Selasa, 06 Juni 2017

Jaka Pengalasan



Kisah ini menceritakan tentang Dewi Sumbadra dan Raden Abimanyu yang diculik musuh dan disembunyikan di dalam hutan, lalu mereka diganti oleh Dewi Juwitaningrat dan Raden Senggoto yang menyamar dan masuk ke dalam Kesatrian Madukara. Raden Abimanyu kemudian tumbuh menjadi remaja bernama Jaka Pengalasan yang akhirnya berhasil bertemu kembali dengan ayahnya.

Kisah ini saya olah dari sumber balungan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) yang disusun Ki Tristuti Suryasaputra, dengan disertai penambahan dan pengembangan seperlunya.

Kediri, 06 Juni 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

------------------------------ ooo ------------------------------

Raden Abimanyu menjadi Jaka Pengalasan.

RADEN ABIMANYU BERUBAH MENJADI RAKSASA

Di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa dihadap Raden Samba Wisnubrata (putra mahkota), Arya Setyaki (adik ipar), dan juga Patih Udawa. Hadir pula sang kakak dari Kerajaan Mandura, yaitu Prabu Baladewa. Dalam pertemuan itu mereka membahas tentang kabar berita dari Kesatrian Madukara, bahwa Dewi Sumbadra kini mempunyai kegemaran baru, yaitu suka memakan daging mentah, sedangkan Raden Abimanyu berubah wujud menjadi bocah raksasa.

Prabu Baladewa heran dan bertanya mengapa bisa demikian. Prabu Kresna sendiri kurang tahu bagaimana hal ini bisa terjadi. Konon kisahnya berawal saat Raden Arjuna diculik Patih Kalagambira dari Kerajaan Parangkencana. Raden Arjuna berontak dan berhasil menewaskan penculiknya, tetapi ia sendiri terluka dan jatuh pingsan. Setelah ditolong dan dirawat oleh Resi Pamintajati dan Endang Pamegatsih di Padepokan Argabinatur, ia pun pulih kembali dan kemudian pulang ke Kesatrian Madukara. Saat itu Kerajaan Amarta sedang menghadapi serangan Prabu Suryaasmara dari Kerajaan Parangkencana. Setelah tahu duduk permasalahan yang sebenarnya, Raden Arjuna pun bersedia dibawa ke Parangkencana untuk mengorbankan darahnya. Rupanya negeri yang dipimpin Prabu Suryaasmara sedang dilanda wabah penyakit, dan menurut petunjuk dewata hanya bisa dipulihkan dengan tetesan darah kesatria Panengah Pandawa tersebut.

Demikianlah, ketika Raden Arjuna kembali ke Kesatrian Madukara setelah mengorbankan darahnya, tiba-tiba Raden Abimanyu sudah berubah paras menjadi bocah raksasa, sedangkan Dewi Sumbadra sudah memiliki kegemaran baru, yaitu suka memakan daging mentah.

Prabu Baladewa semakin heran dan mengajak Prabu Kresna untuk mengunjungi adik bungsu mereka itu. Semoga saja kedatangan mereka dapat membantu memulihkan Dewi Sumbadra dan Raden Abimanyu menjadi seperti sediakala. Prabu Kresna setuju dan kemudian membubarkan pertemuan.

Prabu Kresna lalu masuk ke dalam kedaton untuk berpamitan kepada ketiga permaisuri, yaitu Dewi Jembawati, Dewi Rukmini, dan Dewi Setyaboma. Setelah itu ia berangkat bersama Prabu Baladewa dan Arya Setyaki menuju Kerajaan Amarta.

Arya Setyaki, Prabu Baladewa, Raden Samba, dan Prabu Kresna.

RESI KALASWARA DAN PATIH KALAMARGANGSA MENCARI PRABU KALAMARDEWA.

Tersebutlah negeri para raksasa bernama Kerajaan Guaseluman, yang rajanya bernama Prabu Kalamardewa. Selama beberapa hari ini sang raja menghilang dari istana, sehingga urusan negara untuk sementara ditangani Patih Kalamargangsa.

Hari itu guru dari Prabu Kalamardewa yang bernama Resi Kalaswara datang berkunjung untuk menanyakan keberadaan muridnya tersebut. Patih Kalamargangsa menyembah dan bercerita bahwa sudah beberapa hari ini Prabu Kalamardewa menghilang dari istana. Awalnya ialah Prabu Kalamardewa mendapat pengaduan dari adiknya yang bernama Dewi Juwitaningrat, yang kehilangan suami karena dibunuh orang. Adapun suami Dewi Juwitaningrat ini tidak lain adalah Patih Kalagambira yang mengabdi di Kerajaan Parangkencana.

Patih Kalamargangsa menyaksikan bagaimana Dewi Juwitaningrat meminta kepada Prabu Kalamardewa agar membalas kematian suaminya yang mati dibunuh Raden Arjuna. Prabu Kalamardewa bersedia dan hendak berangkat menyerang tempat tinggal si pembunuh tersebut. Akan tetapi, Dewi Juwitaningrat mempunyai rencana lain. Ia mendengar kabar bahwa Raden Arjuna sangat tampan tiada banding dan memiliki istri kesayangan bernama Dewi Sumbadra. Dewi Juwitaningrat meminta Prabu Kalamardewa untuk menculik wanita tersebut sekaligus beserta putranya yang bernama Raden Abimanyu. Dewi Juwitaningrat kemudian berniat menyamar sebagai Dewi Sumbadra palsu dan menyusup masuk ke dalam Kesatrian Madukara bersama putranya yang telah yatim, bernama Raden Senggoto. Dengan demikian, Raden Arjuna tanpa sadar akan menebus kematian Patih Kalamargangsa dengan cara menafkahi istri dan anaknya itu.

Demikianlah yang diketahui Patih Kalamargangsa. Setelah Prabu Kalamardewa dan Dewi Juwitaningrat pergi menuju Kesatrian Madukara, keduanya tidak terdengar lagi beritanya. Resi Kalaswara merasa waswas atas keselamatan muridnya itu dan mengajak Patih Kalamargangsa berangkat menyusul ke sana.

Dewi Juwitaningrat.

PASUKAN GUASELUMAN BERTEMPUR MELAWAN PASUKAN DWARAWATI

Setelah mengambil keputusan demikian, Resi Kalaswara dan Patih Kalamargangsa pun berangkat menuju Kesatrian Madukara dengan membawa pasukan secukupnya. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan rombongan dari Kerajaan Dwarawati. Arya Setyaki yang berada di ujung barisan curiga mengetahui niat Patih Kalamargangsa hendak mendatangi Kesatrian Madukara. Maka, terjadilah pertempuran di antara mereka.

Resi Kalaswara melihat Patih Kalamargangsa terdesak menghadapi ketangkasan Arya Setyaki. Pasukan Guaseluman juga kocar-kacir digempur pasukan Dwarawati. Resi Kalaswara pun maju mengerahkan kesaktiannya. Arya Setyaki ganti terdesak dan meminta pertolongan Prabu Baladewa. Prabu Baladewa turun dari punggung Gajah Puspadenta menghadapi Resi Kalaswara. Keduanya bertarung seimbang. Karena lengah, Prabu Baladewa terkena sihir lawan dan terdesak mundur.

Melihat itu, Prabu Kresna akhirnya maju dan melumpuhkan ilmu kesaktian Resi Kalaswara. Akhirnya, Resi Kalaswara dan Patih Kalamargangsa pun terhempas angin topan yang keluar dari bunyi tetabuhan Gong Pancajanya. Tubuh mereka terbawa angin dan jatuh entah di mana.

Resi Kalaswara.

PRABU KRESNA MENASIHATI RADEN ARJUNA AGAR BERSABAR

Rombongan Kerajaan Dwarawati kemudian melanjutkan perjalanan dan sampai di Kesatrian Madukara. Tampak Raden Arjuna didampingi Dewi Sumbadra (palsu) bersama para Pandawa lainnya menyambut kedatangan mereka. Raden Arjuna tertunduk lesu karena setelah pulang dari Kerajaan Parangkencana membantu kesulitan Prabu Suryaasmara, tiba-tiba saja Dewi Sumbadra sudah berubah kegemaran, sedangkan Raden Abimanyu berubah wujud menjadi bocah raksasa.

Dewi Sumbadra lalu memanggil Raden Abimanyu agar keluar menemui Prabu Kresna, Prabu Baladewa, dan Arya Setyaki. Melihat wujud sang keponakan saat ini, mereka bertiga terkejut heran. Prabu Baladewa dan Arya Setyaki merasa jijik, sedangkan Prabu Kresna tampak mengamati dengan seksama. Rupanya Prabu Kresna mendapat firasat bahwa keduanya adalah Dewi Sumbadra dan Raden Abimanyu palsu. Akan tetapi, ia tidak boleh membongkar penyamaran mereka, karena hati nuraninya berbisik bahwa Dewi Sumbadra dan Raden Abimanyu yang asli saat ini baik-baik saja, dan mereka memang harus menjalani nasib buruk untuk memperkuat jiwa dan raga.

Maka, Prabu Kresna pun menasihati Raden Arjuna agar tetap tabah dan sabar menjalani cobaan ini. Apabila adik iparnya itu tetap tabah, maka dewata akan memberikan berkah yang lebih besar kepadanya. Arya Wrekodara menyela ikut bicara, bahwa yang memberikan nama Abimanyu untuk putra Raden Arjuna dan Dewi Sumbadra adalah dirinya. Kini saat melihat wujud sang keponakan yang juga telah menjadi putra angkatnya itu berubah menjadi jelek, ia merasa sayang jika nama Abimanyu tetap digunakan. Oleh sebab itu, ia meminta agar nama tersebut dilepas dan hendaknya diganti dengan nama yang lain.

Dewi Sumbadra palsu merasa senang mendengar usulan Arya Wrekodara yang sesuai dengan keinginannya. Ia pun mengusulkan agar Raden Abimanyu mulai saat ini diganti namanya menjadi Raden Senggoto saja. Arya Wrekodara setuju, begitu pula dengan Prabu Kresna. Karena kedua kakaknya mendukung usulan tersebut, maka Raden Arjuna pun bersedia memakai nama itu untuk putranya yang telah berubah wujud. Rupa-rupanya ia tidak tahu kalau Raden Senggoto adalah nama asli putra Dewi Juwitaningrat (Dewi Sumbadra palsu) dengan mendiang Patih Kalagambira.

Raden Senggoto.

DEWI SUMBADRA DISELAMATKAN RADEN BURISRAWA

Sementara itu, Dewi Sumbadra dan Raden Abimanyu yang asli saat ini sedang disekap Prabu Kalamardewa di Hutan Krendawahana. Prabu Kalamardewa bercerita bahwa ia hanya membantu adiknya yang bernama Dewi Juwitaningrat untuk membalas kematian Patih Kalagambira, yaitu suami dari adiknya tersebut, yang mati dibunuh Raden Arjuna. Dewi Juwitaningrat sudah didandani menjadi Dewi Sumbadra palsu dan masuk ke dalam Kesatrian Madukara bersama putranya yang bernama Raden Senggoto. Dengan demikian, Raden Arjuna tanpa sadar akan menghidupi janda dan anak dari orang yang telah ia bunuh.

Dewi Sumbadra marah mengetahui rencana jahat Prabu Kalamardewa. Melihat perempuan itu marah dan bertambah cantik, Prabu Kalamardewa pun terpikat dan hendak berbuat jahat kepadanya. Ia mengancam akan membunuh Raden Abimanyu apabila Dewi Sumbadra tidak menuruti nafsunya.

Dewi Sumbadra merasa serbasalah. Ia pun berteriak meminta tolong, namun Prabu Kalamardewa mengejek bahwa tempat mereka berada saat ini adalah hutan belantara yang lebat, dan tentunya tidak seorang pun akan mendengar jeritannya.

Akan tetapi, Prabu Kalamardewa salah perhitungan. Tiba-tiba saja muncul Raden Burisrawa menyerang dirinya. Rupanya Prabu Kalamardewa tidak tahu jika Hutan Krendawahana adalah wilayah kekuasaan Batari Durga. Begitu mengetahui Dewi Sumbadra disekap di dalam hutan tersebut, Batari Durga segera memberi tahu Raden Burisrawa yang sudah lama menjadi muridnya. Teringat pada cinta lamanya, Raden Burisrawa pun berangkat untuk menyelamatkan sang kekasih.

Maka, terjadilah pertarungan antara Raden Burisrawa melawan Prabu Kalamardewa. Setelah bertarung agak lama, Raden Burisrawa yang kini bertambah sakti berkat bimbingan Batari Durga akhirnya berhasil menewaskan raja raksasa dari Guaseluman tersebut.

Raden Burisrawa.

DEWI SUMBADRA DIRAWAT RESI MANDARASA

Setelah Prabu Kalamardewa terbunuh, Raden Burisrawa terkejut karena Dewi Sumbadra dan Raden Abimanyu sudah tidak ada. Rupanya ibu dan anak itu telah melarikan diri dan berusaha keluar dari Hutan Krendawahana. Dewi Sumbadra paham apabila Raden Burisrawa berhasil merebut dirinya dari tangan Prabu Kalamardewa, itu sama saja dengan lolos dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya.

Dewi Sumbadra yang menggendong Raden Abimanyu berlari tak tentu arah. Di belakangnya Raden Burisrawa tampak mengejar tanpa lelah. Samar-samar di depan terlihat dua orang sedang berjalan. Dewi Sumbadra pun berteriak meminta tolong. Kedua orang di depannya itu segera membantu. Yang satu seorang pendeta tua, dan yang satunya seorang pemuda gagah. Si pemuda segera menerjang maju ke arah Raden Burisrawa. Keduanya pun berkelahi seru, hingga akhirnya Raden Burisrawa kalah dan melarikan diri jauh-jauh.

Kedua penolong tersebut memperkenalkan diri. Sang pendeta tua mengaku bernama Resi Mandarasa dari Padepokan Argapudya, sedangkan yang muda adalah muridnya, bernama Putut Aribawa. Dewi Sumbadra juga memperkenalkan dirinya. Terus terang ia merasa heran mengapa wujud Putut Aribawa sangat mirip dengan keponakannya yang bernama Raden Gatutkaca.

Resi Mandarasa pun bercerita bahwa Putut Aribawa memang ia ciptakan dari ari-ari Raden Gatutkaca. Saat itu ketika Raden Gatutkaca masih kecil, tali pusarnya dipotong oleh Raden Arjuna menggunakan warangka pusaka Kuntadruwasa. Ari-ari milik Raden Gatutkaca itu kemudian dihanyutkan di sungai oleh Arya Wrekodara dan Dewi Arimbi. Kebetulan Resi Mandarasa sedang bertapa di tepi sungai dan memungut ari-ari tersebut. Ia lalu mendengar suara dari langit bahwa ari-ari ini adalah milik kesatria sakti bernama Raden Gatutkaca yang saat itu sedang menjadi jago kahyangan menghadapi Prabu Kalapracona dan Patih Sekiputantra. Atas izin dewata, Resi Mandarasa pun mengubah ari-ari tersebut menjadi seorang pemuda gagah, diberi nama Putut Aribawa.

Dewi Sumbadra terkesan mendengar cerita Resi Mandarasa. Sebenarnya ia ingin diantarkan pulang ke Kesatrian Madukara, tetapi kemudian berubah pikiran. Dewi Sumbadra merasa ada baiknya jika Raden Abimanyu dibesarkan di tengah hutan daripada hidup dalam kemewahan di istana. Kelak jika dewata mengizinkan, maka ia dan putranya pasti dapat berkumpul kembali dengan Raden Arjuna.

Resi Mandarasa kagum pada niat baik Dewi Sumbadra. Ia pun menawarkan tempat menginap untuk wanita itu dan juga Raden Abimanyu. Dewi Sumbadra berterima kasih dan merasa sangat beruntung. Mulai hari itu, Resi Mandarasa pun mengangkat Dewi Sumbadra sebagai putrinya, dengan diberi nama samaran Endang Cahyaningsih, sedangkan Raden Abimanyu dijadikan sebagai cucu, dengan nama samaran Jaka Pengalasan.

Dewi Sumbadra.

JAKA PENGALASAN DAN PUTUT ARIBAWA MENYABUNG AYAM DENGAN RADEN SENGGOTO

Tidak terasa sudah lima tahun lamanya Endang Cahyaningsih tinggal di Padepokan Argapudya. Jaka Pengalasan pun kini telah berusia tiga belas tahun. Pada suatu hari ia merasa bosan tinggal di padepokan dan mengajak Putut Aribawa berjalan-jalan ke kota sambil membawa ayam jago kesayangannya. Putut Aribawa tidak berani tetapi juga tidak kuasa menolak ajakan adik angkatnya tersebut. Mereka lalu bersama-sama berangkat tanpa meminta izin terlebih dulu kepada Resi Mandarasa dan Endang Cahyaningsih.

Perjalanan Jaka Pengalasan dan Putut Aribawa akhirnya sampai di pasar Kerajaan Amarta. Di tempat itu mereka melihat sejumlah laki-laki sedang menyabung ayam. Tampak salah satunya adalah Raden Senggoto yang disebut-sebut sebagai putra Raden Arjuna. Dalam acara aduan itu, ayam jago milik Raden Senggoto selalu unggul mengalahkan lawan-lawannya.

Raden Senggoto kemudian melihat Jaka Pengalasan juga membawa seekor ayam jago. Ia pun menantang remaja tersebut untuk menyabung ayam mereka. Jaka Pengalasan menolak karena ayamnya bukan untuk diadu. Raden Senggoto memaksa dan mengejek Jaka Pengalasan sebagai pengecut. Jaka Pengalasan tersinggung dan akhirnya menerima tantangan itu. Kedua ayam mereka pun diadu, dengan disaksikan orang-orang di pasar yang bersorak-sorak ramai.

Maka, terjadilah pertarungan seru antara ayam Jaka Pengalasan melawan ayam Raden Senggoto. Selang agak lama, ayam milik Raden Senggoto pun tewas kehabisan darah karena terluka oleh paruh, cakar, dan taji lawan. Raden Senggoto marah dan menangkap ayam milik Jaka Pengalasan, lalu menggigit lehernya hingga mati. Tidak hanya itu, Raden Senggoto juga berniat menggigit Jaka Pengalasan untuk melampiaskan kekesalan.

Putut Aribawa segera maju melindungi adik angkatnya. Ia pun menempeleng wajah Raden Senggoto hingga raksasa muda itu jatuh dan tewas seketika.

Putut Aribawa.

RADEN GATUTKACA BERSATU DENGAN PUTUT ARIBAWA

Orang-orang di pasar pun bubar ketakutan melihat putra Raden Arjuna terbunuh. Kebetulan Raden Gatutkaca sedang meronda keamanan dan lewat di tempat itu. Melihat sepupunya tewas, ia segera maju menyerang Putut Aribawa. Keduanya pun terlibat pertarungan sengit.

Raden Gatutkaca heran melihat sosok Putut Aribawa yang mirip dengan dirinya. Mereka bertarung sengit, sama-sama gagah, sama-sama kuat dan perkasa. Namun, karena Raden Gatutkaca bisa terbang, lama-lama Putut Aribawa pun terdesak kalah dan akhirnya roboh tak berdaya. Tenaganya habis dan sepertinya ia tidak dapat hidup lebih lama lagi.

Menjelang ajal tiba, Putut Aribawa bertanya siapa nama pemuda yang berhasil mengalahkannya. Raden Gatutkaca pun memperkenalkan dirinya. Putut Aribawa terkejut mendengar nama itu dan berkata bahwa sesungguhnya mereka masih bersaudara. Putut Aribawa menjelaskan bahwa ia tercipta dari ari-ari Raden Gatutkaca sendiri yang dihanyutkan di sungai, dan ditemukan oleh Resi Mandarasa.

Raden Gatutkaca antara percaya dan tidak percaya mendengarnya. Putut Aribawa lalu bercerita tentang Raden Senggoto yang baru saja tewas sebenarnya bukan putra Raden Arjuna, tetapi anak musuh yang disusupkan ke dalam Kesatrian Madukara. Adapun Raden Abimanyu yang asli adalah Jaka Pengalasan yang ada bersamanya. Raden Gatutkaca mengamat-amati wujud Jaka Pengalasan ternyata memang mirip dengan Raden Abimanyu yang sejak kecil sering ia temani bermain. Maka, ia pun mulai percaya pada ucapan Putut Aribawa tadi. Namun, Putut Aribawa sendiri sudah semakin lemah. Raden Gatutkaca merasa bersalah pada saudaranya itu dan berniat memeluknya. Akan tetapi, ketika tubuh mereka berpadu, tiba-tiba Putut Aribawa musnah menjadi asap dan terhisap masuk ke dalam dada Raden Gatutkaca.

Raden Gatutkaca bangkit berdiri dan merasa tenaganya menjadi lebih besar. Rupa-rupanya Putut Aribawa telah bersatu jiwa raga dengannya dan membuat kekuatannya meningkat beberapa kali lipat dibanding sebelumnya. Ia sangat terharu dan berterima kasih atas pengorbanan saudaranya tersebut.

Raden Gatutkaca.

RADEN ARJUNA BERTEMU DEWI SUMBADRA YANG ASLI

Raden Gatutkaca lalu menghampiri Jaka Pengalasan dan memeluk adik sepupunya itu dengan penuh kerinduan. Tidak lama kemudian Raden Arjuna datang karena mendapat laporan bahwa putranya telah tewas dibunuh orang. Ia pun bertanya kepada Raden Gatutkaca siapa orangnya yang berani membunuh Raden Senggoto. Raden Gatutkaca memasang badan bahwa yang membunuh Raden Senggoto adalah dirinya. Namun, ia juga menjelaskan bahwa sesungguhnya bocah raksasa tersebut bukanlah putra Raden Arjuna, melainkan anak musuh yang disusupkan masuk ke dalam Kesatrian Madukara. Ia juga menjelaskan bahwa putra Raden Arjuna yang sebenarnya adalah Jaka Pengalasan, yang sekarang ada di dekatnya.

Raden Arjuna terkejut dan marah mendapat jawaban demikian. Ia pun mengeluarkan panah Sarotama dan berniat membunuh Raden Gatutkaca dan Jaka Pengalasan untuk menegakkan keadilan. Raden Gatutkaca gentar harus berhadapan dengan paman sendiri. Maka, ia pun menyambar tubuh Jaka Pengalasan untuk dibawa terbang jauh. Raden Arjuna tidak mau menyerah dan segera mengejar mereka berdua menggunakan Aji Seipi Angin.

Raden Gatutkaca terbang di angkasa sambil meminta petunjuk Jaka Pengalasan, di mana tempat tinggal Dewi Sumbadra saat ini. Akhirnya, mereka pun sampai di Padepokan Argapudya. Resi Mandarasa dan Endang Cahyaningsih terkejut melihat Jaka Pengalasan pulang bersama Raden Gatutkaca, dan kemudian muncul pula Raden Arjuna mengejar mereka.

Resi Mandarasa mencoba menyabarkan Raden Arjuna dan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Namun, Raden Arjuna sudah terbakar amarah dan berniat mengamuk mengobrak-abrik isi padepokan. Endang Cahyaningsih maju sambil memanggil Raden Arjuna dengan sebutan “bapakne kulup”. Raden Arjuna terkejut karena hanya Dewi Sumbadra yang selalu memanggilnya demikian. Di antara mereka ada panggilan sayang, yaitu “bapakne kulup” dan “ibune kulup”. Raden Arjuna merasa heran mengapa Endang Cahyaningsih bisa mengetahui panggilan itu, sedangkan Dewi Sumbadra yang tinggal di Kesatrian Madukara sudah lama tidak memanggilnya demikian.

Resi Mandarasa pun menjelaskan bahwa Endang Cahyaningsih sesungguhnya adalah Dewi Sumbadra yang asli, begitu pula dengan Jaka Pengalasan adalah Raden Abimanyu yang asli. Adapun Dewi Sumbadra yang saat ini berada di Kesatrian Madukara adalah penyamaran Dewi Juwitaningrat, yaitu istri Patih Kalagambira yang ingin membalas dendam atas kematian suaminya. Adapun Raden Senggoto juga bukan putra Raden Arjuna, melainkan putra Patih Kalagambira dan Dewi Juwitaningrat.

Raden Arjuna terharu bercampur malu, dan segera memeluk Endang Cahyaningsih bersama Jaka Pengalasan. Ia bertanya mengapa Dewi Sumbadra tidak muncul sejak dulu untuk membongkar penyamaran Dewi Juwitaningrat. Dewi Sumbadra menjawab dirinya sengaja bersembunyi di Padepokan Argapudya agar Raden Arjuna bisa menebus dosa karena telah membunuh Patih Kalagambira dengan cara merawat janda dan anaknya. Jika dewata sudah menganggap dosa tersebut lunas, pastilah Raden Arjuna akan dipertemukan kembali dengan Dewi Sumbadra dan Raden Abimanyu yang asli. Lagipula, penyamaran Raden Abimanyu menjadi Jaka Pengalasan juga ada himahnya, yaitu membuatnya menjadi lebih tangguh dan mandiri, jauh lebih baik daripada hidup nyaman di dalam Kesatrian Madukara yang penuh kenikmatan.

Raden Arjuna terharu mendengar ketulusan istrinya. Ia lalu mohon pamit kepada Resi Mandarasa dan berterima kasih banyak atas segala pertolongannya selama ini. Raden Gatutkaca juga mohon pamit dan meminta maaf karena Putut Aribawa sudah tidak ada lagi di dunia, karena sudah bersatu jiwa raga dengan dirinya. Resi Mandarasa menjawab memang sebaiknya begitu, karena Putut Aribawa tercipta dari ari-ari Raden Gatutkaca, sehingga wajar jika kini kembali bersatu dengannya.

Raden Arjuna.

DEWI JUWITANINGRAT TEWAS DI TANGAN DEWI SRIKANDI

Raden Arjuna, Dewi Sumbadra, Raden Abimanyu, dan Raden Gatutkaca telah kembali ke Kesatrian Madukara. Kedatangan mereka pun disambut Dewi Srikandi, Dewi Sulastri, dan Niken Larasati. Ketiga wanita itu heran melihat Dewi Sumbadra datang bersama Raden Arjuna, sedangkan di dapur juga ada Dewi Sumbadra satu lagi sedang lahap menyantap daging mentah. Raden Arjuna pun menjelaskan bahwa yang di dapur adalah Dewi Sumbadra palsu, yaitu penyamaran Dewi Juwitaningrat.

Dewi Srikandi tanggap dan segera pergi ke dapur untuk menyeret Dewi Sumbadra palsu. Dewi Sumbadra palsu terkejut menyadari penyamarannya telah terbongkar. Ia pun kembali ke wujud raksasi dan menyerang Dewi Srikandi. Kedua wanita itu lalu bertarung sengit. Dewi Srikandi yang sudah bersiaga dapat memenangkan pertarungan. Dengan panahnya yang ampuh, ia pun berhasil menewaskan Dewi Juwitaningrat.

Prabu Puntadewa, Arya Wrekodara, dan si kembar Raden Nakula-Raden Sadewa datang setelah mendengar keributan di Kesatrian Madukara. Mereka ikut bersyukur dan bersuka cita karena masalah yang dihadapi Raden Arjuna telah teratasi. Raden Arjuna pun mengadakan pesta syukuran untuk menyambut kepulangan Dewi Sumbadra dan Raden Abimanyu yang kini telah tumbuh menjadi remaja tangguh.

Dewi Srikandi.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------




CATATAN : Menurut naskah Serat Pustakaraja Purwa versi Ngasinan, lakon di atas adalah alternatif kisah kelahiran Raden Abimanyu. Lakon ini sebenarnya diadaptasi dari cerita rakyat berjudul Cindelaras. Dikisahkan bahwa Raden Abimanyu lahir di hutan, dan ari-arinya diubah menjadi pemuda pengasuh bernama Putut Aribawa.

Karena saya telah menceritakan kelahiran Raden Abimanyu dalam cerita Wahyu Panuntun, maka cerita Jaka Pengalasan pun saya ubah menjadi kelanjutan lakon Sumitra Lahir. Saya kisahkan bahwa Dewi Juwitaningrat adalah wanita raksasa yang membalas dendam atas kematian Patih Kalagambira. Adapun Putut Aribawa saya ubah ceritanya menjadi ari ari Raden Gatutkaca, sehingga cerita ini dapat pula menjadi sambungan lakon Gatutkaca Lahir.


Untuk kisah kelahiran Raden Gatutkaca dapat dibaca di sini

Untuk kisah kelahiran Raden Abimanyu dapat dibaca di sini

Untuk kisah Raden Gatutkaca mengasuh Raden Abimanyu kecil dapat dibaca di sini

Untuk kisah Raden Arjuna membunuh Patih Kalagambira dapat dibaca di sini











Tidak ada komentar:

Posting Komentar