Rabu, 17 Mei 2017

Irawan Lahir



Kisah ini menceritakan tentang kelahiran Bambang Irawan, yaitu putra Raden Arjuna dengan Dewi Ulupi. Juga dikisahkan awal mula Raden Antareja menggelung rambut dan menjadi murid Resi Jayawilapa.

Kisah ini saya olah dari sumber rangkuman balungan Pakem Ringgit Purwa koleksi Museum Sonobudoyo, dengan disertai pengembangan seperlunya.

Kediri, 17 Mei 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Bambang Irawan kelak setelah dewasa.

------------------------------ ooo ------------------------------

PARA PANDAWA HENDAK MENGHADIRI UPACARA SIRAMAN DEWI ULUPI

Prabu Puntadewa di Kerajaan Amarta dihadap para adik, yaitu Arya Wrekodara kesatria Jodipati, si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa, serta Patih Tambakganggeng dan Raden Gatutkaca. Hadir pula dalam pertemuan itu Prabu Kresna Wasudewa dari Kerajaan Dwarawati yang datang berkunjung bersama Arya Setyaki.

Hari itu Prabu Puntadewa membicarakan tentang adik nomor tiga, yaitu Raden Arjuna yang telah pergi ke Padepokan Yasarata untuk menjenguk istrinya yang bernama Dewi Ulupi, putri Resi Jayawilapa. Menurut keterangan Raden Arjuna, usia kandungan Dewi Ulupi telah mencapai tujuh bulan, sehingga tiba waktunya untuk mengadakan upacara siraman baginya.

Dalam kesempatan itu, Raden Sadewa mohon izin ikut bicara bahwa ia mendapat firasat kelak bayi yang dilahirkan Dewi Ulupi akan tumbuh menjadi kesatria yang namanya dikenang sepanjang masa. Prabu Kresna tertarik mendengarnya. Ia pun mendapat firasat yang sama sehingga sengaja datang ke Kerajaan Amarta untuk mengajak Prabu Puntadewa ikut menghadiri upacara siraman Dewi Ulupi tersebut. Prabu Puntadewa menyatakan bersedia. Mereka lalu berangkat bersama-sama dengan didampingi Arya Wrekodara, Arya Setyaki, dan Raden Gatutkaca, sedangkan si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa tetap tinggal di istana menjaga kerajaan bersama Patih Tambakganggeng.

Prabu Kresna dan Prabu Puntadewa.

PRABU NILAWARNA JATUH CINTA KEPADA DEWI ULUPI

Tersebutlah seorang raja bernama Prabu Nilawarna dari Kerajaan Parangsotya. Raja ini masih muda dan tampan namun belum memiliki istri. Pada suatu malam ia mimpi bertemu perempuan cantik berpenampilan sederhana, bernama Dewi Ulupi dari Padepokan Yasarata. Prabu Nilawarna pun jatuh cinta kepadanya dan ingin menjadikan perempuan itu sebagai permaisuri.

Begitu terbangun dari tidur, Prabu Nilawarna segera memanggil abdi panakawan, yaitu Kyai Togog dan Bilung Sarahita. Kepada mereka berdua, ia bercerita tentang mimpi tadi malam dan menyatakan ingin menikahi gadis bernama Dewi Ulupi tersebut. Meskipun seorang gadis desa yang sederhana, namun Dewi Ulupi memiliki kecantikan istimewa yang tidak kalah jika dibandingkan dengan putri raja yang tinggal di istana.

Kyai Togog yang berwawasan luas mengatakan bahwa Dewi Ulupi sudah bukan gadis lagi, karena telah menjadi istri Raden Arjuna, kesatria Panengah Pandawa. Bahkan, perempuan itu kini telah mengandung dan tiba waktunya untuk mengadakan upacara siraman baginya. Kyai Togog dan Bilung menyarankan agar Prabu Nilawarna mencari perempuan lain saja apabila hendak dijadikan sebagai permaisuri, karena mengganggu istri Raden Arjuna sama artinya dengan mencari mati. Kyai Togog lalu menceritakan tentang sepak terjang Raden Arjuna dan juga saudara-saudaranya, yang mana mereka disebut Pandawa Lima.

Prabu Nilawarna tidak percaya pada cerita Kyai Togog. Ia tetap saja nekat ingin merebut Dewi Ulupi dan membawanya tinggal di Kerajaan Parangsotya. Ia lalu memerintahkan Patih Kalabandoga untuk berangkat menyerang Padepokan Yasarata dengan membawa pasukan secukupnya.

Prabu Nilawarna.

PATIH KALABANDOGA BENTROK DENGAN ROMBONGAN DARI AMARTA

Patih Kalabandoga dan pasukan Parangsotya telah berangkat menuju Padepokan Yasarata. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan rombongan dari Kerajaan Amarta. Arya Setyaki yang berada di ujung barisan bertanya ada keperluan apa mereka menanyakan jalan menuju Yasarata. Patih Kalabandoga menjawab dengan lugas bahwa dirinya hendak merebut Dewi Ulupi. Mendengar rencana jahat itu, Arya Setyaki segera mengerahkan pasukan Amarta untuk menggempur mereka.

Pertempuran sengit pun terjadi. Pasukan Parangsotya kocar-kacir digempur pasukan Amarta. Patih Kalabandoga dapat meloloskan diri. Ia tidak berani pulang ke rajanya karena takut mendapatkan hukuman. Maka, ia pun memilih nekat pergi menuju Padepokan Yasarata seorang diri. Ia lalu berlari sekencang-kencangnya dengan tujuan menculik Dewi Ulupi pada malam hari.

Arya Setyaki.

RADEN ANTAREJA INGIN MENJADI PUNGGAWA SEPERTI RADEN GATUTKACA

Sementara itu di Kahyangan Saptapratala, Batara Anantaboga dan Dewi Nagagini menerima kunjungan Raden Antareja dari Kesatrian Jangkarbumi. Dalam pertemuan itu, Raden Antareja mengutarakan kekesalan hatinya karena saat bertemu dengan sang ayah tempo hari, yaitu Arya Wrekodara, dirinya hanya diperlakukan sebagai tamu. Dalam hati ia merasa iri dengan adiknya, yaitu Raden Gatutkaca yang sudah lebih dulu mengabdi di Kerajaan Amarta sebagai punggawa pemimpin para prajurit. Ingin rasanya ia ikut mengabdi sebagai punggawa pula, tetapi Prabu Puntadewa sepertinya belum memberikan izin menerima pegawai baru.

Batara Anantaboga dapat memahami kekecewaan cucunya. Ia pun menjelaskan bahwa berbakti kepada negara tidak harus menjadi punggawa kerajaan, tetapi bisa melalui cara lain. Taat membayar pajak, bekerja sebaik-baiknya sesuai bidang keterampilan, serta ikut menjaga nama baik negara, itu juga merupakan bentuk pengabdian. Selain itu, Batara Anantaboga juga mengetahui bahwa Raden Antareja memiliki watak mudah marah dan cenderung gegabah. Mungkin itulah yang membuat Prabu Puntadewa tidak menerimanya menjadi punggawa. Maka, Batara Anantaboga pun menyarankan agar cucunya itu pergi mencari guru terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengabdi sebagai punggawa kerajaan yang terikat segala macam aturan ketat.

Raden Antareja merasa heran, bukankah sejak kecil ia sudah berguru kepada sang kakek, mengapa harus mencari guru yang lain lagi? Batara Anantaboga menjawab dirinya tidak dapat menjadi guru yang baik bagi Raden Antareja karena hubungan mereka adalah kakek dan cucu, tentu ada perasaan memanjakan dan tidak dapat sepenuh hati memberikan pelajaran kehidupan. Selain itu, ia juga terikat tugas sebagai dewa pelindung bumi sehingga sulit menyisihkan waktu untuk mengajari sang cucu.

Batara Anantaboga menjelaskan bahwa ia memiliki saudara angkat yang juga pernah berguru kepadanya, bernama Resi Jayawilapa dari Padepokan Yasarata. Saudara angkatnya itulah yang kiranya dapat menjadi guru terbaik bagi Raden Antareja. Sifat-sifat Raden Antareja yang buruk, antara lain mudah iri, mudah marah, dan gegabah semoga dapat terkikis selama berguru kepada Resi Jayawilapa di Padepokan Yasarata.

Raden Antareja merasa berat hati meninggalkan Kahyangan Saptapratala tetapi karena ini perintah sang kakek, maka ia hanya bisa mematuhi. Setelah memohon restu kepada Batara Anantaboga, Dewi Supreti, dan Dewi Nagagini, ia pun berangkat menuju Padepokan Yasarata.

Batara Anantaboga.

PATIH KALABANDOGA MENCULIK DEWI ULUPI

Di Padepokan Yasarata hari sudah larut malam. Patih Kalabandoga seorang diri datang ke sana setelah pasukannya hancur akibat kalah perang melawan rombongan dari Kerajaan Amarta tadi. Ia pun mengerahkan Aji Sirep dan kemudian menyusup masuk mencari kamar tidur Dewi Ulupi.

Sungguh hebat kekuatan Aji Sirep yang dikerahkan Patih Kalabandoga sehingga seluruh penghuni Padepokan Yasarata pun tertidur pulas. Setelah mencari ke sana-kemari, akhirnya Patih Kalabandoga berhasil menemukan Dewi Ulupi sedang tidur bersama Raden Arjuna. Ia pun maju hendak menarik tubuh wanita itu tetapi pagar gaib yang dipasang Raden Arjuna sebelum tidur membuatnya jatuh terduduk. Sebanyak tiga kali Patih Kalabandoga berusaha meraih Dewi Ulupi, maka sebanyak tiga kali pula ia jatuh terduduk di lantai.

Patih Kalabandoga paham apa yang telah membuatnya terlempar jatuh. Ia pun berlutut menyembah tempat tidur Dewi Ulupi dan Raden Arjuna untuk menawarkan pengaruh pagar gaib yang ada di situ. Begitu pagar gaib terbuka, ia langsung menggendong tubuh Dewi Ulupi dan memasukkannya ke dalam sebuah kendaga. Secepat kilat Patih Kalabandoga lalu pergi membawa kendaga itu meninggalkan Padepokan Yasarata.

Patih Kalabandoga.

RADEN BURISRAWA MENGHADANG PATIH KALABANDOGA

Sementera itu, Raden Burisrawa sedang berkelana seorang diri meninggalkan Kesatrian Madyapura. Dalam hati ia masih menyimpan dendam karena gagal menculik Dewi Sumbadra tempo hari. Akibatnya, ia pun menjadi bulan-bulanan, dihajar dari kiri dan kanan oleh Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Meskipun Raden Arjuna telah memaafkan perbuatannya, namun hatinya masih menyimpan dendam karena sejak peristiwa tersebut ia tidak boleh lagi mendekati Dewi Sumbadra. Bahkan, Prabu Baladewa yang selama ini selalu mendukungnya ternyata juga ikut marah dan melarangnya datang lagi ke Kesatrian Madukara.

Hari itu Raden Burisrawa mendengar kabar bahwa Raden Arjuna memiliki istri paminggir bernama Dewi Ulupi yang sedang mengandung dan tinggal di Padepokan Yasarata. Ia pun berniat membalas dendam dengan cara menculik Dewi Ulupi dan menggugurkan kandungannya.

Sungguh kebetulan, di tengah jalan Raden Burisrawa berpapasan dengan Patih Kalabandoga yang sedang membawa kendaga. Ia pun menghentikannya dan bertanya apa isi kendaga tersebut. Karena wajah Raden Burisrawa yang mirip raksasa membuat Patih Kalabandoga mengiranya sebagai teman sendiri. Dasar watak Patih Kalabandoga juga lugas, membuatnya langsung berterus terang bahwa kendaga tersebut berisi Dewi Ulupi yang akan dipersembahkan kepada Prabu Nilawarna di Kerajaan Parangsotya.

Raden Burisrawa senang mendengarnya dan ia pun menyerang Patih Kalabandoga untuk merebut kendaga itu. Patih Kalabandoga terkejut dan membela diri. Keduanya lalu bertarung sengit. Dalam pertarungan itu Raden Burisrawa unggul. Ia pun menghabisi nyawa Patih Kalabandoga dan melemparkan mayatnya ke dasar jurang.

Raden Burisrawa.

DEWI ULUPI DITOLONG RADEN ANTAREJA

Raden Burisrawa lalu membuka tutup kendaga dan melihat Dewi Ulupi terbangun dari pingsan dalam keadaan terkejut. Ia pun memaksa wanita itu untuk menggugurkan kandungannya demi melampiaskan dendam kepada Raden Arjuna. Dewi Ulupi ketakutan dan mencoba kabur. Raden Burisrawa pun mengejarnya sambil menari dan tertawa-tawa. Semakin Dewi Ulupi takut, ia justru semakin senang. Ia sengaja tidak langsung menangkap wanita itu tetapi ingin mempermainkannya terlebih dahulu seperti kucing hendak menangkap tikus.

Dewi Ulupi yang lari tak tentu arah akhirnya terperosok jatuh ke dalam jurang. Tubuhnya melayang turun dan pasti tewas jika terbentur tanah. Namun, pertolongan tiba-tiba muncul di saat genting. Raden Antareja yang sedang menuju Padepokan Yasarata kebetulan lewat dan langsung menyambar tubuh Dewi Ulupi. Perlahan-lahan ia membawa wanita hamil itu naik ke atas dan mendudukkannya di bawah pohon rawan.

Raden Burisrawa yang mengejar Dewi Ulupi terkejut melihat Raden Antareja tiba-tiba muncul. Seketika ia pun teringat peristiwa tempo hari saat pemuda bersisik naga itu menghajar dirinya dalam wujud Dewi Sumbadra palsu di atas perahu. Raden Antareja sendiri juga melihat Raden Burisrawa. Pemuda itu pun segera menyerang ke arahnya. Maka, terjadilah pertarungan di antara mereka berdua. Raden Burisrawa lagi-lagi kalah dan memilih kabur meninggalkan tempat itu.

Dewi Ulupi.

DEWI ULUPI MELAHIRKAN BAYI LAKI-LAKI

Setelah keadaan aman, Raden Antareja mendatangi Dewi Ulupi yang masih ketakutan. Tiba-tiba datang pula Raden Arjuna bersama sang mertua, yaitu Resi Jayawilapa. Mereka berdua telah terbebas dari pengaruh Aji Sirep dan langsung berangkat mencari hilangnya Dewi Ulupi. Sesampainya di tempat itu, Raden Arjuna terkejut melihat Raden Antareja bersama Dewi Ulupi, dan ia langsung menuduh keponakannya itulah si pelaku penculikan. Namun, Dewi Ulupi segera melerai dan menjelaskan justru Raden Antareja adalah pahlawan yang telah menolong dirinya dari penjahat yang sebenarnya.

Raden Arjuna meminta maaf karena telah berburuk sangka kepada Raden Antareja. Ia lalu mengajak sang istri pulang kembali ke Padepokan Yasarata. Akan tetapi, Dewi Ulupi tiba-tiba merintih kesakitan. Rupanya peristiwa dirinya diculik membuat kandungannya bermasalah. Usia kandungannya saat itu masih tujuh bulan tetapi sepertinya si janin hendak keluar sekarang. Resi Jayawilapa segera maju menolong putrinya itu melahirkan. Sambil membaca mantra, Resi Jayawilapa meraba perut Dewi Ulupi tiga kali dan putrinya itu langsung melahirkan tanpa kesakitan.

Resi Jayawilapa kemudian menyerahkan bayi dalam gendongannya kepada Raden Arjuna. Bayi tersebut berkelamin laki-laki dan berwajah tampan, sangat mirip dengan Raden Arjuna. Raden Arjuna merasa bahagia tetapi ia belum mempersiapkan nama, karena tidak mengira putranya akan lahir sekarang. Resi Jayawilapa pun mengusulkan, karena si bayi dilahirkan di bawah pohon rawan, maka sebaiknya ia diberi nama Bambang Irawan. Raden Arjuna setuju dan menetapkan nama ini sebagai nama putranya yang baru lahir tersebut.

Resi Jayawilapa.

RADEN ANTAREJA DIGELUNG RAMBUTNYA OLEH RESI JAYAWILAPA

Raden Antareja kagum melihat kesaktian Resi Jayawilapa saat menolong Dewi Ulupi melahirkan. Hanya dengan mengelus perut putrinya itu tiga kali, si bayi Bambang Irawan langsung keluar ke dunia. Kini ia pun yakin bahwa kakeknya tidak salah tunjuk orang. Ia pun berterus terang mengatakan bahwa dirinya diutus Batara Anantaboga agar berguru kepada Resi Jayawilapa. Tadinya ia berniat menantang Resi Jayawilapa bertarung untuk mengukur ilmu kesaktiannya. Namun, ia merasa tidak perlu lagi berbuat seperti itu karena sekarang tekadnya sudah bulat ingin berguru kepada pendeta tersebut.

Resi Jayawilapa senang mendengarnya. Ia menjelaskan bahwa Batara Anantaboga adalah saudara angkatnya dan sekaligus pernah menjadi gurunya pula. Karena Batara Anantaboga sudah berpesan demikian, Resi Jayawilapa pun menerima Raden Antareja dengan senang hati. Akan tetapi, ia juga menjelaskan bahwa soal kesaktian tentu saja Batara Anantaboga masih jauh di atasnya. Dirinya hanyalah seorang pendeta tua yang menyepi tinggal di desa, itu saja.

Raden Antareja menyatakan dirinya sudah yakin terhadap Resi Jayawilapa dan ia sudah membulatkan tekad untuk ikut tinggal di Padepokan Yasarata, berguru segala macam ilmu kehidupan kepada sang pendeta. Resi Jayawilapa menerima permohonan tersebut. Ia pun menggelung rambut panjang Raden Antareja menjadi bulat, sebagai perlambang kebulatan tekadnya.

Raden Arjuna bertindak sebagai saksi. Ia ikut senang bahwa keponakannya berguru kepada mertuanya. Mereka lalu bersama-sama pulang kembali ke Padepokan Yasarata.

Raden Antareja sebelum dan sesudah gelung.

RADEN ARJUNA MENGALAHKAN PRABU NILAWARNA

Sesampainya di Padepokan Yasarata, ternyata rombongan dari Kerajaan Amarta sudah lebih dulu tiba di sana. Upacara siraman tujuh bulanan yang sudah dipersiapkan itu pun kini berubah menjadi upacara syukuran atas kelahiran Bambang Irawan. Prabu Puntadewa, Prabu Kresna, Arya Wrekodara, dan anggota rombongan lainnya ikut berbahagia atas kelahiran bayi tampan tersebut dan ramai-ramai memberikan berkah restu kepadanya.

Tiba-tiba datang pula Prabu Nilawarna raja Parangsotya yang berteriak-teriak meminta Raden Arjuna agar menyerahkan Dewi Ulupi. Raden Arjuna pun keluar menghadapinya. Keduanya lalu bertarung di halaman Padepokan Yasarata untuk memperebutkan Dewi Ulupi. Setelah bertarung agak lama, akhirnya Prabu Nilawarna tewas tertusuk Keris Pulanggeni milik Raden Arjuna.

Setelah keadaan tenang kembali, para Pandawa pun melanjutkan upacara syukuran. Hari itu Raden Antareja dan Bambang Irawan dipersaudarakan. Raden Antareja tidak lagi menganggap Bambang Irawan sebagai sepupu, tetapi menjadikannya sebagai adik kandung. Bahkan, ia juga memanggil ibu kepada Dewi Ulupi. Sejak saat itu pula Raden Antareja tinggal di Padepokan Yasarata untuk berguru ilmu kehidupan kepada Resi Jayawilapa.

Raden Arjuna.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Bambang Irawan adalah tokoh yang terdapat dalam kitab Mahabharata dengan nama Iravan, sedangkan Raden Antareja adalah tokoh asli ciptaan pujangga Jawa. Menurut naskah Mahabharata, ibu dari Iravan juga bernama Ulupi, tetapi kakeknya bernama Naga Koravya.

Sementara itu, nama raja Parangsotya menurut naskah Sonobudoyo adalah Prabu Ekawarna. Karena khawatir rancu dengan Batara Ekawarna, yaitu kakek dari Prabu Boma Narakasura, maka saya pun mengubah namanya menjadi Prabu Nilawarna dalam lakon yang saya sajikan di atas.


Untuk kisah perkawinan Raden Arjuna dengan Dewi Ulupi dapat dibaca di sini






Tidak ada komentar:

Posting Komentar