Rabu, 18 November 2015

Gendari - Suman Lahir


Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Gendari yang kelak menjadi istri Adipati Dretarastra dan melahirkan Seratus Kurawa, serta kelahiran Raden Suman yang kelak bergelar Patih Sangkuni, yaitu tokoh licik yang mengadu domba para Kurawa dan Pandawa sehingga meletus Perang Bratayuda.

Kisah ini saya susun berdasarkan informasi dari kawan-kawan pecinta wayang di media sosial, yang kemudian saya olah dengan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa dan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryosaputro.

Kediri, 18 November 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

SILSILAH PRABU KISWARA DAN ARYA KISTAWA

Kerajaan Gandaradesa yang dulu didirikan oleh Prabu Basukiswara raja Wirata, pada awalnya dipimpin oleh Prabu Maneriya (putra Resi Manonbawa, atau cucu Prabu Parikenan). Setelah Prabu Maneriya meninggal, ia digantikan putranya yang bernama Prabu Mandara. Kemudian Prabu Mandara digantikan putranya yang bernama Prabu Mandararya. Karena Prabu Mandararya tidak memiliki anak laki-laki, maka ketika ia meninggal takhta Gandaradesa pun diwarisi menantunya yang bergelar Prabu Kiswara (suami Dewi Mandarawati).

Prabu Kiswara ini sesungguhnya masih keturunan Batara Wisnu. Ia adalah putra sulung Resi Swakuthasta dari Padepokan Andongdadapan. Resi Swakuthasta adalah putra dari pasangan Resi Kistira dan Batari Ganggastini. Adapun Resi Kistira adalah putra Resi Sakra (yaitu sepupu sekaligus murid Resi Manumanasa, pendiri Padepokan Saptaarga). Resi Sakra adalah putra Prabu Srikala (raja Purwacarita). Prabu Srikala adalah putra Prabu Srimahawan, sedangkan Prabu Srimahawan adalah putra Prabu Sri Mahapunggung, atau cucu Batara Wisnu.

Pada mulanya Prabu Mandararya raja Gandaradesa berguru kepada Resi Swakuthasta di Padepokan Andongdadapan. Hubungan mereka menjadi lebih erat setelah putri Prabu Mandararya, yaitu Dewi Mandarawati dinikahkan dengan Bambang Kiswara, putra sulung Resi Swakuthasta. Karena Prabu Mandararya tidak memiliki anak laki-laki, maka Bambang Kiswara sekaligus ditetapkan sebagai ahli waris Kerajaan Gandaradesa.

Adapun putra bungsu Resi Swakuthasta yang bernama Bambang Kistawa juga ikut mengabdi ke Kerajaan Gandaradesa sebagai punggawa, bergelar Arya Kistawa. Selain itu, Resi Swakuthasta juga memiliki dua orang anak asuh bernama Dewi Kesru dan Raden Prahasana yang ditemukannya sekitar dua puluh tahun silam. Pada saat itu Resi Swakuthasta menolong seorang wanita hamil bernama Dewi Sundari yang disembunyikan di alam siluman oleh musuhnya. Dewi Sundari ini tidak lain adalah istri Prabu Swarka raja Awuawu yang diculik wanita sakti buruk rupa bernama Endang Suyati.

Setelah dibebaskan oleh Resi Swakuthasta dan dikembalikan ke alam nyata, Dewi Sundari pun melahirkan bayi perempuan dan laki-laki sekaligus, namun ia sendiri meninggal dunia karena pendarahan. Resi Swakuthasta lalu mengasuh kedua bayi itu dan memberi mereka nama Dewi Kesru dan Raden Prahasana.

Kini kedua anak asuh itu telah tumbuh dewasa. Dewi Kesru pun dinikahkan dengan Arya Kistawa, putra bungsu Resi Swakuthasta, sedangkan Raden Prahasana ikut pula mengabdi di Kerajaan Gandaradesa bersama kakak iparnya tersebut.

KELAHIRAN RADEN GENDARA DAN DEWI GENDARI

Pada suatu hari Prabu Kiswara di Kerajaan Gandaradesa dihadap Patih Mandasrawa, Arya Kistawa, dan Arya Prahasana, serta para punggawa lainnya. Arya Kistawa melaporkan bahwa istrinya, yaitu Dewi Kesru baru saja melahirkan bayi laki-laki dan perempuan, dan ia memohon kepada sang kakak supaya memberikan nama kepada mereka. Prabu Kiswara sangat bahagia mendengarnya dan memberi nama untuk kedua keponakannya itu, Raden Gendara dan Dewi Gendari. Makna dari nama tersebut adalah “putra dan putri yang dilahirkan di Kerajaan Gandaradesa”.

Ketika Prabu Kiswara hendak membubarkan pertemuan untuk menengok dua keponakannya yang baru lahir, tiba-tiba muncul sesosok makhluk halus yang mengaku bernama Gandarwa Sutibar, utusan Prabu Siswandakala dari Kerajaan Selamangleng. Kedatangan Gandarwa Sutibar adalah untuk menyampaikan surat lamaran dari rajanya yang ingin menikahi Dewi Kesru, istri Arya Kistawa.

Arya Kistawa sangat marah dan mengatakan bahwa ia tidak akan menyerahkan istrinya kepada Gandarwa Sutibar. Ia pun menantang Gandarwa Sutibar supaya melangkahi mayatnya terlebih dahulu jika ingin merebut Dewi Kesru. Gandarwa Sutibar menerima tantangan tersebut dan kemudian undur diri menunggu Arya Kistawa di luar istana.

Prabu Kiswara berpesan agar Arya Kistawa berhati-hati menghadapi Gandarwa Sutibar yang berasal dari golongan makhluk halus tersebut. Patih Mandasrawa dan Arya Prahasana pun diperintahkan untuk menyiagakan pasukan Gandaradesa demi membantu Arya Kistawa.

Setelah membubarkan pertemuan, Prabu Kiswara lalu masuk ke dalam istana di mana sang permaisuri Dewi Mandarawati telah menunggu. Sudah bertahun-tahun mereka menikah namun belum juga memiliki anak, sehingga kelahiran Raden Gendara dan Dewi Gendari ini membuat mereka ikut bahagia. Bahkan, Prabu Kiswara berniat mengambil Raden Gendara sebagai anak angkat.

GANDARWA SUTIBAR MENCULIK DEWI KESRU

Sementara itu, Gandarwa Sutibar telah kembali ke pasukannya yang menunggu di luar istana. Tidak lama kemudian Arya Kistawa dan Patih Mandasrawa datang dengan diiringi pasukan Gandaradesa. Pertempuran pun terjadi di antara mereka demi menjawab surat lamaran dari Prabu Siswandakala tadi.

Gandarwa Sutibar melihat prajuritnya banyak yang tewas di tangan Arya Kistawa dan pasukannya. Menyaksikan pihaknya terdesak, Gandarwa Sutibar pun menghilang lenyap dari pandangan. Ia lalu masuk ke dalam kaputren dan menculik Dewi Kesru yang sedang beristirahat.

Prabu Kiswara dan Dewi Mandarawati yang masing-masing sedang menggendong bayi Raden Gendara dan Dewi Gendari sangat terkejut melihat Dewi Kesru tiba-tiba lenyap dari pandangan. Arya Kistawa yang telah memukul mundur pasukan musuh pun ikut terkejut begitu mendengar laporan. Ia segera mencari ke seluruh pelosok istana tetapi tidak juga menemukan keberadaan istrinya.

Prabu Kiswara menasihati adiknya untuk tetap tenang. Ia menyarankan agar Arya Kistawa meminta petunjuk tentang hilangnya Dewi Kesru kepada Resi Abyasa yang kini telah menjadi raja Hastina, bergelar Prabu Kresna Dwipayana. Arya Kistawa menurut dan segera berangkat meninggalkan Kerajaan Gandaradesa.

ARYA KISTAWA MENDAPAT BANTUAN GANDARWARAJA SWALA

Prabu Kresna Dwipayana di Kerajaan Hastina sedang memimpin pertemuan yang dihadiri Resiwara Bisma, Patih Jayayatna, Arya Banduwangka, Arya Bargawa, dan Arya Bilawa. Tiba-tiba datang Arya Kistawa yang memohon untuk dibantu mengatasi permasalahannya. Berdasarkan silsilah Resi Manumanasa dan Resi Sakra, maka Prabu Kresna Dwipayana pun memanggil “kakak” kepada Arya Kistawa. Mendengar berita penculikan Dewi Kesru tersebut, Prabu Kresna Dwipayana merasa prihatin. Ia lalu mengheningkan cipta dan mendapatkan petunjuk dari dewata bahwa Dewi Kesru hilang karena diculik Gandarwa Sutibar.

Karena yang menculik adalah bangsa gandarwa, maka Prabu Kresna Dwipayana segera bersiul mengundang sahabat ayahnya, yaitu Gandarwaraja Swala (ayah kandung panakawan Petruk). Raja makhluk halus itu seketika datang, siap melaksanakan tugas. Prabu Kresna Dwipayana pun meminta tolong kepada Gandarwaraja Swala untuk membantu Arya Kistawa menemukan istrinya yang diculik Gandarwa Sutibar.

Gandarwaraja Swala menjelaskan bahwa Gandarwa Sutibar adalah bekas anak buahnya yang berkhianat dan kini mengabdi kepada Prabu Siswandakala, raja raksasa dari Kerajaan Selamangleng. Gandarwaraja Swala pun bersedia membantu Arya Kistawa, sekaligus untuk memberikan hukuman kepada Gandarwa Sutibar. Keduanya lalu mohon pamit berangkat. Prabu Kresna Dwipayana memerintahkan panakawan Petruk dan Bagong untuk ikut bersama mereka. Ia sendiri mengajak Resiwara Bisma beserta Kyai Semar dan Nala Gareng pergi mengunjungi Prabu Kiswara di Kerajaan Gandaradesa.

GANDARWA SUTIBAR MEMERKOSA DEWI KESRU

Sementara itu, Gandarwa Sutibar sedang menyekap Dewi Kesru di dalam Hutan Tikbrasara. Pada mulanya, ia berniat menghadapkan Dewi Kesru kepada Prabu Siswandakala yang ingin sekali menikahinya. Akan tetapi, begitu menyaksikan kecantikan istri Arya Kistawa tersebut, Gandarwa Sutibar menjadi terpikat dan ingin memilikinya untuk diri sendiri, atau istilahnya “melik nggendong lali”.

Melihat keadaan Dewi Kesru yang masih lemah karena baru saja melahirkan dua bayi sekaligus, Gandarwa Sutibar tidak kekurangan akal. Ia pun mengerahkan ilmu sihirnya untuk menyembuhkan perempuan itu sehingga menjadi sehat seperti sediakala. Gandarwa Sutibar lalu meminta Dewi Kesru untuk menjadi istrinya. Dewi Kesru menolak dengan tegas. Karena kesehatannya sudah pulih, ia pun meronta dan berusaha melarikan diri dari sekapan Gandarwa Sutibar.

Gandarwa Sutibar marah dan hasratnya semakin memuncak. Ia pun mengejar Dewi Kesru dan berhasil menangkapnya, lalu memerkosa wanita itu demi melampiaskan nafsu birahinya.

GANDARWARAJA SWALA MEMBUNUH GANDARWA SUTIBAR

Gandarwaraja Swala dan Arya Kistawa telah sampai di Hutan Tikbrasara. Mereka sangat marah melihat ulah Gandarwa Sutibar. Tanpa banyak bicara, Gandarwaraja Swala langsung menghajar bekas anak buahnya itu dan terjadilah pertarungan di antara mereka.

Setelah bertarung cukup lama, Gandarwaraja Swala akhirnya berhasil membunuh Gandarwa Sutibar. Ia lalu bersama Arya Kistawa membawa Dewi Kesru pulang ke Kerajaan Gandaradesa.

DEWI KESRU MELAHIRKAN BAYI LAKI-LAKI

Arya Kistawa, Dewi Kesru, dan Gandarwaraja Swala telah tiba di Kerajaan Gandaradesa. Di hadapan Prabu Kiswara dan anggota keluarga lainnya, Dewi Kesru berterus terang bahwa dirinya baru saja diperkosa oleh Gandarwa Sutibar. Ia merasa sangat sedih dan berniat bunuh diri. Namun, Arya Kistawa mencegahnya karena menganggap apa yang telah terjadi adalah suratan takdir di luar kehendak manusia.

Prabu Kiswara membenarkan ucapan adiknya. Namun demikian, ia tidak rela jika Dewi Kesru sampai mengandung anak Gandarwa Sutibar hasil pemerkosaan tersebut. Prabu Kiswara pun meminta tolong kepada Gandarwaraja Swala untuk memeriksa rahim adik iparnya itu dan mengeluarkan benih yang tertanam akibat ulah Gandarwa Sutibar, tanpa menyakiti Dewi Kesru. Gandarwaraja Swala segera maju untuk memenuhi permintaan tersebut.

Sementara itu, arwah penasaran Resi Dwapara sedang melayang-layang di atas Kerajaan Gandaradesa. Dahulu kala, Resi Dwapara tewas di tangan sepupunya sendiri, yaitu Resi Satrukem (kakek buyut Prabu Kresna Dwipayana) saat ia menyerang Gunung Saptaarga. Arwahnya pun penasaran dan bertekad ingin membalas dendam dengan cara menghancurkan keturunan Resi Satrukem. Atas petunjuk Batara Kala, arwah Resi Dwapara harus menitis ke dalam rahim Dewi Kesru jika ingin mewujudkan keinginan tersebut.

Maka, begitu sampai di Kerajaan Gandaradesa, arwah Resi Dwapara segera masuk ke dalam rahim Dewi Kesru. Di sisi lain, Gandarwaraja Swala yang sedang mengerahkan kesaktiannya tidak menyadari kehadiran arwah penasaran tersebut. Ia sendiri sibuk berusaha mengeluarkan benih yang ditanam Gandarwa Sutibar. Akan tetapi, benih dalam rahim Dewi Kesru itu kini dilindungi oleh arwah Resi Dwapara. Perpaduan kesaktian dari kedua makhluk halus tersebut membuat si janin bukannya gugur keluar, melainkan justru berkembang makin lama makin besar. Arwah Resi Dwapara kemudian bersatu jiwa raga dengan janin tersebut yang kini siap dilahirkan.

Sungguh ajaib, kandungan Dewi Kesru telah matang hanya dalam waktu sehari dan kini ia pun melahirkan seorang bayi laki-laki.

KEMATIAN PRABU KISWARA

Pemandangan ajaib itu membuat heran semua yang menyaksikannya. Prabu Kiswara tidak peduli dan ia berniat membunuh bayi laki-laki anak gandarwa tersebut. Namun, Arya Kistawa mencegah kakaknya karena tidak tega melihat wajah polos si bayi. Entah mengapa, Arya Kistawa merasa kasihan terhadap bayi itu dan ingin merawatnya sebagai anak sendiri.

Tidak lama kemudian datanglah Prabu Kresna Dwipayana dan Resiwara Bisma dari Kerajaan Hastina. Prabu Kiswara menyambut kedatangan mereka dan menceritakan keanehan yang dialami adik iparnya. Prabu Kresna Dwipayana mendapatkan firasat bahwa bayi laki-laki yang baru lahir ini akan menjadi sumber kekacauan di masa depan. Namun, itu semua sudah menjadi kehendak Yang Mahakuasa sebagai sarana untuk membersihkan bumi dari angkara murka. Itu sebabnya, bayi laki-laki ini tidak ditakdirkan untuk mati sekarang. Prabu Kresna Dwipayana pun tunduk pada suratan takdir dan ia hanya bisa berusaha menyabarkan kemarahan Prabu Kiswara.

Pada saat itulah datang Patih Mandasrawa yang melaporkan bahwa raja raksasa Prabu Siswandakala dari Kerajaan Selamangleng telah menyerbu Kerajaan Gandaradesa karena lamarannya ditolak. Prabu Kiswara yang masih dibakar amarah langung maju ke medan perang untuk menyambut datangnya musuh. Karena perasaannya sedang bingung, ia menjadi kurang waspada sehingga lengah dan menemui ajal di tangan Prabu Siswandakala dalam pertempuran tersebut.

Melihat sang tuan rumah terbunuh, Resiwara Bisma tidak bisa tinggal diam begitu saja. Ia pun terjun ke medan perang menghadapi musuh. Dalam pertempuran itu, ia berhasil menewaskan Prabu Siswandakala dan menghancurkan pasukan Selamangleng.

ARYA KISTAWA MENJADI RAJA GANDARADESA

Kerajaan Gandaradesa kini berduka karena kehilangan rajanya. Setelah masa berkabung usai, Prabu Kresna Dwipayana menyarankan agar Dewi Mandarawati menggantikan suaminya menjadi raja. Namun, Dewi Mandarawati merasa tidak sanggup dan menyerahkan takhta Gandaradesa kepada adik iparnya, yaitu Arya Kistawa. Ia sendiri merasa sudah cukup bahagia jika dapat melaksanakan keinginan mendiang Prabu Kiswara, yaitu mengambil Raden Gendara sebagai anak angkat.

Arya Kistawa merasa keberatan menjadi raja karena dirinya bukan asli orang Gandaradesa, tetapi pendatang dari Andongdadapan. Namun, karena Dewi Mandarawati tetap memaksa, akhirnya ia pun bersedia dilantik sebagai raja yang baru. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Gandarwaraja Swala yang telah membantunya menemukan kembali Dewi Kesru, maka Arya Kistawa pun memakai gelar yang mirip dengannya, yaitu Prabu Suwala.

Resiwara Bisma masih prihatin atas musibah yang telah terjadi. Ia pun berharap agar kelak Prabu Suwala dan Prabu Kresna Dwipayana dapat berbesan supaya hubungan persaudaraan antara kedua negara dapat menjadi lebih erat. Semoga kelak setelah dewasa, Dewi Gendari bisa menikah dengan salah satu putra Kerajaan Hastina, entah itu Raden Kuru, Raden Pandu, ataupun Raden Widura. Prabu Suwala merasa bersyukur jika hal itu bisa menjadi kenyataan.

Sementara itu, Prabu Kresna Dwipayana sedang merenung membayangkan bahwa bayi laki-laki yang dilahirkan Dewi Kesru kelak akan menjadi sumber kekacauan, sebagaimana firasat yang ia terima. Ia pun berharap Batara Wisnu juga terlahir sebagai manusia untuk menangkal pengaruh buruk bayi laki-laki ini. Untuk itu, Prabu Kresna Dwipayana mengusulkan agar sebaiknya bayi laki-laki tersebut diberi nama Raden Suman.

Resiwara Bisma berbisik apakah Suman itu singkatan dari “nafsu siluman”, yaitu sebagai pengingat bahwa si bayi laki-laki adalah hasil kejahatan Gandarwa Sutibar? Prabu Kresna Dwipayana menjawab bahwa Suman adalah nama lain Batara Wisnu. Dengan demikian, apabila nama Raden Suman dipanggil, maka itu sama saja dengan mengharap kehadiran Batara Wisnu, sang pemelihara ketertiban dunia agar segera lahir ke dunia.

Prabu Suwala menerima saran Prabu Kresna Dwipayana tersebut. Ia pun memberi nama Raden Suman kepada bayi laki-laki yang dilahirkan istrinya. Setelah dirasa cukup, Prabu Kresna Dwipayana dan Resiwara Bisma mohon pamit kembali ke Kerajaan Hastina disertai para panakawan.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------











 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar