara Guru tertarik pada sebuah gunung indah bernama Gunung Mahendra, yang pada zaman sekarang disebut Gunung Lawu. Ia merasa cocok berada di sana dan ingin membangun kahyangan baru sebagai tempat tinggal sementara. Kelak jika sudah aman, ia tentu akan kembali lagi ke Kahyangan Tengguru di Pegunungan Himalaya.

Dengan kesaktiannya, Batara Guru pun membangun sebuah kahyangan di puncak Gunung Mahendra tersebut, yang kemudian ia beri nama Kahyangan Argadumilah. Setelah dirasa cukup, Balai Marcukunda dan Balai Marakata lalu ditempatkan di dalam kahyangan baru tersebut, sehingga pemandangan di Kahyangan Argadumilah kini sama persis seperti pemandangan di Kahyangan Tengguru.

JAKA SENGKALA MENJADI RAJA

Sementara itu di Kerajaan Surati, Prabu Iwasaka telah mendengar berita mengenai kepindahan Batara Guru ke Pulau Jawa karena dikejar-kejar burung dara berbisa ciptaaan Nabi Isa. Prabu Iwasaka merasa sangat prihatin dan berniat menyusul ke sana. Ia pun kembali menjadi Batara Anggajali dan menyerahkan takhta Kerajaan Surati kepada putranya, yaitu Jaka Sengkala.

Jaka Sengkala menggantikan ayahnya menjadi pemimpin Kerajaan Surati dengan bergelar Prabu Ajisaka. Setelah upacara pelantikan putranya selesai, Batara Anggajali kemudian melesat terbang menyusul Batara Guru ke Pulau Jawa dan bergabung dengan para dewata di Kahyangan Argadumilah.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------













3 komentar:

  1. Astaga,tobatlah saudaraku jangan menyesatkan manusia

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas komentarnya.

    Perkataan "menyesatkan" jelas menuduh saya sengaja melakukan tindakan untuk membelokkan keyakinan pembaca. Tapi para pembaca yang bijak pasti akan membaca dan memahami kata pengantarnya dulu, bukan langsung menghakimi hanya karena membaca judulnya. Pembaca yg bijak pasti dapat menyimpulkan bahwa kisah di atas hanyalah fiksi belaka dan dikarang oleh pujangga Keraton Jawa masa Kasunanan Surakarta sebagai bentuk kampanye legitimasi superioritas agama baru terhadap agama lama.

    BalasHapus
  3. Sabar teman kisah tersebut adalah cerita karangan hasil kreatifitas, tak ada kaitanya dengan agama. Santai saja dan kalau bisa ayo bikin kisah sendiri padti lebih seru....

    BalasHapus