Jumat, 28 Oktober 2016

Setyaki Lahir


Kisah ini menceritakan kelahiran Raden Setyaki yang kelak menjadi sekutu penting para Pandawa dalam Perang Bratayuda. Bahkan, Raden Setyaki adalah pembunuh musuh paling banyak nomor tiga setelah Raden Bimasena dan Raden Arjuna dalam perang besar tersebut. Dalam kisah ini, saya mencoba menyajikan asal mula Raden Setyaki memiliki nama Yuyudana, Tambakyuda, Singamulangjaya, dan Wresniwira.

Kisah ini saya olah dari sumber rekaman pergelaran wayang kulit dengan dalang Ki Anom Suroto, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 28 Oktober 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Yuyudana Setyaki

DEWI WRESINI INGIN MENGENDARAI HARIMAU PUTIH
Prabu Setyajit (Ugrasena) di Kerajaan Lesanpura dihadap para menteri dan punggawa yang dipimpin Patih Setyabasa. Hari itu mereka membicarakan keadaan sang permaisuri, yaitu Dewi Wresini yang sedang mengandung untuk kedua kalinya. Anak pertama Prabu Setyajit seorang perempuan yang kini telah tumbuh remaja, bernama Dewi Setyaboma. Setelah belasan tahun berselang, tiba-tiba Dewi Wresini mengandung lagi dan kini hampir memasuki usia tujuh bulan.

Untuk itulah, Prabu Setyajit mengundang keponakan-keponakannya, yaitu Prabu Baladewa dan Raden Narayana dari Kerajaan Mandura, serta Prabu Puntadewa dan Raden Bratasena dari Kerajaan Amarta. Mereka berempat diundang untuk menyaksikan upacara siraman yang akan digelar beberapa hari lagi. Keempat keponakan tersebut telah hadir dan mereka memberikan ucapan selamat kepada Prabu Setyajit.

Tiba-tiba muncul Dewi Wresini dalam pertemuan dengan didampingi Dewi Setyaboma. Ia berkata kepada sang suami agar dicarikan seekor harimau putih yang bisa berbicara seperti manusia. Dewi Wresini ingin menunggangi harimau putih tersebut sebagai kendaraan saat upacara siraman nanti. Prabu Setyajit terkejut mendengar sang permaisuri mempunyai permintaan aneh seperti itu. Menurut berita, harimau putih hanya ada di tanah seberang, dan itu pun belum tentu bisa berbicara seperti manusia.

Prabu Puntadewa berkata kepada sang paman agar tidak berkecil hati dan tetap berprasangka baik. Jika Dewi Wresini memiliki permintaan aneh semacam itu, mungkin si bayi yang dikandung adalah calon manusia istimewa yang lain daripada yang lain. Raden Narayana membenarkan ucapan Prabu Puntadewa. Dalam hal ini Prabu Setyajit tidak perlu khawatir, karena keempat keponakan siap membantu menemukan keberadaan harimau putih tersebut.

Prabu Setyajit berterima kasih lalu bertanya bagaimana caranya. Raden Narayana menjawab dirinya mendapatkan firasat bahwa harimau putih yang bisa berbicara akan muncul di Hutan Minangsraya. Di sanalah nanti hendaknya dipasang grogol, atau perangkap macan.

Mendengar penuturan keponakannya yang terkenal waskita itu, Prabu Setyajit segera memerintahkan Patih Setyabasa untuk memasang grogol di Hutan Minangsraya. Prabu Baladewa, Prabu Puntadewa, Raden Narayana, dan Raden Bratasena bersedia ikut menyertai.

PRABU TAMBAKYUDA INGIN MEREBUT DEWI WRESINI

Tersebutlah seorang raja gagah perkasa dari Kerajaan Swalabumi yang bernama Prabu Tambakyuda. Beberapa hari yang lalu ia mimpi bertemu dengan wanita cantik bernama Dewi Wresini yang membuatnya tergila-gila. Karena mimpinya itu Prabu Tambakyuda berhasrat ingin menikahi Dewi Wresini. Ia pun memanggil panakawan Kyai Togog dan Bilung untuk meminta keterangan dari mereka.

Kyai Togog bercerita bahwa Dewi Wresini awalnya adalah bidadari kahyangan yang kini menjadi istri Prabu Setyajit raja Lesanpura. Saat itu Prabu Setyajit masih muda dan bernama Arya Ugrasena. Adapun sebab-musababnya mengapa ia dapat memperistri bidadari adalah karena jasanya berhasil menumpas musuh para dewa yang bernama Prabu Garbaruci dari Kerajaan Paranggubarja.

Prabu Tambakyuda semakin bersemangat mendengar cerita Kyai Togog. Apalagi saat mengetahui bahwa Dewi Wresini dulunya seorang bidadari, pasti dia akan selalu cantik dan awet muda selamanya. Maka, Prabu Tambakyuda pun memutuskan untuk merebut Dewi Wresini dari tangan Prabu Setyajit.

Kyai Togog dan Bilung menasihati sang raja bahwa merebut istri orang bukanlah perbuatan baik. Prabu Tambakyuda tidak peduli. Ukuran hidupnya bukan baik atau buruk, tapi puas atau kecewa. Setelah berkata demikian, ia lalu memerintahkan Patih Singamulangjaya untuk berangkat membawa pasukan menyerbu Kerajaan Lesanpura.

PASUKAN SWALABUMI DIPUKUL MUNDUR DI HUTAN MINANGSRAYA

Patih Singamulangjaya telah berangkat memimpin pasukan Swalabumi melaksanakan perintah sang raja. Mereka melewati Hutan Minangsraya tempat Patih Setyabasa memasang grogol. Begitu mendengar bahwa pasukan dari Swalabumi tersebut berniat jahat ingin merebut Dewi Wresini, Patih Setyabasa segera mengerahkan pasukan Lesanpura untuk menghalangi.

Pertempuran pun terjadi antara kedua pihak. Prabu Baladewa, Raden Bratasena, Patih Pragota, Arya Prabawa, dan Arya Udawa ikut terjun membantu Patih Setyabasa. Pasukan Swalabumi kocar-kacir dihantam mereka. Para prajurit yang masih hidup berhamburan meninggalkan Hutan Minangsraya.

Patih Singamulangjaya memerintahkan sisa-sisa prajuritnya itu agar pulang ke Swalabumi. Ia sendiri berniat merebut Dewi Wresini dengan memakai cara gelap, yaitu melalui penculikan, bukan pertempuran.

Setelah pasukannya pulang, Patih Singamulangjaya pun mengendap-endap menguping pembicaan Prabu Baladewa dengan Patih Setyabasa, yang sedang memperbaiki grogol rusak akibat pertempuran tadi. Kini Patih Singamulangjaya mengetahui bahwa Dewi Wresini sedang mengidam ingin mengendarai seekor harimau putih yang bisa berbicara saat upacara siraman tujuh bulanan nanti. Mendengar itu, Patih Singamulangjaya pun mundur untuk menyusun rencana penculikan.

RADEN PERMADI MENANGKAP HARIMAU PUTIH

Raden Permadi (Arjuna) disertai para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Lesanpura untuk ikut menyaksikan upacara siraman Dewi Wresini. Di tengah jalan mereka bertemu para raksasa pengikut Patih Singamulangjaya. Terjadilah pertarungan yang berakhir dengan kematian para raksasa tersebut.

Sementara itu, Patih Singamulangjaya masih mengintai di pinggiran Hutan Minangsraya. Ia kemudian mengheningkan cipta mengerahkan kesaktiannya. Seketika wujudnya pun berubah menjadi seekor harimau putih. Dengan wujud inilah ia berniat menculik Dewi Wresini untuk dipersembahkan kepada Prabu Tambakyuda.

Harimau putih itu lalu memasuki hutan dan memperlihatkan dirinya di hadapan Patih Setyabasa sambil berteriak-teriak menggunakan bahasa manusia. Patih Setyabasa sangat gembira melihat hewan yang diinginkan sang permaisuri telah muncul. Ia pun segera memerintahkan para prajurit untuk menggiring harimau tersebut agar masuk ke dalam grogol. Si harimau pura-pura melawan. Banyak prajurit yang terluka oleh cakaran dan terkamannya.

Pada saat itulah Raden Permadi dan para panakawan datang. Patih Setyabasa menyambut mereka dan menceritakan bahwa harimau putih ini harus ditangkap hidup-hidup untuk dipersembahkan kepada Dewi Wresini. Raden Permadi segera turun tangan membantu. Harimau putih penjelmaan Patih Singamulangjaya itu merasa bangga jika dirinya dapat ditangkap oleh kesatria tampan yang baru datang ini, daripada ditangkap oleh prajurit rendahan dari Lesanpura. Maka, ia pun pura-pura mengalah saat dipegang Raden Permadi.

Patih Setyabasa berterima kasih kepada Raden Permadi yang berhasil menjinakkan harimau putih tersebut. Mereka lalu bersama-sama meninggalkan Hutan Minangsraya, kembali ke Kerajaan Lesanpura.

HARIMAU PUTIH MENCULIK DEWI WRESINI

Prabu Setyajit di Kerajaan Lesanpura dihadap Prabu Baladewa, Raden Narayana, Prabu Puntadewa, dan Raden Bratasena. Mereka sedang membicarakan persiapan upacara siraman Dewi Wresini. Tidak lama kemudian datanglah Patih Setyabasa bersama Raden Permadi yang menggiring seekor harimau putih. Patih Setyabasa pun menceritakan semuanya dari awal, hingga pada akhirnya harimau ini berhasil dijinakkan oleh Raden Permadi.

Prabu Setyajit berterima kasih atas bantuan keponakannya tersebut. Kini semua keperluan upacara siraman telah tersedia. Prabu Setyajit pun membawa harimau putih itu masuk ke dalam kedaton dengan disertai para keponakan.

Dewi Wresini menyambut gembira kedatangan sang suami yang berhasil mewujudkan keinginannya. Prabu Setyajit berkata bahwa harimau putih ini telah jinak dan bisa dijadikan kendaraan. Si harimau pun mendekam manja seperti kucing dan mempersilakan Dewi Wresini untuk naik ke atas punggungnya.

Perlahan-lahan Dewi Wresini duduk di atas punggung harimau putih tersebut. Tiba-tiba si harimau bangkit dan melesat pergi membawa kabur Dewi Wresini. Prabu Setyajit dan yang lain terperanjat kaget. Mereka tidak menyangka harimau putih tadi hanya pura-pura jinak, padahal sebenarnya masih liar dan kini menculik Dewi Wresini.

Prabu Setyajit marah-marah menuduh Raden Permadi berniat jahat dan pura-pura menjinakkan harimau putih tadi. Raden Bratasena meminta adiknya itu berterus terang saja. Jika memang Raden Permadi berniat demikian, maka Raden Bratasena sendiri yang akan menghukumnya. Namun, jika Raden Permadi tidak bersalah, maka Raden Bratasena akan membelanya sekuat tenaga. Raden Permadi menjawab dirinya tidak tahu-menahu soal ini. Ia hanya kebetulan lewat di Hutan Minangsraya dan melihat Patih Setyabasa dan para prajurit Lesanpura sedang sibuk menghadapi seekor harimau putih, itu saja.

Raden Narayana berusaha menengahi. Ia menyarankan agar Raden Permadi memulihkan nama baiknya dengan cara menangkap kembali harimau putih tersebut, serta membawa pulang Dewi Wresini. Raden Permadi menyatakan sanggup, lalu ia pun melesat mengejar si harimau putih.

PRABU YUYUDANA MENCARI WADAH PENITISAN

Tersebutlah seorang raja bangsa kepiting bernama Prabu Yuyudana yang sedang bertapa di tepi samudera. Setelah sekian lama bertapa, ia pun didatangi Batara Narada yang menanyakan apa keperluannya. Prabu Yuyudana menjawab bahwa dirinya ingin diterima sebagai pelayan Batara Wisnu, yaitu dewa yang menjadi pujaannya.

Batara Narada berkata bahwa Batara Wisnu saat ini tidak berada di Kahyangan Utarasegara, melainkan telah lahir ke dunia sebagai Raden Narayana. Jika memang Prabu Yuyudana memiliki niat luhur ingin mengabdi kepada Batara Wisnu, maka hendaknya ia pun terlahir sebagai manusia pula dan mengabdi kepada Raden Narayana.

Menurut ramalan dewata, Raden Narayana kelak akan menjadi raja di negara Dwarawati dan memiliki senapati yang masih sepupunya sendiri, yaitu putra Prabu Setyajit yang kini masih berada dalam kandungan. Jika memang Prabu Yuyudana ingin mengabdi kepada Batara Wisnu, maka hendaknya ia menitis ke dalam rahim istri Prabu Setyajit agar kelak terlahir sebagai senapati Raden Narayana tersebut.

Prabu Yuyudana gembira mendengarnya. Ia merasa sangat bahagia apabila keinginannya terwujud bisa mengabdi pada titisan Batara Wisnu. Batara Narada pun siap membantunya agar bisa menitis kepada kesatria yang masih dalam kandungan tersebut.

Prabu Yuyudana lalu mengheningkan cipta. Rohnya pun lepas meninggalkan jasad. Batara Narada lalu membawa roh Prabu Yuyudana itu menuju Hutan Minangsraya, tempat di mana Patih Singamulangjaya menyembunyikan Dewi Wresini.

PATIH SINGAMULANGJAYA MEMAKSA DEWI WRESINI MELAHIRKAN LEBIH AWAL

Si harimau putih memang membawa Dewi Wresini bersembunyi di Hutan Minangsraya. Harimau putih itu telah kembali ke wujud manusia, yaitu Patih Singamulangjaya. Ia melihat Dewi Wresini gemetar ketakutan dengan memegangi perut. Patih Singamulangjaya yakin Prabu Tambakyuda pasti hanya menginginkan Dewi Wresini saja, tanpa disertai anak dalam kandungannya. Maka, ia pun berniat memaksa Dewi Wresini agar menggugurkan kandungannya itu sekarang juga.

Pada saat itulah Batara Narada datang bersama roh Prabu Yuyudana tanpa memperlihatkan diri. Batara Narada kemudian memasukkan roh tersebut ke dalam rahim Dewi Wresini, sehingga bersatu dengan janin yang sedang dikandungnya.

Sementara itu, Patih Singamulangjaya mulai memukuli perut Dewi Wresini untuk menggugurkan kandungannya. Awalnya Dewi Wresini menangis kesakitan. Namun, setelah roh Prabu Yuyudana masuk ke dalam rahimnya, ia menjadi lebih kuat dan tidak merintih lagi. Perlahan-lahan bayi yang dikandungnya pun keluar akibat pukulan Patih Singamulangjaya. Bayi tersebut berkelamin laki-laki, dan Dewi Wresini melahirkannya tanpa merasa sakit sedikit pun berkat perlindungan dari roh Prabu Yuyudana.

PATIH SINGAMULANGJAYA BERSATU DALAM DIRI RADEN YUYUDANA

Setelah si bayi lahir, Batara Narada pun menampakkan diri di hadapan Patih Singamulangjaya dan Dewi Wresini. Ia berkata bahwa Patih Singamulangjaya boleh membawa Dewi Wresini kepada Prabu Tambakyuda di Kerajaan Swalabumi tetapi tidak boleh meninggalkan si bayi begitu saja dalam hutan. Maka, Patih Singamulangjaya harus membunuh bayi itu terlebih dulu. Dewi Wresini menangis ingin melindungi putranya, namun Batara Narada mencegah dan berkata bahwa si bayi bisa melindungi dirinya sendiri.

Patih Singamulangjaya menyanggupi. Ia lalu memukul tubuh si bayi. Tak disangka kulit bayi ini ternyata keras seperti kepiting. Patih Singamulangjaya lalu mengangkat bayi itu dan membantingnya. Anehnya, bayi yang sudah kemasukan roh Prabu Yuyudana itu tidak mati tapi justru bisa merangkak dan berjalan.

Patih Singamulangjaya semakin heran dan penasaran. Ia menghajar, memukul, menendang, membanting, namun si bayi justru bertambah besar dan semakin kuat. Bayi itu kemudian dilemparkannya jauh-jauh dan ketika jatuh ke tanah sudah berubah wujud menjadi seorang pemuda berkumis tebal.

Batara Narada mendatangi pemuda itu dan memberinya pakaian. Dewi Wresini mendekat pula dengan perasaan haru. Pemuda itu bertanya siapa jati dirinya. Batara Narada pun menjelaskan bahwa Dewi Wresini adalah ibu kandungnya, sedangkan ayahnya bernama Prabu Setyajit raja Lesanpura. Batara Narada lalu memberi nama pemuda itu, Raden Yuyudana.

Patih Singamulangjaya datang dengan perasaan heran melihat si bayi kini telah tumbuh dewasa dalam waktu singkat. Batara Narada pun berkata pada Raden Yuyudana, bahwa laki-laki tersebut berniat menculik ibunya. Raden Yuyudana pun maju menghadapi Patih Singamulangjaya. Keduanya lalu bertarung sengit. Lama-lama Patih Singamulangjaya terdesak dan kepalanya pecah dibenturkan batang pohon.

Roh Patih Singamulangjaya perlahan keluar meninggalkan jasadnya, kemudian masuk dan bersatu ke dalam diri Raden Yuyudana. Batara Narada berkata Raden Yuyudana tidak perlu takut. Roh Patih Singamulangjaya tidak akan memengaruhi pikirannya, hanya bersemayam di tubuh sebagai penambah kekuatan saja. Setelah berkata demikian, Batara Narada pun undur diri kembali ke kahyangan.

RADEN YUYUDANA KEMBALI KE LESANPURA

Dewi Wresini sangat bahagia memeluk putranya tersebut yang tumbuh dewasa dalam waktu singkat. Ia lalu mengajak Raden Yuyudana kembali ke Kerajaan Lesanpura menemui Prabu Setyajit. Tiba-tiba muncul Raden Permadi bersama para panakawan. Raden Permadi mengira Raden Yuyudana adalah orang yang menjelma sebagai harimau putih. Sebaliknya, Raden Yuyudana mengira Raden Permadi adalah kawan Patih Singamulangjaya yang hendak membalas dendam.

Dewi Wresini buru-buru melerai mereka berdua. Ia menjelaskan bahwa mereka adalah saudara sepupu, bukan musuh. Dewi Wresini menyuruh Raden Yuyudana memanggil kakak kepada Raden Permadi. Sebaliknya kepada Raden Permadi, ia pun bercerita bahwa Raden Yuyudana merupakan putranya, yang tumbuh dewasa dalam waktu singkat akibat dihajar Patih Singamulangjaya.

Raden Permadi terkesan mendengar cerita sang bibi. Ia pun memeluk Raden Yuyudana dan bersama-sama pulang ke Kerajaan Lesanpura.

Sesampainya di Lesanpura, Prabu Setyajit menyambut kedatangan mereka. Dewi Wresini pun menceritakan semua pengalamannya dari awal sampai akhir, yaitu tentang penculikan dirinya oleh Patih Singamulangjaya, hingga putranya yang lahir dan langsung tumbuh dewasa berkat perlindungan dewata. Prabu Setyajit agak ragu mendengar penuturan istrinya. Ia merasa cerita ini sangat aneh dan tidak masuk akal.

PRABU TAMBAKYUDA DIKALAHKAN RADEN YUYUDANA

Tiba-tiba Patih Setyabasa datang melaporkan bahwa Prabu Tambakyuda raja Swalabumi datang menyerang Kerajaan Lesanpura untuk merebut Dewi Wresini. Prabu Setyajit terkejut dan sangat marah. Ia kemudian berkata bahwa Raden Yuyudana akan diakui sebagai anak apabila mampu mengalahkan Prabu Tambakyuda. Raden Yuyudana menyatakan sanggup dan segera berangkat menuju medan pertempuran. Raden Permadi pun mengikuti dari belakang.

Di medan pertempuran, Prabu Tambakyuda mengamuk membunuh banyak prajurit Lesanpura dengan bersenjatakan gada berwarna kuning, bernama Gada Wesikuning. Raden Yuyudana pun tampil menghadapinya. Pertarungan sengit terjadi. Prabu Tambakyuda heran melihat ada seorang pemuda berkulit kebal dan keras. Gada Wesi Kuning pun selalu mental bila membentur kulit Raden Yuyudana.

Terkesan oleh kekuatan lawannya membuat Prabu Tambakyuda lengah. Raden Yuyudana pun berhasil merebut Gada Wesikuning dan memukulkannya tepat pada kepala raja tersebut. Prabu Tambakyuda tewas seketika terkena senjatanya sendiri. Rohnya keluar meninggalkan jasad dan bersatu ke dalam diri Raden Yuyudana, menjadi penambah kekuatannya.

Pasukan Swalabumi berhamburan melihat sang raja tewas. Sebagian dari mereka mati menghadapi amukan Raden Bratasena, dan sebagian lagi menyerah kalah.

RADEN YUYUDANA MENDAPAT NAMA SETYAKI

Serangan dari Kerajaan Swalabumi telah dapat dihancurkan. Prabu Setyajit pun menepati janjinya, yaitu mengakui Raden Yuyudana sebagai putra. Raden Narayana juga mengatakan bahwa wujud Raden Yuyudana sangat mirip dengan Prabu Setyajit semasa muda, yaitu saat masih bernama Arya Ugrasena, sehingga tidak perlu lagi ada keraguan untuk tidak menerimanya.

Demikianlah, mulai hari itu negeri Swalabumi menjadi daerah bawahan Kerajaan Lesanpura, di mana Raden Yuyudana sebagai pemimpin di sana, dengan tetap memakai nama Arya Tambakyuda atau Arya Singamulangjaya. Selain itu, Raden Yuyudana juga mendapat nama baru, yaitu Raden Setyaki, sebagai tanda pengakuan dari Prabu Setyajit bahwa ia telah diterima sebagai putra. Dan yang terakhir, ia juga mendapat julukan, Sang Wresniwira, yang bermakna “putra Dewi Wresini yang perwira”.

Prabu Setyajit juga meminta maaf kepada Raden Permadi yang telah dituduh berbuat jahat kepada Dewi Wresini. Untuk itu, Raden Permadi diminta tinggal beberapa bulan di Kerajaan Lesanpura untuk menjadi pembimbing Raden Setyaki dalam mengendalikan bakat kesaktiannya yang alamiah.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------




CATATAN : Kisah kelahiran Raden Setyaki ini tidak terdapat dalam Serat Pustakaraja Purwa versi Raden Ngabehi Ranggawarsita, sehingga tidak ada keterangan tahun tentang kejadiannya. Mengenai kisah bahwa Raden Setyaki pernah berguru kepada Raden Arjuna, saya dapatkan dari sumber kitab Mahabharata dan saya olah seperlunya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar