Rabu, 29 November 2017

Antasena Takon Bapa



Kisah ini menceritakan kemunculan Raden Antasena, yaitu putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu, yang saya gabungkan pula dengan kisah perkawinan Raden Antareja dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa.

Kisah ini saya olah dari sumber buku Ensiklopedia Wayang Purwa karya Rio Sudibyoprono, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, November 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Raden Antasena.

------------------------------ ooo ------------------------------

BATARA BARUNA DISERANG MUSUH BERNAMA PRABU MINALODRA

Di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru sedang memimpin pertemuan para dewa yang dihadiri Batara Narada, Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Bayu, Batara Indra, dan Batara Panyarikan. Dalam pertemuan tersebut mereka membicarakan adanya gara-gara di alam manusia, yaitu putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu, sudah berusia dua puluh tahun tetapi masih berwujud bayi. Batara Guru meramalkan bayi tersebut kelak akan menjadi kesatria pembela kebenaran yang memiliki kesaktian luar biasa, serta menjadi lambang kejujuran.

Tidak lama kemudian datanglah Batara Baruna yang melaporkan adanya musuh menyerang Kahyangan Dasarsamodra. Batara Baruna adalah dewa yang bertugas memimpin dan mengatur para binatang di dalam lautan. Tiba-tiba ia diserang seorang raja raksasa bersisik ikan bernama Prabu Minalodra yang bermaksud merebut kedudukannya tersebut. Tentu saja Batara Baruna melawan karena memimpin lautan adalah amanah yang diberikan Batara Guru kepadanya. Tak disangka, Prabu Minalodra ternyata begitu perkasa. Raja raksasa itu mampu mengalahkan dan mengusir Batara Baruna dari Kahyangan Dasarsamodra.

Batara Baruna pun datang ke Kahyangan Jonggringsalaka untuk memohon bantuan Batara Guru agar menghukum Prabu Minalodra beserta pasukannya. Batara Guru menerima laporan tersebut dan segera mengirim Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Bayu, dan Batara Indra untuk menumpas Prabu Minalodra. Batara Sambu dan adik-adiknya mematuhi dan segera mohon pamit menjalankan tugas.

PARA DEWA BERTEMPUR MELAWAN PRABU MINALODRA

Prabu Minalodra berwujud raksasa dengan kulit dipenuhi sisik, di mana ia dapat hidup di dalam air dan berbicara dengan berbagai macam hewan laut. Dengan berbekal kemampuan tersebut, ia bertekad merebut kedudukan Batara Baruna sebagai penguasa bawah laut. Usahanya pun berhasil. Prabu Minalodra berhasil mengalahkan Batara Baruna dan mengusirnya pergi dari Kahyangan Dasarsamodra.

Kini Batara Baruna telah kembali lagi dengan membawa bala bantuan dari Kahyangan Jonggringsalaka. Mereka adalah putra-putra Batara Guru, yaitu Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, dan Batara Bayu. Keempatnya segera mengepung Prabu Minalodra dan memaksanya untuk menyerahkan diri. Prabu Minalodra sama sekali tidak takut. Ia pun menghadapi keempat dewa tersebut bersama pasukannya yang setia.

Maka, terjadilah pertempuran antara keempat dewa melawan Prabu Minalodra dan pasukannya. Para dewa tidak menyangka ternyata Prabu Minalodra begitu tangguh dan perkasa. Mereka merasa kesulitan menghadapi raja raksasa tersebut. Merasa tidak mungkin menang, Batara Sambu pun mengajak adik-adiknya untuk mundur kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka.

BATARA GURU MEMERINTAHKAN BATARA NARADA MENJEMPUT JAGO KAHYANGAN

Berita kekalahan para dewa telah terdengar oleh Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka. Raja para dewa itu lalu mengheningkan cipta untuk melihat masa depan. Setelah mendapatkan jawaban, ia pun menyampaikannya kepada Batara Narada yang bersiap menunggu perintah.

Batara Guru berkata bahwa jago kahyangan yang bisa mengalahkan Prabu Minalodra adalah Raden Antasena, putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu di Padepokan Kisiknarmada. Batara Narada heran karena Raden Antasena yang dimaksud itu adalah si bayi berusia dua puluh tahun yang tadi dibicarakan bersama. Batara Guru menjawab memang bayi tersebut yang ia lihat di masa depan mampu menumpas Prabu Minalodra. Ini bukan pertama kalinya dewata menjadikan bayi sebagai jago kahyangan. Bukankah dulu sewaktu Raden Gatutkaca masih bayi juga dijadikan jago untuk menumpas Prabu Kalapracona dan Patih Sekiputantra?

Batara Narada menerima petunjuk tersebut. Ia kemudian mohon pamit menuju Padepokan Kisiknarmada untuk menjemput si bayi Raden Antasena.

BATARA NARADA MENCULIK RADEN ANTASENA

Di Padepokan Kisiknarmada, Resi Mintuna sedang menghibur putrinya, yaitu Dewi Urangayu yang setiap hari selalu bersedih menangisi keadaan putranya. Sudah dua puluh tahun lamanya Raden Antasena lahir ke dunia tetapi sampai hari ini masih juga berwujud bayi. Sebenarnya Dewi Urangayu ingin melaporkan hal itu kepada sang suami di Kesatrian Jodipati, tetapi ia takut Arya Wrekodara tidak mau mengakui anaknya yang menderita kelainan tersebut.

Resi Mintuna selalu menghibur putrinya bahwa apa yang dialami Raden Antasena pasti mengandung hikmah pelajaran, dan ia yakin tidak lama lagi cucunya tersebut akan mendapat pertolongan dari dewata. Lagipula Raden Antasena ini bayi yang unik. Sejak dilahirkan, setiap hari selalu menangis dan hanya bisa diam apabila sudah direndam di dalam air laut. Demikianlah, setiap hari selama dua puluh tahun ini si bayi Raden Antasena selalu direndam di dalam air laut mulai matahari terbit hingga terbenam baru dientas kembali.

Pagi itu Raden Antasena kembali menangis keras, pertanda ia ingin direndam di dalam air laut. Seperti kebiasaan di hari-hari sebelumnya, Dewi Urangayu pun membawanya menuju pantai dengan diantar Resi Mintuna. Sesampainya di sana, Raden Antasena segera direndam di dalam air laut dan ia tidak lagi menangis seperti tadi.

Tidak lama kemudian Batara Narada datang di pantai tersebut tanpa memperlihatkan diri. Ia mengamati bayi Raden Antasena yang sedang berdiam diri di dalam air laut, lalu mengambilnya dan melesat pergi menuju Kahyangan Dasarsamodra. Dewi Urangayu terkejut dan menjerit karena putranya mendadak lenyap. Namun, Resi Mintuna berpenglihatan tajam. Ia dapat melihat kelebat Batara Narada dan segera pergi mengejarnya.

RADEN ANTASENA BERTARUNG MELAWAN PRABU MINALODRA

Prabu Minalodra di Kahyangan Dasarsamodra sedang berpesta merayakan kemenangannya memukul mundur para dewa putra Batara Guru. Tiba-tiba terdengar suara Batara Narada berteriak memanggil-manggil di luar istana. Prabu Minalodra marah dan keluar untuk menghadapinya.

Batara Narada berkata Prabu Minalodra jangan gembira dulu. Para dewa bukannya kalah, tetapi sengaja mengalah karena melawan makhluk dunia harus menggunakan jago sesama makhluk dunia pula. Prabu Minalodra bertanya apakah Batara Narada datang membawa jago tersebut. Batara Narada pun menunjukkan bayi laki-laki yang ada di gendongannya. Meskipun masih bayi, namun ia sudah berusia dua puluh tahun.

Prabu Minalodra tertawa menyebut Batara Narada sedang bercanda. Mana ada manusia sudah berusia dua puluh tahun tetapi masih berwujud bayi? Batara Narada berkata Prabu Minalodra tidak usah mengejek kalau hanya untuk menutupi rasa takutnya. Prabu Minalodra tersinggung dan segera menyerang Batara Narada. Batara Narada pun melemparkan bayi dalam gendongannya ke arah kepala Prabu Minalodra.

Tubuh si bayi Raden Antasena membentur kepala Prabu Minalodra hingga membuatnya merasa pusing. Anehnya, Raden Antasena tidak mati, tetapi tumbuh menjadi anak kecil yang sudah bisa berjalan. Prabu Minalodra merasa heran. Ia pun memukul dan menendang tubuh Raden Antasena. Sungguh ajaib, semakin dipukul tubuh Raden Antasena semakin bertambah besar, hingga akhirnya menjadi pemuda dewasa sesuai dengan usianya yang sudah dua puluh tahun.

Prabu Minalodra semakin penasaran. Ia pun mengamuk menyerang Raden Antasena. Raden Antasena melawan sebisanya. Ia memiliki kesaktian alamiah yang dengan sendirinya dapat menghadapi semua serangan Prabu Minalodra. Hingga akhirnya, Prabu Minalodra pun tewas kehilangan nyawa. Jasadnya musnah, dan seluruh kesaktiannya berpindah ke dalam diri Raden Antasena.

BATARA BARUNA MENGANGKAT RADEN ANTASENA SEBAGAI CUCU

Raden Antasena terlihat kebingunan dan Batara Narada pun mendatangi untuk menjelaskan siapa dirinya. Tidak lama kemudian datanglah Resi Mintuna. Batara Narada meminta maaf karena telah meminjam Raden Antasena untuk dijadikan sebagai jago para dewa. Resi Mintuna justru berterima kasih, karena cucunya kini telah tumbuh dewasa berkat bertarung melawan Prabu Minalodra tadi.

Raden Antasena pun memberi salam kepada Resi Mintuna. Meskipun selama dua puluh tahun ini ia berwujud bayi, namun dirinya dapat mengenali wajah kakek dan ibunya. Resi Mintuna merasa senang dan memeluk cucunya tersebut. Ketika hendak dibawa pulang ke Padepokan Kisiknarmada, tiba-tiba Batara Guru datang bersama Batara Baruna.

Batara Guru berterima kasih atas bantuan Resi Mintuna dan Raden Antasena dalam mengalahkan Prabu Minalodra. Sebagai ungkapan terima kasih, Batara Guru pun memberikan hadiah kepada Raden Antasena berupa Cupu Madusena yang berisi air kehidupan Tirtamarta Kamandanu. Batara Guru juga mengangkat Resi Mintuna sebagai dewa pelindung ikan air tawar, berdampingan dengan Batara Baruna yang merupakan dewa pelindung ikan air laut. Resi Mintuna merasa tidak pantas karena ia tidak membantu apa-apa. Namun, Batara Guru sudah memutuskan demikian, karena ia menilai tapa brata Resi Mintuna selama ini sudah mencapai derajat dewa. Maka, sejak hari itu Resi Mintuna boleh disebut dengan gelar Batara Mintuna.

Batara Baruna juga berterima kasih karena bisa kembali bertakhta di Kahyangan Dasarsamodra. Ia pun mengangkat Batara Mintuna sebagai saudara, dan menjadikan Raden Antasena sebagai cucu. Maka, sejak hari itu Raden Antasena pun disebut pula sebagai cucu Batara Baruna.

RADEN ANTASENA INGIN MENCARI AYAHNYA

Batara Guru menjelaskan bahwa selama dua puluh tahun ini, Raden Antasena dalam wujud bayi selalu menangis minta direndam di dalam air laut mulai pagi hingga senja. Kelihatannya ini seperti berendam biasa, tetapi sesungguhnya apa yang dilakukan Raden Antasena adalah tapa brata keras, di mana ia menyerap intisari kekuatan air agar merasuk ke dalam dirinya. Hal ini membuat Raden Antasena menjadi manusia sakti alamiah yang tidak terkalahkan. Selain itu, meskipun kini sudah berubah menjadi pria dewasa, namun sifat-sifat bayi yang polos dan lugu tetap terbawa, membuat Raden Antasena menjadi pribadi yang jujur apa adanya, tidak bisa berpura-pura, juga tidak mengenal basa-basi duniawi.

Batara Mintuna bersyukur atas suratan takdir yang dialami cucunya. Kelainan yang dialami Raden Antasena ternyata mengandung hikmah yang sedemikian besar. Ia pun mohon pamit untuk mengajak Raden Antasena pulang ke Padepokan Kisiknarmada. Namun, Raden Antasena menolak. Kini dirinya sudah bukan bayi lagi yang ke sana kemari dalam gendongan ibu. Sebagai seorang anak, tentunya ia ingin bertemu dengan ayah kandungnya. Meskipun selama ini berwujud bayi, namun ia dapat mendengar percakapan ibu dan kakeknya, bahwa ayah kandungnya bernama Arya Wrekodara dari Kesatrian Jodipati di Kerajaan Amarta. Untuk itu, Raden Antasena pun mohon pamit ingin bertemu dengan kesatria Pandawa nomor dua tersebut. Kelak apabila ia sudah bertemu dengan Arya Wrekodara, barulah dirinya pulang ke Padepokan Kisiknarmada untuk berkumpul kembali dengan sang ibu, yaitu Dewi Urangayu.

Batara Mintuna dapat mengerti perasaan cucunya itu, demikian pula Batara Guru, Batara Narada, dan Batara Baruna. Setelah mendapatkan petunjuk tentang arah mana yang harus ditempuh untuk menuju Kerajaan Amarta, Raden Antasena pun mohon pamit berangkat ke sana.

PRABU KRESNA MENDAPAT LAPORAN TENTANG HILANGNYA PARA PANDAWA

Sementara itu di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa sedang memimpin pertemuan yang dihadiri Raden Samba, Arya Setyaki, dan Patih Udawa. Tiba-tiba datanglah Raden Abimanyu dengan wajah tegang seperti ada masalah besar. Dalam kunjungannya itu, Raden Abimanyu melapor bahwa kelima Pandawa telah hilang diculik orang.

Awal mulanya ialah, Kerajaan Amarta diserang musuh dari Kerajaan Girikadasar yang dipimpin Prabu Ganggatrimuka, yang ingin menangkap kelima Pandawa untuk dijadikan tumbal bagi keselamatan negaranya. Dalam pertempuran itu, pasukan Girikadasar dapat dipukul mundur oleh Arya Wrekodara dan kedua putranya, yaitu Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Namun, pada malam harinya tiba-tiba Pandawa Lima lenyap dari istana. Para putra Pandawa menduga mereka pasti diculik oleh Prabu Ganggatrimuka dengan menggunakan Aji Sirep.

Prabu Kresna menerima laporan tersebut dan kemudian mengheningkan cipta memohon petunjuk dewata. Sesaat kemudian ia membuka mata dan menjelaskan bahwa memang benar Pandawa Lima saat ini berada dalam penjara Kerajaan Girikadasar sebagai tawanan Prabu Ganggatrimuka. Bulan purnama besok, mereka berlima akan disembelih sebagai tumbal bagi keselamatan negara.

Raden Abimanyu ngeri mendengarnya. Ia pun memohon bantuan Prabu Kresna agar sudi menolong para Pandawa. Prabu Kresna menjawab dirinya tidak ditakdirkan untuk melawan Prabu Ganggatrimuka dan membebaskan para Pandawa. Menurut penerawangannya, yang bisa membebaskan Pandawa Lima adalah putra Arya Wrekodara.

Mendengar itu, Raden Abimanyu merasa mendapat pencerahan. Ia segera mohon pamit kepada Prabu Kresna untuk melaporkan hal ini kepada saudara-saudaranya yang lain. Setelah Raden Abimanyu pergi, Prabu Kresna merasa penasaran dan segera mengikutinya dari belakang secara diam-diam.

RADEN ANTASENA MELERAI KEDUA KAKAKNYA

Raden Abimanyu kembali ke perbatasan di mana saudara-saudaranya telah menunggu, yaitu Raden Pancawala, Raden Antareja, Raden Gatutkaca, Raden Bratalaras, dan Raden Sumitra. Ia segera menyampaikan petunjuk yang telah diberikan Prabu Kresna, bahwa yang bisa mengalahkan Prabu Ganggatrimuka dan membebaskan para Pandawa adalah putra Arya Wrekodara. Raden Pancawala gembira mendengarnya dan segera menyerahkan kepemimpinan kepada Raden Antareja atau Raden Gatutkaca.

Raden Antareja selaku putra sulung Arya Wrekodara, merasa dirinya lebih berhak menjadi pemimpin upaya penyelamatan para Pandawa. Raden Gatutkaca menentang hal itu. Petunjuk dari Prabu Kresna menyebut tentang putra Arya Wrekodara, dan ini tidak terbatas pada anak sulung saja. Meskipun usia Raden Antareja lebih tua, tetapi Raden Gatutkaca lebih dulu menjadi punggawa Kerajaan Amarta. Dengan kata lain, pengalaman berperang Raden Gatutkaca jauh lebih banyak daripada kakaknya itu.

Raden Antareja tidak mau mengalah, begitu pula dengan Raden Gatutkaca. Keduanya sama-sama berebut siapa yang berhak menjadi pemimpin penyelamatan para Pandawa. Sudah beberapa kali kakak beradik ini terlibat pertarungan tetapi belum bisa menentukan siapa yang menang, siapa yang kalah. Kali ini mereka kembali bertarung, demi untuk menentukan siapa yang lebih berhak menjadi pemimpin rombongan.

Raden Pancawala, Raden Abimanyu, Raden Bratalaras, dan Raden Sumitra berusaha melerai kedua sepupu mereka itu, namun keduanya sudah bertarung sengit, berusaha saling mengalahkan. Kadang-kadang Raden Antareja menarik tubuh Raden Gatutkaca masuk ke dalam tanah, kadang-kadang Raden Gatutkaca menyambar tubuh Raden Antareja naik ke angkasa, seperti pertarungan yang sudah-sudah.

Pada saat itulah tiba-tiba muncul Raden Antasena menerjang mereka. Dari kepalanya muncul sepasang sungut udang yang memanjang, dan masing-masing menyengat tubuh Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Begitu tersengat sungut di kepala Raden Antasena tersebut, kedua bersaudara itu langsung jatuh terduduk dengan tubuh lemas. Keduanya tidak menyangka ada seorang pemuda berwajah lugu yang bisa menghentikan pertarungan mereka. Raden Antareja dan Raden Gatutkaca ingin bangkit berdiri tetapi kaki mereka terasa lemas tidak bertenaga sama sekali.

Raden Antasena berkata, sungguh memalukan dua punggawa Kerajaan Amarta yang masih kakak beradik harus bertarung sendiri hanya demi memperebutkan kedudukan sebagai pemimpin. Apa untungnya mereka menjadi pemimpin jika harus melukai saudara sendiri? Apa gunanya memamerkan jasa di hadapan para Pandawa, jika harus menginjak saudara sendiri? Bukankah lebih baik mereka menyisihkan ego dan meraih kemenangan dengan cara bekerja sama, bukan dengan cara bersaing saling menjatuhkan?

Raden Antareja dan Raden Gatutkaca merasa malu mendengarnya. Raden Gatutkaca lalu mempersilakan Raden Antareja saja yang menjadi pemimpin pasukan. Namun, Raden Antareja menolak karena Raden Gatutkaca jauh lebih berpengalaman sebagai punggawa daripada dirinya. Kedua bersaudara itu kembali bertengkar, tapi kali ini mereka saling berebut kalah, bukan saling berebut menang.

Raden Antasena tertawa melihat keduanya. Berdiri saja mereka tidak sanggup tapi hendak menyelamatkan para Pandawa. Urusan memimpin pasukan biarlah dirinya saja yang memimpin. Raden Antareja dan Raden Gatutkaca tidak terima karena ada pemuda polos berwajah bodoh hendak memimpin mereka. Namun, mengingat kesaktian Raden Antasena yang bisa melumpuhkan mereka hanya dengan sekali sengat, keduanya merasa gentar untuk membantah.

RADEN ANTASENA MENJADI PEMIMPIN UPAYA PEMBEBASAN PARA PANDAWA

Pada saat itulah Prabu Kresna muncul menampakkan diri. Sejak tadi ia mengintai pertarungan antara Raden Antareja dan Raden Gatutkaca, hingga kemunculan Raden Antasena yang berhasil melumpuhkan mereka hanya dengan sekali sengat. Prabu Kresna lalu mengamat-amati penampilan Raden Antasena dan ia pun menebak bahwa pemuda itu adalah putra Arya Wrekodara. Raden Antareja, Raden Gatutkaca, dan yang lain terkejut tidak percaya pada keterangan tersebut.

Prabu Kresna pun menjelaskan bahwa Arya Wrekodara memiliki tiga orang istri. Yang pertama adalah Dewi Nagagini, yaitu ibu Raden Antareja; yang kedua adalah Dewi Arimbi, yaitu ibu Raden Gatutkaca. Adapun istri yang ketiga bernama Dewi Urangayu, dan tentunya wanita itulah yang melahirkan Raden Antasena.

Raden Antasena membenarkan, bahwa dirinya memang putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu. Tadinya ia menuju Kerajaan Amarta namun ternyata di sana tidak bertemu para Pandawa. Raden Antasena lalu ditangkap Patih Tambakganggeng yang sedang meronda karena dikira penyusup yang hendak berbuat onar. Namun, dirinya justru berbalik meringkus patih Kerajaan Amarta tersebut. Dari keterangan Patih Tambakganggeng, ternyata Pandawa Lima hilang diculik Prabu Ganggatrimuka, dan saat ini para putra mereka telah berangkat untuk upaya penyelamatan. Raden Antasena lalu membebaskan Patih Tambakganggeng dan bergegas menyusul hingga akhirnya melihat Raden Antareja dan Raden Gatutkaca sedang berkelahi.

Raden Antareja dan Raden Gatutkaca saling pandang kemudian berusaha bangkit untuk memeluk Raden Antasena. Namun, kaki mereka masih lemas tiada tenaga sama sekali untuk berdiri. Raden Antasena tertawa dan kemudian kembali menyengat kedua kakaknya tersebut. Begitu tersengat untuk yang kedua kalinya, seketika tenaga Raden Antareja dan Raden Gatutkaca kembali pulih. Mereka berdua lalu bersamaan memeluk Raden Antasena. Keduanya juga setuju biarlah Raden Antasena saja yang memimpin perjuangan membebaskan para Pandawa.

Raden Pancawala, Raden Abimanyu, dan yang lain pun mendukung Raden Antasena sebagai pemimpin perjalanan. Karena semuanya sudah sepakat, Raden Antasena pun meminta restu kepada Prabu Kresna, lalu berangkat bersama saudara-saudaranya tersebut menuju Kerajaan Girikadasar.

PRABU GANGGATRIMUKA MENERIMA KUNJUNGAN KAKAKNYA

Sementara itu di Kerajaan Girikadasar, Prabu Ganggatrimuka menerima kunjungan kakaknya yang bernama Prabu Ganggapranawa dari Kerajaan Tawingnarmada. Prabu Ganggapranawa tampak datang bersama putri kandungnya yang bernama Dewi Ganggi.

Setelah saling memberi salam, Prabu Ganggapranawa pun bertanya apakah benar Prabu Ganggatrimuka telah menyekap Pandawa Lima. Prabu Ganggatrimuka membenarkan hal itu. Ia memang telah menculik para Pandawa menggunakan Aji Sirep dan menyekap mereka di dalam Konggedah. Hal ini karena Kerajaan Girikadasar sedang dilanda wabah, dan menurut petunjuk dari Batara Kala yang disembah Prabu Ganggatrimuka, bahwa wabah tersebut akan sirna apabila Pandawa Lima disekap dan disembelih sebagai korban.

Prabu Ganggapranawa merasa prihatin mendengarnya. Sejak awal ia tidak pernah setuju adiknya itu memuja Batara Kala yang mengajarkan agama sesat. Lebih baik Prabu Ganggatrimuka kembali ke jalan yang benar, dan membebaskan para Pandawa dari sekapan. Prabu Ganggatrimuka tidak terima. Ia tetap bersikeras mengorbankan nyawa para Pandawa dan mempersembahkan darahnya kepada Batara Kala.

Tiba-tiba seorang punggawa masuk dan melaporkan tentang putra-putra Pandawa yang menyerang Kerajaan Girikadasar. Prabu Ganggatrimuka marah dan segera keluar menghadapi serangan tersebut.

RADEN ANTASENA MEMBEBASKAN PARA PANDAWA

Sesungguhnya serangan para putra Pandawa itu hanyalah pancingan belaka. Raden Antasena telah menyusun siasat untuk membebaskan para Pandawa. Ia menugasi Raden Antareja, Raden Gatutkaca, Raden Abimanyu, Raden Bratalaras, dan Raden Sumitra untuk membuat kekacauan agar Prabu Ganggatrimuka keluar menghadapi mereka. Sementara itu, Raden Antasena dan Raden Pancawala menyusup melalui istana belakang untuk mencari di mana para Pandawa disekap. Setelah mencari sekian lama, mereka akhirnya melihat Pandawa Lima sedang dikurung dalam sebuah gedung kaca yang sangat tebal. Kelimanya pun tampak terbaring lemas karena kehabisan udara.

Raden Antasena mengheningkan cipta mengumpulkan kekuatan. Sepasang sungutnya kembali memanjang dan menyengat gedung kaca tersebut. Gedung kaca ini adalah pusaka Prabu Ganggatrimuka yang bernama Konggedah. Tidak ada satu pun senjata yang bisa memecahkannya. Namun, begitu tersengat oleh sungut Raden Antasena, gedung kaca tersebut menjadi hancur berkeping-keping.

Raden Antasena dan Raden Pancawala menggotong keluar para Pandawa yang sudah lemas tak sadarkan diri. Raden Antasena lalu membuka Cupu Madusena dan memercikkan air di dalamnya ke tubuh Pandawa Lima. Seketika para Pandawa pun membuka mata. Raden Pancawala sangat gembira dan memperkenalkan Raden Antasena kepada mereka.

Prabu Puntadewa sangat bersyukur dan berterima kasih atas pertolongan Raden Antasena. Namun, Arya Wrekodara tidak bisa mengakui anaknya begitu saja. Ia bersedia menerima Raden Antasena sebagai putra asalkan bisa mengalahkan Prabu Ganggatrimuka. Mendengar itu, Raden Antasena segera mohon pamit menuju ke tempat pertempuran.

PRABU GANGGATRIMUKA DIKALAHKAN RADEN ANTASENA

Sementara itu, Prabu Ganggatrimuka dan pasukannya sedang bertempur melawan Raden Antareja, Raden Gatutkaca, dan yang lain. Prabu Ganggatrimuka sendiri sangat kuat dan sulit dikalahkan. Raden Antareja dan saudara-saudaranya sudah mengerahkan segala cara, namun tidak juga berhasil mengalahkan raja Girikadasar tersebut.

Pada saat itulah Raden Antasena muncul. Dengan sekali pukul ia berhasil membuat Prabu Ganggatrimuka roboh dengan kepala pecah. Raden Antareja, Raden Gatutkaca, dan yang lain kagum melihat kesaktian Raden Antasena yang luar biasa itu. Dari luar terlihat lugu dan polos, dengan wajah bodoh, namun ternyata menyimpan kehebatan yang mengagumkan.

Prabu Ganggapranawa tidak terima melihat adiknya tewas. Ia pun maju menyerang para putra Pandawa tersebut. Raden Antareja segera maju menghadapi. Setelah bertarung cukup lama, ia akhirnya berhasil mendesak raja tersebut. Prabu Ganggapranawa terkena pukulannya dan roboh di tanah. Ketika Raden Antareja hendak memukulnya lagi, tiba-tiba Dewi Ganggi muncul menghalangi.

Dewi Ganggi memohon agar ayahnya diampuni. Sebagai ganti, biarlah dirinya saja yang dihukum mati oleh Raden Antareja. Namun, ia juga menjelaskan bahwa ayahnya sama sekali tidak terlibat kejahatan Prabu Ganggatrimuka. Dalam hal ini Prabu Ganggapranawa justru menasihati Prabu Ganggatrimuka agar membebaskan para Pandawa, namun adiknya itu tetap bersikeras memuja Batara Kala.

Raden Antareja gemetar melihat kecantikan Dewi Ganggi. Rupanya ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Prabu Kresna dan para Pandawa muncul. Prabu Ganggapranawa pun bangkit dan meminta maaf atas dosa-dosa adiknya yang kini telah tewas. Prabu Puntadewa mewakili para Pandawa menerima maaf tersebut dan mengajak Prabu Ganggapranawa duduk bersama.

Raden Arjuna yang banyak berpengalaman dalam urusan cinta dapat melihat bahwa Raden Antareja telah jatuh cinta kepada Dewi Ganggi. Ia pun meminta Arya Wrekodara agar berbesan dengan Prabu Ganggapranawa. Arya Wrekodara setuju, mengingat Raden Gatutkaca sudah lebih dulu menikah, maka sangat pantas apabila Raden Antareja selaku putra sulung juga mendapatkan istri.

Mendengar itu, Prabu Ganggapranawa sangat bahagia karena dirinya bisa berbesan dengan para Pandawa. Ia pun menanyai Dewi Ganggi apakah bersedia menjadi istri Raden Antareja. Dewi Ganggi hanya tertunduk malu. Mereka semua pun tertawa gembira. Suasana permusuhan kini berubah menjadi persaudaraan.

Arya Wrekodara adalah yang paling merasa gembira, karena para Pandawa termasuk dirinya telah lolos dari maut, sekaligus mendapat seorang menantu pula. Dan yang lebih utama, ia kini bertemu dengan putra ketiganya, yaitu Raden Antasena. Prabu Puntadewa sekali lagi berterima kasih atas pertolongan Raden Antasena yang telah memimpin upaya penyelamatan atas dirinya dan para Pandawa lainnya dengan sangat baik. Mereka semua lalu kembali ke Kerajaan Amarta untuk mengadakan syukuran, sekaligus menyusun rencana pernikahan Raden Antareja dengan Dewi Ganggi.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------

 


CATATAN : Kisah di atas sebenarnya adalah gabungan lakon Antasena Lahir dan Antasena Takon Bapa yang saya jadikan satu. Mengenai kisah Raden Antasena sudah berusia dua puluh tahun tetapi masih berwujud bayi adalah karangan saya, sebagai benang merah untuk mengisahkan asal mula Raden Antasena memiliki watak polos dan jujur seperti anak kecil. Adapun Prabu Ganggapranawa bersaudara dengan Prabu Ganggatrimuka juga tambahan dari saya, dengan maksud untuk menyisipkan kisah pernikahan Raden Antareja dengan Dewi Ganggi.


Untuk kisah pertemuan antara Arya Wrekodara dengan Dewi Urangayu dapat dibaca di sini

Untuk kisah perkawinan Arya Wrekodara dengan Dewi Urangayu dapat dibaca di sini

Untuk kisah pertemuan pertama Raden Gatutkaca dan Raden Antareja dapat dibaca di sini


















5 komentar:

  1. Lakon : Srenggini takon bopo,belum ada.

    BalasHapus
  2. Nwun sewu, sekedar saran. Upami critane makaten brarti ninggal pakem njjih. Dados kilo Kira ng nujuprono, nggih ananging puniko sudah banyak membantu para pandemen. Swun. To long mas tanggapanipun njjih..... Swuuun. Ditunggu mas

    BalasHapus
  3. Nwun sewu, sekedar saran. Upami critane makaten brarti ninggal pakem njjih. Dados kilo Kira ng nujuprono, nggih ananging puniko sudah banyak membantu para pandemen. Swun. To long mas tanggapanipun njjih..... Swuuun. Ditunggu mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ninggal pakem kepripun maksudte, setahu saya bukan ninggal pakem, cuman jarang dipentaskan utuh, oleh para dalang, karena pertimbangan waktu yang akan panjang klo keseluruhan dilakonke pas pertunjukan wayang

      Hapus