Sabtu, 30 Januari 2016

Sakri Krama

Kisah ini menceritakan perkawinan antara Batara Sakri dan Dewi Sati yang merupakan pertemuan antara silsilah Keluarga Saptaarga dengan keturunan Arjuna Sasrabahu. Dari perkawinan inilah nantinya secara turun-temurun akan lahir para Pandawa dan Kurawa.

Kisah ini adalah perbaikan dari kisah sebelumnya yang saya posting dengan judul “Sakri Krama, Parasara Lahir”, yang mana kali ini saya pisah menjadi dua judul.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra dan rekaman pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Nartosabdo, disertai sedikit pengembangan.


Kediri, 30 Januari 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


DEWI SATI BERMIMPI MENIKAH DENGAN BATARA SAKRI

Tersebutlah seorang raja bernama Prabu Partawijaya dari Kerajaan Gujulaha (yang juga terkenal dengan nama Kerajaan Tabelasuket) di Tanah Hindustan. Ia memiliki dua orang anak bernama Dewi Sati dan Raden Partana, yang keduanya lahir dari permaisuri bernama Dewi Sruti. Pada suatu malam Dewi Sati bermimpi menikah dengan seorang laki-laki tampan bernama Batara Sakri yang tinggal di Gunung Saptaarga. Begitu bangun dari tidurnya, ia segera menceritakan mimpinya ini kepada sang ayah.

Prabu Partawijaya ingin sekali mewujudkan impian putrinya itu. Maka, ia pun merundingkannya dengan para pembesar kerajaan, antara lain Patih Srenggabadra dan Resi Sabdamuni. Menurut keterangan Resi Sabdamuni, Gunung Saptaarga terletak di Pulau Jawa, di mana tinggal di sana dua orang petapa ayah dan anak yang sama-sama berilmu tinggi, yaitu Resi Manumanasa dan Resi Satrukem. Namun, Resi Sabdamuni tidak mengetahui ada hubungan apa antara kedua petapa itu dengan Batara Sakri.

Pada saat itulah tiba-tiba datang seorang raja bernama Prabu Sasrasudiki dari Kerajaan Parangrukma yang ingin meminang Dewi Sati sebagai istrinya. Mengingat Dewi Sati hanya ingin menikah dengan Batara Sakri dalam mimpinya, maka Prabu Partawijaya pun menolak lamaran tersebut. Hal ini membuat Prabu Sasrasudiki sangat marah dan undur diri sambil mengancam akan menghancurkan Kerajaan Gujulaha.

PRABU SASRASUDIKI MENGEPUNG KERAJAAN GUJULAHA

Setelah lamarannya ditolak, Prabu Sasrasudiki mengerahkan pasukan Parangrukma menyerang Kerajaan Gujulaha untuk memaksa supaya Dewi Sati diserahkan kepadanya. Pihak Gujulaha di bawah pimpinan Patih Srenggabadra dan Raden Partana pun menghadapi mereka.

Setelah bertempur cukup lama, pihak Parangrukma akhirnya berhasil mendesak pasukan Gujulaha. Patih Srenggabadra dan Raden Partana pun menarik mundur para prajurit memasuki benteng dan menutup rapat-rapat pintu gerbangnya.

Meskipun dalam keadaan terkepung, Prabu Partawijaya tetap berusaha mewujudkan impian putrinya, karena ia yakin justru pemuda bernama Batara Sakri itulah yang mampu mengalahkan Prabu Sasrasudiki. Ia pun mengutus Patih Srenggabadra berangkat ke Tanah Jawa untuk mencari dan menjemput Batara Sakri. Patih Srenggabadra mohon pamit berangkat melaksanakan tugas tersebut dengan menyamar sebagai rakyat jelata, supaya tidak tertangkap oleh pasukan Prabu Sasrasudiki.

RESI SATRUKEM MENGUSIR BATARA SAKRI

Sementara itu, di Padepokan Paremana yang terletak di salah satu puncak Gunung Saptaarga, Resi Satrukem dan Dewi Nilawati dihadap putra mereka, yaitu Batara Sakri. Resi Satrukem menasihati Batara Sakri untuk segera menikah membangun rumah tangga. Dijelaskan pula bahwa keluarga Gilingwesi dan Saptaarga secara turun-temurun kebanyakan beristrikan bidadari, misalnya Prabu Tritrusta dengan Dewi Widati, Resi Manumanasa dengan Dewi Retnawati, serta dirinya dengan Dewi Nilawati. Alangkah baiknya jika Batara Sakri juga beristrikan seorang bidadari untuk menggenapi tradisi keluarga. Apalagi enam tahun yang lalu Batara Sakri telah berjasa menjadi jago kahyangan menumpas Prabu Kunjanakresna dari Manimantaka, tentu Batara Indra tidak akan keberatan apabila ia menikah dengan bidadari.

Akan tetapi, Batara Sakri menolak saran ayahnya tersebut. Ia berterus terang tidak ingin menikah dengan bidadari karena ujung-ujungnya hanya membuat dirinya hidup menetap di puncak gunung. Baginya, akan lebih baik apabila ia bisa menikah dengan putri seorang raja.

Resi Satrukem tersinggung mendengar pendapat Batara Sakri. Ia pun mengusir putranya itu dan melarangnya pulang ke Gunung Saptaarga jika tidak dapat membuktikan ucapannya. Batara Sakri pun mohon pamit lalu berangkat meninggalkan padepokan dengan diiringi tangis ibunya.

BATARA SAKRI MEMBEBASKAN KERAJAAN GUJULAHA

Batara Sakri telah cukup jauh berjalan meninggalkan Gunung Saptaarga. Di tengah jalan ia bertemu Patih Srenggabadra yang datang ke Pulau Jawa untuk mencarinya. Setelah berkenalan, Patih Srenggabadra sangat gembira bisa bertemu dengan orang yang ia cari dan segera mengajaknya pergi ke Gujulaha untuk dinikahkan dengan Dewi Sati. Batara Sakri pun menerima ajakan tersebut karena ini bisa menjadi jalan baginya untuk mewujudkan cita-cita menikah dengan seorang putri raja.

Sesampainya di Kerajaan Gujulaha, Batara Sakri langsung menghadapi kepungan Prabu Sasrasudiki. Pertempuran sengit pun terjadi di antara mereka. Dengan cekatan, Batara Sakri berhasil membunuh raja Parangrukma itu menggunakan senjata Brahmakadali.

PERNIKAHAN BATARA SAKRI DAN DEWI SATI

Prabu Partawijaya menyambut kedatangan Batara Sakri dengan sukacita. Apalagi Dewi Sati juga membenarkan bahwa pria inilah yang ditemuinya di alam mimpi beberapa hari silam. Namun, Prabu Partawijaya lebih dulu bertanya, mengapa Batara Sakri yang seorang manusia biasa memakai gelar “batara” seperti layaknya seorang dewa? Batara Sakri pun menjawab bahwa gelar yang ia pakai adalah pemberian Batara Indra sebagai ungkapan terima kasih karena jasanya yang pernah menjadi jago kahyangan saat masih berusia lima belas tahun dulu.

Prabu Partawijaya semakin berkenan mendengarnya. Ia pun melamar Batara Sakri sebagai menantu untuk dinikahkan dengan Dewi Sati. Batara Sakri menerima perjodohan ini dengan penuh hormat. Maka, pada hari yang dianggap baik, diadakanlah upacara pernikahan antara dirinya dengan Dewi Sati di istana Gujulaha. Namun, upacara pernikahan ini dilaksanakan sangat sederhana karena Kerajaan Gujulaha sedang dilanda wabah penyakit.

Prabu Partawijaya bercerita bahwa ketika Patih Srenggabadra berlayar ke Tanah Jawa untuk mencari Batara Sakri, ibu kota Kerajaan Gujulaha dikepung pasukan Prabu Sasrasudiki. Karena tidak mampu menembus benteng pertahanan Gujulaha, Prabu Sasrasudiki pun mengirimkan tenung yang membuat seisi ibu kota Gujulaha dilanda wabah penyakit. Banyak penduduk kota dan prajurit yang jatuh sakit hingga meninggal, membuat Prabu Partawijaya cemas dan berniat ingin menyerah kalah kepada musuh. Akan tetapi, Resi Sabdamuni melarang karena ia mendapatkan petunjuk dewata bahwa wabah penyakit tersebut bisa reda apabila Prabu Partawijaya berguru kepada Resi Manumanasa di Gunung Saptaarga.

Ketika Prabu Partawijaya hendak berangkat ke Tanah Jawa, tiba-tiba Patih Srenggabadra datang bersama Batara Sakri. Keduanya langsung terjun ke medan perang di mana Batara Sakri berhasil menewaskan Prabu Sasrasudiki tersebut.

Kini raja Parangrukma itu telah tewas, tetapi tenung yang ia kirimkan masih belum reda. Prabu Partawijaya berniat melanjutkan niatnya pergi ke Tanah Jawa untuk meminta bantuan Resi Manumanasa. Batara Sakri diminta untuk tetap tinggal di istana menemani Dewi Sati, tidak perlu ikut mengantarkan ke sana, cukup Patih Srenggabadra saja yang menyertai kepergian Prabu Partawijaya.

PRABU PARTAWIJAYA BERTEMU RESI DWAPARA

Setelah berlayar menyeberangi lautan, Prabu Partawijaya dan Patih Srenggabadra akhirnya tiba di Pulau Jawa. Ketika sedang berjalan menuju ke Gunung Saptaarga, mereka bertemu Prabu Sadaka dan Patih Warsita dari Kerajaan Magada. Prabu Sadaka ini adalah sahabat lama Prabu Partawijaya. Mereka pun saling bertanya kabar dan ada keperluan apa berada di Pulau Jawa. Prabu Partawijaya menjawab bahwa dirinya ingin berguru kepada Resi Manumanasa di Gunung Saptaarga supaya bisa meredakan wabah penyakit yang kini melanda negerinya.

Mendengar itu, Prabu Sadaka menyarankan agar Prabu Partawijaya mengurungkan niat dan lebih baik membelokkan perjalanan menuju ke Padepokan Tegalbamban saja. Prabu Sadaka menjelaskan bahwa dirinya sudah beberapa bulan ini berguru kepada pemimpin padepokan tersebut yang bernama Resi Dwapara.

Karena terus-menerus dibujuk, Prabu Partawijaya akhirnya mengikuti saran Prabu Sadaka untuk bersama-sama pergi ke Padepokan Tegalbamban. Sesampainya di sana, mereka pun disambut ramah oleh Resi Dwapara dan putranya yang bernama Wasi Druwasa.

Resi Dwapara menjelaskan bahwa dirinya adalah keponakan Resi Manumanasa dari pihak ibu. Mengenai ilmu kesaktian, ia mengaku lebih sakti daripada pamannya di Gunung Saptaarga tersebut. Prabu Partawijaya tidak percaya. Maka, Resi Dwapara pun pamer kehebatan dengan cara menghentakkan tubuh Wasi Druwasa hingga terlempar jauh, namun segera kembali lagi dalam waktu singkat begitu namanya dipanggil.

Prabu Partawijaya masih tidak percaya. Resi Dwapara lalu memanggil pembantunya yang membawakan hidangan perjamuan. Begitu mendekat, Resi Dwapara langsung menusuk pembantunya itu hingga tewas. Namun, begitu ia memanggil namanya, si pembantu langsung hidup kembali. Resi Dwapara juga memanggil ayam panggang yang dihidangkan. Seketika, ayam panggang itu pun hidup kembali lengkap dengan bulunya.

Prabu Partawijaya sangat kagum melihat kesaktian Resi Dwapara. Maka, ia pun membatalkan kepergiannya ke Gunung Saptaarga dan memohon supaya Resi Dwapara membantu meredakan wabah penyakit yang kini melanda Kerajaan Gujulaha.

PRABU PARTAWIJAYA DITUGASI MEMBUBARKAN PADEPOKAN SAPTAARGA

Resi Dwapara mengaku mudah sekali untuk meredakan wabah penyakit akibat tenung yang dikirimkan Prabu Sasrasudiki, karena raja tersebut juga pernah menjadi muridnya. Namun, ia mengajukan syarat, yaitu Prabu Partawijaya harus berangkat ke Gunung Saptaarga untuk membunuh Resi Manumanasa dan Resi Satrukem. Rupanya dalam hati Resi Dwapara masih menyimpan dendam atas kekalahannya dalam memperebutkan Dewi Nilawati dulu.

Prabu Partawijaya mematuhi dan segera berangkat menuju ke Gunung Saptaarga bersama Patih Srenggabadra. Di tengah jalan mereka bertemu Resi Satrukem dan Janggan Smara yang sedang berkelana mencari ke mana perginya Batara Sakri. Begitu mengetahui maksud dan tujuan Prabu Partawijaya yang ingin membunuhnya, Resi Satrukem pun mempersilakan raja Gujulaha itu untuk menyerang.

Prabu Partawijaya segera bertanding melawan Resi Satrukem. Keduanya pun bertarung sengit. Resi Satrukem mencela Prabu Partawijaya yang seorang raja tetapi bertarung secara beringas seperti layaknya seorang raksasa. Tiba-tiba Prabu Partawijaya berubah wujud menjadi raksasa akibat ucapan Resi Satrukem yang mengandung kutukan itu. Prabu Partawijaya pun bertarung semakin ganas dan semakin bernafsu ingin membunuh Resi Satrukem.

Resi Satrukem dengan tenang menghadapi serangan lawan. Ia pun mencela Prabu Partawijaya yang menyeruduk-nyeruduk seperti seekor celeng. Seketika wujud Prabu Partawijaya pun berubah dari raksasa menjadi babi hutan. Ia menjadi sangat sedih dan menangis meratap-ratap. Satu per satu nama anggota keluarganya disebut, mulai dari sang permaisuri Dewi Sruti, lalu anak-anaknya, yaitu Dewi Sati dan Raden Partana, hingga sang menantu, yaitu Batara Sakri.

Resi Satrukem heran mengapa putranya juga ikut-ikutan disebut namanya. Patih Srenggabadra maju memohonkan ampun untuk rajanya, lalu ia bercerita bahwa Batara Sakri telah menjadi menantu Prabu Partawijaya dan kini tinggal di Kerajaan Gujulaha. Resi Satrukem sangat senang mengetahui kabar putranya yang telah lama pergi itu ternyata berhasil memenuhi cita-citanya. Ia lalu membebaskan Prabu Partawijaya dari kutukan sehingga sang besan pun kembali ke wujud manusia.

Prabu Partawijaya sangat menyesali perbuatannya telah menuruti ucapan pendeta jahat bernama Resi Dwapara. Ia pun memohon kepada Resi Satrukem untuk mengantarkannya meminta maaf kepada Resi Manumanasa.

PRABU PARTAWIJAYA MENCERITAKAN LELUHURNYA

Resi Manumanasa di Gunung Saptaarga menerima kedatangan Prabu Partawijaya dan Patih Srenggabadra yang diantarkan Resi Satrukem dan Janggan Smara. Sungguh ajaib, sebelum Prabu Partawijaya bercerita, Resi Manumanasa sudah dapat menebak kalau ia adalah raja Gujulaha yang pada awalnya ingin berguru ke Gunung Saptaarga tapi kemudian bimbang dan akhirnya berguru kepada Resi Dwapara di Padepokan Tegalbamban. Prabu Partawijaya sangat malu dan menyesali kesalahannya, tidak dapat membedakan mana yang baik, mana yang buruk.

Resi Manumanasa pun menjelaskan bahwa Resi Dwapara adalah keponakannya sendiri, yaitu putra Dewi Kaniraras dengan suami kedua bernama Prabu Durapati raja Duhyapura. Dahulu kala Resi Dwapara pernah berguru kepadanya di Gunung Saptaarga. Hubungan baik tersebut akhirnya putus setelah Resi Dwapara kalah bersaing dengan Resi Satrukem dalam memperebutkan seorang bidadari bernama Dewi Nilawati. Dewi Nilawati kemudian menjadi istri Resi Satrukem dan melahirkan Batara Sakri.

Resi Dwapara lalu pergi ke Desa Gandara dan menikahi Dewi Maestri, putri sulung Arya Paridarma (adik bungsu Resi Manumanasa). Dari pernikahan itu lahirlah Wasi Druwasa. Namun, Dewi Maestri sendiri meninggal karena pendarahan. Resi Dwapara lalu membawa bayi Wasi Druwasa pergi meninggalkan Desa Gandara. Di tengah jalan ia bertemu seorang janda bernama Ken Dyapi yang sanggup mengasuh bayi Wasi Dwapara. Demikianlah, Ken Dyapi lalu ikut serta menemani perjalanan Resi Dwapara hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah tempat bernama Tegalbamban dan mendirikan padepokan di sana.

Setelah menceritakan riwayat Resi Dwapara, Resi Manumanasa ganti bertanya tentang silsilah Prabu Partawijaya. Prabu Partawijaya pun bercerita bahwa dirinya adalah keturunan seorang raja titisan Batara Wisnu, bernama Prabu Arjuna Sasrabahu dari Kerajaan Mahespati di tanah seberang. Setelah Prabu Arjuna Sasrabahu meninggal dalam pertempuran melawan Resi Ramabargawa, takhta Kerajaan Mahespati pun diwarisi putranya yang bergelar Prabu Rurya. Setelah Prabu Rurya meninggal, takhta diwarisi putranya yang bernama Prabu Partawirya. Adapun Prabu Partawirya memiliki adik perempuan bernama Dewi Sumitra yang menjadi istri Prabu Dasarata raja Ayodya. Dewi Sumitra inilah yang melahirkan Raden Laksmana, yang setia menemani kakak tirinya, yaitu Prabu Sri Rama dalam perang melawan Prabu Rahwana raja Alengka.

Prabu Partawirya lalu memindahkan pusat Kerajaan Mahespati ke Taman Sriwedari, yaitu taman indah peninggalan Prabu Arjuna Sasrabahu. Maka, sejak itulah Kerajaan Mahespati berganti nama menjadi Kerajaan Sriwedari. Setelah Prabu Partawirya meninggal, takhta Sriwedari diwarisi putranya yang bernama Prabu Partanadi. Kemudian Prabu Partanadi digantikan oleh putranya yang bernama Prabu Sandela.

Prabu Sandela ini seorang mandul yang tidak bisa mempunyai anak. Siang malam ia berdoa memohon kepada dewata agar bisa disembuhkan dari kemandulan. Akhirnya, ia pun mendapat petunjuk supaya berguru kepada Resi Wasusarma di Padepokan Gujulaha.

Resi Wasusarma menerima Prabu Sandela dan menjadikannya sebagai murid. Ia lalu menyerahkan segenggam rumput ilalang bernama Suket Ditpwa sebagai sarana mengobati kemandulan Sang Prabu. Resi Wasusarma pun bercerita tentang asal-usul rumput ilalang tersebut. Dahulu kala, ayah Resi Wasusarma yang bernama Resi Wasukarma adalah pendeta yang mengabdi kepada Prabu Sri Rama di Kerajaan Ayodya-Pancawati. Prabu Sri Rama pun menyerahkan kedua putranya yang bernama Raden Batlawa dan Raden Kusiya supaya berguru kepada Resi Wasukarma.

Pada suatu hari Raden Kusiya pulang ke istana karena tidak betah tinggal di padepokan. Prabu Sri Rama marah dan mengantarkan Raden Kusiya supaya kembali ke padepokan. Sementara itu, Resi Wasukarma ketakutan dan mengira Raden Kusiya telah hilang. Ia pun menganyam rumput ilalang menjadi boneka, lalu berdoa supaya boneka rumput tersebut dapat berubah menjadi kembaran Raden Kusiya. Doa tersebut dikabulkan oleh Yang Mahakuasa. Seketika terciptalah Raden Kusiya palsu dan sangat mirip dengan aslinya, sampai-sampai Raden Batlawa pun tidak menyadarinya.

Tiba-tiba datanglah Prabu Sri Rama bersama Raden Kusiya yang asli. Resi Wasusarma sangat ketakutan dan terlanjur malu. Ia pun mengumumkan akan membakar kedua Raden Kusiya, dan yang asli pasti akan tetap selamat. Prabu Sri Rama seketika teringat peristiwa di Kerajaan Alengka di mana ia pernah membakar istrinya, yaitu Rekyanwara Sinta untuk membuktikan kesuciannya selama ditawan Prabu Rahwana. Ternyata Rekyanwara Sinta selamat dan tidak hangus sama sekali. Maka, Prabu Sri Rama pun setuju jika Raden Kusiya yang kini berjumlah dua itu dibakar. Ia yakin putranya yang asli akan tetap selamat.

Raden Kusiya sendiri sama sekali tidak takut. Dengan penuh percaya diri ia masuk ke dalam kobaran api dan keluar dalam keadaan utuh. Sementara itu, Raden Kusiya palsu terbakar dan berubah kembali menjadi rumput ilalang. Atas peristiwa itu, Prabu Sri Rama pun mengganti nama padepokan tempat tinggal Resi Wasukarma menjadi Gujulaha, yang bermakna “tapal rumput”, atau lama-lama terucap menjadi Tabelasuket.

Demikianlah, Resi Wasusarma mengakhiri ceritanya, bahwa Suket Ditpwa yang kini dipegang Prabu Sandela adalah rumput ilalang yang dulu berasal dari sisa pembakaran Raden Kusiya palsu. Prabu Sandela lalu memakan Suket Ditpwa itu dan kemudian pulang menemui istrinya yang bernama Dewi Nadi.

Dewi Nadi pun mengandung setelah peristiwa tersebut. Hingga akhirnya lahirlah seorang putra yang diberi nama Raden Sandisarma, yaitu singkatan dari nama Sandela-Nadi-Wasusarma.

Setelah dewasa, Raden Sandisarma diperintahkan Prabu Sandela untuk berguru kepada Resi Wasusarma di Padepokan Gujulaha. Raden Sandisarma sangat betah tinggal di padepokan hingga tidak mau pulang ke istana Sriwedari. Maka, ketika Prabu Sandela dan Resi Wasusarma sama-sama meninggal, Raden Sandisarma tidak mau menjadi raja di Sriwedari, tetapi memindahkan ibu kota ke Padepokan Gujulaha dan membangunnya menjadi kerajaan. Maka, sejak itulah Kerajaan Sriwedari yang asalnya dari Kerajaan Mahespati berganti menjadi Kerajaan Gujulaha atau Tabelasuket. Raden Sandisarma pun menjadi raja, bergelar Prabu Partawijaya.

Demikianlah riwayat Prabu Partawijaya yang memiliki nama asli Raden Sandisarma tersebut. Resi Manumanasa sangat berkenan mendengarnya dan ia pun mengajari Prabu Partawijaya ilmu kesaktian untuk bisa meredakan wabah penyakit akibat tenung yang melanda Kerajaan Gujulaha. Setelah memahami semuanya, Prabu Partawijaya segera mohon pamit kembali ke negerinya.

KEMATIAN RESI DWAPARA

Resi Dwapara di Padepokan Tegalbamban sangat marah mendengar berita bahwa Prabu Partawijaya telah tunduk kepada Resi Manumanasa dan kini kembali ke Kerajaan Gujulaha. Ia pun memerintahkan Prabu Sadaka dan Patih Warsita untuk menghimpun pasukan Magada. Mereka lalu berangkat menggempur Gunung Saptaarga.

Begitu pasukan tersebut datang dan membuat keributan, Resi Manumanasa segera memerintahkan pengikutnya, yaitu Putut Supalawa untuk bertindak. Putut berwujud kera putih itu segera mengerahkan kesaktiannya berupa Aji Bayurota. Dari tubuhnya muncul angin topan yang menderu-deru menghempaskan tubuh Prabu Sadaka dan Patih Warsita beserta semua prajurit Magada entah ke mana.

Sementara itu, Resi Dwapara masih bertahan dan bertarung melawan Resi Satrukem. Meskipun ilmu Resi Dwapara maju pesat dalam beberapa tahun ini, namun tetap saja ia tidak mampu menandingi kesaktian Resi Satrukem. Ia akhirnya tewas di tangan sepupunya itu. Jasadnya musnah dan suaranya berkumandang di angkasa bahwa kelak ia akan lahir kembali menjadi seorang pangeran berwatak licik dari Kerajaan Gandaradesa, yang akan mengadu domba keturunan Resi Satrukem hingga terpecah belah. Kelak akan ada keturunan Resi Satrukem, yaitu para Pandawa dan Kurawa yang bersaudara sepupu tetapi saling bermusuhan, seperti permusuhan antara Resi Satrukem dan Resi Dwapara.

Sementara itu, Wasi Druwasa yang ketakutan karena melihat ayahnya tewas segera melarikan diri sejauh-jauhnya meninggalkan Gunung Saptaarga. Keadaan kini kembali aman dan tenteram.

Resi Dwapara lawan Resi Satrukem

(Resi Dwapara kelak akan lahir kembali sebagai Patih Sangkuni, putra Prabu Suwala raja Gandaradesa. Patih Sangkuni inilah yang kemudian mengadu domba keluarga Pandawa dan Kurawa sehingga meletus perang besar Bratayuda.)
 
------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya











2 komentar:

  1. Matursembah nuwun....atas ceritanya..bisa nambah pengetahuan di jagad pewayangan...✌✌cerita cerita ini memang tidak pernah di gelar dalam pagelaran wayang tapi sangat perlu untuk menambah pengetahuan mengenai silsilah leluhur pandawa dan kurawa...

    BalasHapus